Ibn. Athaillah : "Di antara tanda keberhasilan pada akhir perjuangan adalah berserah diri kepada Allah sejak permulaan "
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Antara "Negeri Lima Menara" dan Saya
21 Mei 2011 pukul 08:00 WIB
Ketika Anak Kedua Lahir
14 Mei 2011 pukul 10:20 WIB
Mengajar Anak Membaca, Sulit?
9 April 2011 pukul 12:00 WIB
Mengapa Harus Satu Agama?
18 Maret 2011 pukul 09:00 WIB
Raihlah Hatinya, Bunda
26 Februari 2011 pukul 10:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 23 Juli 2011 pukul 10:30 WIB

Seputar Pendidikan Anak Kita

Penulis : Hifizah Nur

Beberapa kali saya berdiskusi dengan teman-teman yang ada di Jepang tentang pendidikan anak ini. Pendapat mereka cukup beragam. Ada yang lebih memilih untuk menyekolahkan anaknya di sekolah Jepang, dengan alasan kebiasaan-kebiasaan menjalankan perintah dalam berislam murni akan timbul dalam diri mereka sendiri. Ia membandingkan dengan anak-anak yang terbiasa hidup dalam suasana Islami, misalnya disekolahkan di sekolah Islam, memakai jilbab, harus shalat, bisa membaca Al-Qur'an, dan menjalankan puasa, karena lingkungan mewajibkan sang anak melakukan itu. Akibatnya tidak jarang perilaku 'taat' yang tampil lebih karena kewajiban dari lingkungannya bukan atas dasar kesadaran. Menurut saya, ada benarnya juga, tapi tidak semua benar, loh kok?

Saya sendiri pernah merasakan hidup di lingkungan seperti itu. Bersekolah di sekolah Islam sejak kecil, memakai jilbab di sekolah dan melakukan kewajiban-kewajiban agama. Alhamdulillah orangtua mengiringinya dengan memberikan contoh yang sama Islaminya di rumah, ditambah dengan kemesraan lingkungan keluarga dan diskusi-diskusi yang hangat antar sesama anggota keluarga tentang berbagai permasalahan hidup, cukup besar pengaruhnya dalam menanamkan semangat keislaman dalam diri saya.

Jadi kangen dengan almarhum papa yang selalu menceritakan kisah nabi dan rasul sebelum tidur. Kangen juga dengan mama yang selalu mengajak seluruh anak-anaknya ngobrol tentang masalah apa pun di malam-malam setelah beberapa tahun meninggalnya papa. Dari hasil ngobrol-ngobrol itulah yang bisa mengkontruksi pemikiran saya dan juga kakak dan adik saya dalam menghadapi masalah-masalah kehidupan. Dan yang lebih penting, membuat saya dan kakak serta adik saya benar-benar merasa memiliki keluarga yang sesungguhnya.

Seorang teman lain lebih memilih untuk membentengi aqidah anaknya dengan menyekolahkannya di sekolah Indonesia, yang kebanyakan muridnya memiliki agama yang sama. Alasannya agar sang anak tidak asing dengan kebiasaan-kebiasaan agamanya sendiri. Terutama aqidahnya selamat dari pengaruh-pengaruh syirik yang bertebaran dalam kebiasaan hidup orang Jepang. Juga terhindar dari pengaruh 'ijime' (dikerjain) yang sudah mentradisi dalam kehidupan pertemanan anak-anak Jepang. Kalau mereka melihat perbedaan yang ada pada teman sebayanya, pasti akan dijahili.

That makes sense juga buat saya. Masalah ini memang cukup menjadi momok yang menakutkan untuk orang asing yang tinggal di Jepang. Terutama orang Islam, yang dalam tradisinya mewajibkan ummatnya untuk menjalankan syari'atnya secara terbuka, misalnya kewajiban memakai jilbab untuk muslimah. Mau enggak mau jelas terlihat kalau orang itu muslim hanya dilihat dari pakaiannya. Seperti tulisan-tulisan saya sebelumnya, membutuhkan mental yang tangguh untuk melawan arus perbedaan yang begitu kuat di negri sakura ini.

Saya pernah membaca buku tentang orangtua yang mendidik anaknya di Amerika (Parenting in The West by Dr. Ekram and Mohamed Rida Beshir). Dalam buku itu mereka menjabarkan pengalamannya dalam mendidik anak di lingkungan yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka juga menuliskan kiat-kiat mendidik anak dalam menghadapi perbedaan tersebut. Teman saya juga pasti sudah membaca buku ini.

Kesan saya setelah membaca buku itu, memang perlu kekuatan jiwa dan kematangan psikologis dari orangtua, juga pemahaman yang mendalam tentang pendidikan anak, agar bisa sukses menurunkan nilai-nilai Islami kepada anak. Mengajarkannya untuk menginteraksikan nilai-nilai Islam tersebut dengan lingkungannya. Saya juga masih meragukan kemampuan saya dalam hal ini.

Akhirnya saya mengambil kesimpulan, sebagai orangtua memang kita harus memilih sesuai dengan kemampuan kita dalam mendidik anak-anak kita. Kalau merasa sanggup sendirian mendidik anak dalam menghadapi perbedaan lingkungan, silahkan melakukannya sendiri. Bila merasa tidak sanggup, butuh lingkungan pendamping yang bisa terus-menerus menjaga aqidah anak dari serangan buruk lingkungan, silahkan mengambil jalan aman, menempatkan anak di lingkungan Islami. Tentu tetap memberi contoh, mengajarkan hal yang sama dengan apa yang disampaikan di sekolah dengan di rumah. Semua terpulang pada kemampuan kita mengukur kekuatan diri sendiri dalam mendidik anak-anak kita.

Wallahu a'lam bishshawab.

http://hifizahn.multiply.com

Suka
"sun" menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Angga Ciptadi | Karyawan
Sering-sering maen ke web ini, biar terus dapat insiprasi + motivasi dalam menjalani hari. Mudah-mudahan berkah.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1105 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels