|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://asyifa85.blogspot.com |
|
asyifa85@yahoo.com |
|
|
asyifa85 |
|
asyifa85@yahoo.com |





Sabtu, 3 Juli 2010 pukul 18:15 WIB
Penulis : agus triningsih
"Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan." (Dorothy Law Nolte).
”Syifa!!! Mainnya udahan dong, Nak!!! Memangnya kamu gak capek main melulu tiap hari?”
“Memangnya bunda gak capek ngomel terus tiap hari?”
”Syifa!!! Kalau bunda bilangin, dengerin! Jangan bawel!!”
”Aduh, kamu main apalagi sih? Bisa gak kalau gak pakai berisik?”
”Tapi aku mau main, bun.”
”Sekarang diam!!! Bunda capek, mau istirahat.“
Demikian salah satu potongan dialog antara Syifa dan bundanya pada suatu hari. Bagi bunda Syifa, tidak ada satu hari yang terlewat tanpa emosi, katanya Syifa selalu sulit diatur. Sementara Syifa selalu bilang, kalau bundanya seringkali menyebalkan. Karena terlalu sering menuntutnya melakukan ini dan itu. Ehm... Sebenarnya, siapa ya yang salah?
Ketika kecil dulu, anda pernah merasa jadi Syifa? Atau malah sekarang setelah dewasa dan berkeluarga, merasa jadi bundanya Syifa? Ehm... Jangan deh ya.
Tahukah anda, bahwa bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak, yang biasanya dilakukan orangtua yang masih muda usia, sebaiknya jangan dilakukan, sebab bisa mempengaruhi mentalnya di masa mendatang? Begitulah kesimpulan hasil sebuah survei tentang orangtua dan perilaku agresif terhadap anak yang dilakukan oleh Murray Straus, seorang sosiolog dari University of New Hampshire terhadap 991 orangtua.
Menurut survei tersebut, membentak dan mengancam adalah bentuk paling umum dari agresi yang dilakukan orangtua. Dibandingkan tindakan yang lebih ekstrim lagi, seperti mengancam, memaki, dan memanggil dengan kasar dengan panggilan bodoh, malas, dan sebagainya, maka membentak memang paling banyak dilakukan.
Bukan hanya kepada anak, bayi pun kena bentak. Tetapi biasanya semakin muda usia orangtua, semakin sering pula mereka melakukan 'tindakan disiplin' tersebut.
Dari survei itu, 90% mengaku melakukan bentuk-bentuk agresi psikologis saat dua tahun pertama usia anak. Dan 75% di antaranya mengaku melakukan bentakan atau berteriak pada anak. Seperempat orangtua menyumpahi atau memaki anaknya, dan sekitar 6% bahkan mengancam untuk mengusir sang anak.
Menurut Straus, tindakan ini membawa efek psikologis jangka panjang bagi sang anak, walaupun secara hukum belum bisa disebut kekerasan terhadap anak. Tetapi memang dampaknya tidak langsung kelihatan dan biasanya baru ketahuan setelah mereka semakin dewasa.
Straus menambahkan bahwa agresi psikologis itu bisa membuat anak menjadi sulit beradaptasi atau bahkan berperilaku buruk, karena berbagai faktor. Misalnya, menjadi kurang percaya diri, atau sebaliknya, menjadi pemberontak.
Tetapi yang paling dikhawatirkan adalah kalau mereka melakukan hal yang sama terhadap anak mereka kelak. Padahal kalau secara psikologis, kelakukan anak yang salah seharusnya diperbaiki, bukan dibentak-bentak dan dimarahi.
Yuk, ayah bunda, termasuk calon ayah dan bunda, jangan pernah jadi bunda Syifa ya. Jangan pernah ajari anak-anak kita dengan emosi. Sepakat kan?!
Terinspirasi dari "Ummi"
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.