|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Sabtu, 28 Agustus 2010 pukul 17:10 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Wahai orang-orang yang beriman, Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6)
Alangkah indah menjadi muslim yang jelas arah dan tujuan hidupnya. Aturan-aturan dalam Islam, ibarat peta dan rambu-rambu yang membuat kita tidak tersesat di perjalanan hidup ini.
Tujuan tertingginya adalah syurga yang penuh dengan kenikmatan yang abadi, serta bertemu langsung dengan Sang Pencipta Alam ini. Tujuan duniawinya adalah kebahagiaan hidup, berupa ketenangan, keteraturan, dan keseimbangan antara akal, fisik, dan jiwa.
Peta yang menjadi pegangan adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah, dengan sejarah islam yang sudah terbukti pernah menjadi salah satu peradaban terbaik di dunia, sepanjang masa.
Salah satu rambu kehidupan yang dijumpai dalam Al-Qur’an dan hadits adalah bagaimana Islam memberi contoh tentang cara mendidik anak. Kisah Nabi-nabi dan orang-orang shaleh terdahulu bisa menjadi rujukan kita. Misalnya kisah Luqmanul Hakiim, yang nasihatnya kepada anak-anaknya terabadikan dalam Al-Qur’an. Kisah Nabi Ya’qub dengan Nabi Yusuf, Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail, Nabi Zakariya dan Nabi Yahya, serta Nabi Daud dan Nabi Sulaiman. Semuanya bisa menjadi contoh besarnya peran ayah dalam mentransfer nilai-nilai kebaikan kepada anak-anaknya.
Sedangkan dalam hadits-hadits Rasulullah, peranan ibu sangat besar dalam merawat dan mendidik anak-anak di kala mereka masih kecil. Kelembutan dan kasih sayang ibu menumbuhkan perasaan nyaman, aman, dan meneguhkan langkah-langkah mereka menapaki perjalanan hidup di usia-usia selanjutnya. Untuk itu diperlukan persiapan yang matang dalam menyambut kehadiran sang buah hati. Idealnya persiapan ini di mulai jauh sebelum anak-anak lahir.
Bentuk persiapan yang perlu dilakukan agar bisa menjadi orangtua yang baik adalah sebagai berikut :
1. Persiapan kematangan intelektual. Memahami ilmu-ilmu Islam seperti Aqidah, Akhlak, Ibadah, dan Al-Qur’an serta shirah perjalanan hidup Rasulullah. Ilmu ini menjadi bekal kita untuk mentransfer nilai-nilai kehidupan kepada anak-anak. Bekal ini membentuk cara pandang kita dalam menyikapi berbagai persoalan hidup. Ini pulalah yang menjadi bekal dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan kritis dari anak-anak kita.
Mengapa kita muslim? Allah itu seperti apa? Mengapa tidak terlihat? Mengapa kita harus shalat dan puasa? Mengapa orang Islam tidak boleh makan babi? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang akan kita temui dari anak-anak kita. Semuanya membutuhkan jawaban yang jelas yang lahir dari pemahaman terhadap apa yang kita lakukan sebagai muslim. Menjawabnya Insya Allah akan menumbuhkan kepercayaan dan rasa cinta kepada Islam dalam diri anak-anak kita.
Selain itu, ilmu yang perlu dipelajari oleh orangtua adalah tentang tahap-tahap perkembangan anak. Bagaimana tahap perkembangan bayi, usia balita, anak-anak, remaja, dan dewasa. Bagaimana cara menghadapi anak-anak di setiap tahap tersebut. Bekal ini, meskipun tidak selamanya sesuai dengan teori, minimal orang tua tidak bersikap reaktif ketika menghadapi perilaku anak yang menguji kesabaran orangtua.
Lalu diperlukan juga ilmu tentang kesehatan. Tentang makanan bergizi, kiat-kiat menjaga kebersihan dan kesehatan di rumah kita. Kesehatan fisik dan lingkungan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan anak secara optimal.
2. Persiapan kematangan psikologis. Mempersiapkan perangkat-perangkat untuk menjadi orangtua pendidik perlu dilakukan. Perangkat-perangkat itu adalah sifat penyabar dan tidak pemarah, lemah lembut dan penuh rasa kasih sayang kepada anak-anak. Selain itu perlu juga kemampuan memilih yang termudah di antara dua perkara selama tidak berdosa. Lalu memiliki sifat moderat atau tidak berlebih-lebihan.
Kalau persiapan ilmu diperoleh dengan belajar, maka kematangan psikologis hanya bisa dilakukan dengan latihan. Latihan menahan marah, latihan bersabar dalam menghadapi masalah, latihan melembutkan hati dalam menghadapi berbagai karakter manusia yang kita temui dalam perjalanan hidup kita, merupakan modal dalam menghadapi jiwa anak-anak yang masih belum tahu mana yang benar dan mana yang salah. Latihan memasukkan nilai-nilai Islam itu ke dalam diri dan mengeluarkannya dalam bentuk akhlak yang baik. Latihan sifat-sifat terpuji ini perlu waktu yang lama sampai akhirnya bisa menjadi karakter diri.
3. Persiapan Kematangan Ruhiyah. Kematangan Ruhiyah ini terbangun lewat pembiasaan aktivitas ibadah. Shalat Fardhu dan sunnah, memperbanyak tilawah Al-Qur’an, dan banyak berdo'a agar Allah membimbing anak-anak kita menjadi anak yang shaleh. Hal ini membuat kita tidak mudah putus asa dalam menghadapi masalah dalam mendidik anak-anak kita.
Ini adalah kondisi ideal dalam mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang baik. Hanya dengan rahmat Allah saja seseorang bisa mencapai kondisi ideal seperti ini. Banyak orang yang tersadar harus memiliki sifat-sifat seperti ini justeru ketika sudah menjadi orangtua, atas hidayah Allah. Namun tidak ada kata terlambat dalam mendidik anak. Menjadi orangtua berarti pembelajaran seumur hidup. Tidak ada kata putus asa selama kita terus berusaha untuk bisa menjadi orangtua yang baik.
Saat ini, sarana belajar untuk menajdi orangtua yang baik banyak bisa didapat. Milis-milis, majelis-majelis ta’lim, training orangtua efektif, dan sebagainya, yang bisa menjadi wadah kita untuk saling sharing dalam menghadapi permasalahan-permasalahn dalam mendidik anak.
Insya Allah, usaha kita tidak anak sia-sia untuk mendapatkan anak shaleh yang akan mendoa'kan kita di alam kubur nanti. Aamiin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.