QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://hendi.kotasantri.com
Bergabung
23 Maret 2009 pukul 18:10 WIB
Domisili
Subang - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
hendi_ruhe@yahoo.com
roehendie@gmail.com
hendi_ruhe@yahoo.com
Tulisan Ruhendi Lainnya
Aku Ingin Menikah
15 Maret 2011 pukul 08:45 WIB
Ucapan yang Ditunggu
17 Januari 2011 pukul 16:15 WIB
Beruntung Aku Sakit
9 November 2010 pukul 16:00 WIB
Utang dan Rezeki yang Tidak Disangka
21 Oktober 2010 pukul 16:09 WIB
Keceriaanmu Kebahagiaan Kami
8 Oktober 2010 pukul 15:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 28 Mei 2011 pukul 11:45 WIB

Dekat dengan Anak

Penulis : ruhendi

Ungkapan buah hati adalah penyejuk jiwa memang benar adanya. Seberat apapun pekerjaan, serumit apapun rintangan, wajah lugu buah hati serasa menjadi obatnya. Tak peduli berapa usia si buah hati. Sebab, dengan senyuman kecilnya saja, seakan menusuk relung jiwa dengan penuh kebahagiaan. Damai, tenang, indah saat bersamanya.

Aku yang bekerja di luar kota, jarang sekali bertemu dengannya. Hanya seminggu sekali kami berkesempatan bercengkrama, bercanda gurau. Maklum, tiap Sabtu pagi aku baru tiba di rumah dan pada Minggu siang kembali lagi ke luar kota. Dua hari itu benar-benar kupakai untuk menghabiskannya bersama keluarga tercinta.

Meski terkadang, saat anak perempuanku diajak bermain, ia selalu rewel dan seakan nggak betah ketika kugendong. Bisa dimaklumi karena keberadaanku jarang sekali di dekatnya. Ia terbiasa dengan ibunya dan neneknya yang sering mengajak serta mengawasinya saat bermain atau sekadar menggendong untuk mengakhiri tangisnya bila ditinggal ibunya shalat.

Aku merasakan tak begitu dekat dengannya. Padahal, usianya kini sudah menginjak sembilan bulan. Sejenak, muncul perasaan sedih dan bersalah. Sebagai ayahnya, kenapa tak bisa dekat dengan anak semata wayangku. Hingga aku sering berpikir bagaimana caranya agar ia bisa akrab dan dekat denganku.

Suatu malam saat anak sudah tertidur, kuajak istriku berbincang supaya aku dekat dengan anakku. Akhirnya, ia menganjurkan agar ketika ku datang dari luar kota dan tiba di rumah, langsung mengakrabkan diri menyambut dan menggendongnya.

“Menurut mama, sebaiknya hari Sabtu luangkan banyak waktu untuk dede. Seharian bersamanya dengan mengajaknya bermain, menggendong, dan lain sebagainya,” ujar Istriku.

“Iya, ma, ayah akan mencobanya,” balasku.

***

Sabtu pagi aku sudah tiba di depan rumah. Anakku yang sedang bermain di atas sepeda bulat roda tiga ditemani neneknya, ia menatapku tajam seolah aku orang asing dan tidak dikenalinya. Kuucapkan salam dan kubiasakan ia mencium tanganku. Tanpa harus istirahat dulu, aku langsung menggendongnya, melepas rasa kangenku dengan memeluknya erat dan mengajaknya jalan-jalan di sekitar rumah. Kami bermain motor-motoran dengan mendudukkannya di atas motor yang baru saja kupakai.

Siang hari setelah shalat dzuhur, ku mengajak anak dan istriku jalan-jalan keliling kota, sekadar mencari makan dengan suasana lain di luar rumah. Ketika anak selesai mandi di sore hari, aku menghampirinya, kubentangkan handuk dan menutup badannya yang basah serta mengelapnya dengan lembut. Kutimang-timang ia perlahan dan kuajak bercermin. Di depan cermin, terlihat ia tersenyum senang.

Saat anakku sedikit rewel digendong ibunya, kutawarkan diri menggendongnya. Sepertinya karena kecapean setelah bermain tadi siang. Dan rupanya anakku mengantuk, badannya meronta-ronta nggak betah dalam gendongan ibunya. Kuulurkan kedua tanganku dan mengajaknya ikut denganku, terlihat ia mau dan ku menggendongnya.

Bolak-balik ku berjalan di dalam rumah sambil menggendongnya dan satu tanganku memegang handphone, berharap tangisannya segera terhenti. Aku mengikuti syair lagu anak-anak A-Ba-Ta-Tsa dari handphone yang kupegang, kugerakkan badan dan kakiku mengikuti irama lagu. Tangan kanan anakku menari-nari, seakan ia telah mengerti dengan nada dari sebuah lagu. Membiasakan dan mengenalkannya dengan lagu yang pas untuk anak kecil serta hal-hal yang Islami sejak dini.

Sambil kuusap-usap punggungnya, tidak berselang lama tangisannya terhenti dan ia tertidur di sebelah kiri pundakku. Bergetar hati ini dan merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat ia bisa tertidur dalam gendonganku. Istriku mencoba mengajaknya lepas dari gendonganku untuk dipindah tidur di kasur, ia merengek tidak mau. Ia merasa nyaman di pundakku. Terlihat pipinya yang berisi, mulutnya yang terkatup, wajahnya yang polos, serta matanya yang tertutup rapat. Kucium keningnya, tampak ia damai, tenang dalam tidurnya. Subhanallah…

***

Ternyata, setelah beberapa kali mencoba berbagai cara supaya dekat dengan anakku, alhamdulillah berhasil dan ia kian akrab. Kalau dulu ia menangis saat kugendong, kini terbalik. Ia selalu saja meminta untuk digendong. Ia tak lagi rewel. Saat akan berangkat kerja, anakku ingin digendong dulu. Sekarang ia sudah mengerti dengan sosok ayah tercintanya. Kedekatan itulah yang membuatku semakin tak ingin jauh darinya.

Pertemuanku yang kurang intens dengan anak dan istriku, sehingga menimbulkan rasa kangen yang memuncak. Rasanya, ingin selalu bertemu setiap hari, tapi jarak yang memisahkan. Rindu inilah yang selalu mendorongku untuk tetap semangat demi masa depannya.

Ya Allah, hanya pada-Mu kami memohon. Himpunkan kami dalam rumah tangga yang paling baik, penuh kasih sayang dan kebahagiaan. Lindungi mereka saat kami jauh dan memberi kesabaran saat aku menjemput rizki-Mu. Amin…

Suka
Laila Dwi S, Nisya Anisya, "sun", dan Puspita menyukai tulisan ini.

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan ruhendi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elis Khatizah | Mahasiswa Pasca Sarjana
Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1010 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels