|
Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
|
|
|
http://ilarizky.blogspot.com |
|
http://facebook.com/ila.rizky |





Sabtu, 2 April 2011 pukul 11:11 WIB
Penulis : Ila Rizky Nidiana
Ternyata, kita -yang dulu pernah kecil dan kini sudah dewasa- memang sangat membutuhkan sosok ayah. Tentunya, untuk memberikan “sentuhan” berbeda bagi kehidupan kita.
Meski secara umum ayah dan ibu sama berperannya dalam perkembangan anak, namun “sentuhannya” yang membuat sedikit perbedaan.
1. Menumbuhkan perasaan percaya diri dan kompetensi pada anak melalui kegiatan bermain yang lebih “kasar” dan melibatkan aktivitas fisik, baik di dalam maupun di luar ruang. Misal; berguling, mengayuh sepeda, mengayun bayi, “lomba” merangkak, dorong yuk dorong, mengenalkan olahraga, dan sebagainya.
2. Menumbuhkan hasrat akan prestasi pada anak melalui kegiatan pengenalan berbagai jenis pekerjaan dan kisah tentang cita-cita.
Misal; lewat dongeng tentang profesi tersebut, mengajak ke kantor, diskusi tentang tokoh idola, dan sebagainya.
3. Mengajarkan tentang peran jenis kelamin laki-laki, bagaimana harus bertindak sebagai laki-laki dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari laki-laki. Misal; melibatkan anak dalam aktivitas ayah di rumah, seperti membetulkan atap yang bocor, membersihkan garasi, menginstalasi komputer, dan sebagainya.
Peran ayah seperti tersebut di atas sedikit banyak mendorong anak untuk membuka pintu kesuksesannya. Ayah mendorong anak untuk tumbuh mandiri, percaya diri, berprestasi, bercita-cita tinggi, dan seterusnya.
Tak ada perbedaan yang spesifik pada pengaruh peran ayah terhadap anak laki-laki maupun anak perempuan. Keduanya akan menyerap semangat ayah, sehingga hal-hal positif yang diharapkan dalam pertumbuhannya dapat terwujud.
Sedangkan peran ibu adalah;
1. Menumbuhkan perasaan mencintai dan mengasihi pada anak melalui interaksi yang jauh lebih melibatkan sentuhan fisik dan kasih sayang.
2. Menumbuhkan kemampuan berbahasa pada anak melalui kegiatan-kegiatan bercerita dan mendongeng, serta melalui kegiatan yang lebih intim, yakni berbicara pada anak.
3. Mengajarkan peran jenis kelamin perempuan, tentang bagaimana harus bertindak sebagai perempuan dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari seorang perempuan.
Sama dengan ayah, tidak ada perbedaaan spesifik peran ibu terhadap anak laki-laki atau perempuan. Semua perasaan cinta, dan kasih sayang ibu akan diserap oleh anak. Mereka akan belajar bagaimana menjadi perempuan, melihat/memperlakukan perempuan, berbagi cinta dan kasih sayang.
Baik ayah maupun ibu, keduanya berperan vital dalam tumbuh kembang anak yang optimal. Keduanya harus bekerja sama dan saling melengkapi. Boleh jadi ayah mempunyai waktu terbatas, namun itu bukan alasan untuk tidak memberikan perhatian kepada anak. Nah, agar peran ayah berhasil, maka keteladanan menjadi hal utama. Lewat keteladananlah, anak bisa menjadikan ayahnya sebagai model identifikasi. Tanpa keteladanan, nilai apapun yang ingin ditanamkan hanya akan sia-sia.
Referensi : Tabloid Nakita - Sepetember 2009
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ila Rizky Nidiana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.