Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://masekoprasetyo.kotasantri.com
Bergabung
5 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya - Jawa Timur
Pekerjaan
Editor Jawa Pos
Seorang pecandu berat wedang kopi, tapi antirokok. Arek Suroboyo yang besar di Bekasi. Pengagum berat kebesaran Allah ini hobi sepak bola dan melempar senyum. Pemuda yang doyan kacang ijo ini juga pegiat baca buku. Bergelut dengan naskah dan tata bahasa adalah tugasnya sehari-hari sebagai editor bahasa Jawa Pos.
http://samuderaislam.blogspot.com
Tulisan Eko Lainnya
Manakala Sakit
26 Mei 2010 pukul 16:09 WIB
Cukup Allah sebagai Penolong
19 Mei 2010 pukul 16:00 WIB
Kejujuran Itu Langgeng
12 Mei 2010 pukul 15:50 WIB
Mengalamatkan Cinta
10 Mei 2010 pukul 17:30 WIB
Proposal Hidup
6 Mei 2010 pukul 15:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 5 Juni 2010 pukul 17:45 WIB

Menyikapi Cemburu

Penulis : Eko Prasetyo

Jam menunjukkan sekitar pukul 16.15. Tiba-tiba, suasana sore di gang sebuah kampung pecah oleh teriakan seseorang. Suara tersebut milik seorang perempuan. Dia tak henti-henti berteriak meminta tolong kepada warga sekitar.

Dia berlari sambil menangis. Dia seolah diburu sesuatu. Dugaan itu tak salah. Perempuan yang berusia sekitar 30-an tahun tersebut memang sedang dikejar seorang lelaki. Kendati perempuan muda itu terus diburu, tak ada warga yang berani menolongnya. Sebab, laki-laki tadi mengancamnya dengan mengacung-ngacungkan sebilah parang.

Tak lama kemudian, laki-laki itu akhirnya bisa dibekuk polisi berkat laporan warga. Pagi yang semula mencekam berangsur-angsur normal.

Rupanya, laki-laki tadi adalah suami perempuan yang meminta tolong tersebut. Kepada petugas, si suami mengaku emosinya terbakar lantaran melihat sang istri menerima tamu seorang laki-laki di rumahnya. Ketika marah melanda, akal sehat tak mampu berbicara. Rasa cemburu nyaris menumpahkan darah.

Pada kejadian lainnya, seorang istri ngotot meminta cerai kepada suaminya. Hal itu dipicu oleh kecemburuan si istri lantaran suaminya diduga sering lirik sana lirik sini. Bahkan, si istri menuduh sang suami main serong dengan wanita lain. Namun, tudingan tersebut dibantah oleh sang suami. Dia balik menuduh kecemburuan istrinya berlebihan.

Si suami mengaku tak pernah melakukan perbuatan yang dituduhkan istrinya. Pria tersebut mengatakan, tudingan istrinya tidak benar. Namun, kelitan itu tak bisa membendung pertengkaran-pertengkaran dalam rumah tangga mereka. Biduk rumah tangga yang dibina selama sekian tahun berada di ujung tanduk. Rasa cemburu nyaris menumbangkan kebersamaan yang lama diarungi.

***

Dua Cemburu

Salah satu sifat orang beriman adalah cemburu. Sebab, cemburu merupakan isyarat adanya cinta kasih. Islam memuji lelaki yang punya rasa cemburu dan mencela orang yang tidak memilikinya.

Selain menganjurkan cemburu, Islam memberikan batas-batasnya. Bila batas tersebut dilanggar, rusaklah kebahagian rumah tangga. Suami yang shaleh harus memahami hal itu agar dapat mewujudkan kehidupan yang sakinah, mawadah, dan rahmah.

Nabi Muhammad SAW bersabda, ”Allah itu pencemburu dan seorang mukmin juga pencemburu. Kecemburuan Allah itu terjadi bila ada seorang hamba datang kepada-Nya dengan perbuatan yang diharamkan-Nya. (HR. Bukhari).

Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad, Nasa’i, dan Ibnu Hibban, Nabi SAW bersabda bahwa sesungguhnya ada cemburu yang disukai dan dibenci oleh Allah SWT. Cemburu yang disukai Allah adalah cemburu pada hal-hal yang pasti. Sedangkan cemburu yang dibenci oleh-Nya adalah cemburu pada hal yang tidak pasti.

Dengan demikian, ada dua macam cemburu. Pertama, cemburu yang merupakan fitrah manusia. Yaitu, cemburu netral yang bisa menjaga dan melindungi harga diri dan keluarga dari tindakan pencemaran citra atau sikap melampaui batas. Cemburu seperti itu dianggap akhlak mulia yang patut dimiliki setiap orang beriman.

Kedua, cemburu yang merugikan dan terlarang. Yaitu, cemburu tanpa alasan yang selalu menyiksa jiwa. Ketika pikiran sedang dikuasai prasangka buruk, kita dapat saja menuduh orang yang tidak bersalah. Di atas itu semua, rasa cemburu yang tidak beralasan dapat merusak dinamika dan ketenteraman kehidupan rumah tangga.

***

Menyikapinya

Api cemburu yang tidak pada tempatnya bisa menghanguskan kebenaran dan melahirkan tindakan gegabah ataupun aniaya. Tentang cemburu, istri Nabi SAW dan para sahabat pernah mengalaminya. Rasulullah pernah bertanya pada istrinya, Aisyah Ra, ”Apakah engkau pernah merasa cemburu?” Aisyah menjawab, ”Bagaimana mungkin orang seperti diriku tidak merasa cemburu jika memiliki seorang suami seperti dirimu.” (HR. Ahmad).

Aisyah pun pernah diliputi cemburu ketika Nabi SAW sampai di Madinah bersama Shafiya yang sama-sama hijrah dan istri yang beliau nikahi di perjalanan menuju Madinah.

Aisyah berkata, ”Aku menyamar dan keluar untuk melihatnya. Namun, Rasulullah mengetahui apa yang kulakukan dan beliau berjalan ke arahku. Maka, aku bergegas meninggalkan beliau. Tapi, beliau mempercepat langkahnya hingga menyusulku. Kemudian beliau bertanya, ”Bagaimana pendapatmu tentang dirinya?” Aisyah menjawab dengan nada sinis, ”Dia adalah wanita Yahudi, putri seorang Yahudi.” (HR. Ibnu Majah).

Kecemburuan fitrah yang demikian juga dimiliki oleh kalangan sahabat Nabi yang laki-laki. Misalnya, Sa’ad bin Ubadah. Dia pernah berkata, ”Seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku pukul dia dengan pedang yang tajam (untuk membunuhnya).” Maka, Rasulullah berkata, ”Apakah kalian heran dengan kecemburuan Sa’ad? Sungguh aku lebih cemburu daripada dia dan Allah lebih cemburu daripada aku.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nah, fenomena tentang cemburu yang beragam itu harus dipahami dan disikapi sesuai dengan syariat Islam. Menyikapi kecemburuan memang dipengaruhi oleh karakter atau temperamen individu. Namun, ada titik terang dalam hal kecemburuan.

Apa saja?
1. Konsisten menegakkan rangka amar makruf dan nahi mungkar.
2. Melindungi harga diri dan keluarga.
3. Mencegah kemungkinan terjadinya fitnah yang mencemarkan dan menodai
kesucian keluarga.
4. Husnudzdzan (positive thinking) atau berbaik sangka.
5. Mendahulukan keutuhan keluarga sakinah agar senantiasa diridhai Allah SWT.

Berdasar paparan di atas, jelas bahwa cemburu merupakan hal yang wajar, bahkan perlu dimiliki seorang muslim yang beriman kepada Allah SWT, asal tidak melebihi batas.

Hal tersebut sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW. ”Ada tiga golongan yang tidak bakal masuk surga. Yakni, orang yang durhaka terhadap bapak ibunya, duyuts (orang yang tidak punya rasa cemburu), dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Nasai dan Hakim).

http://samuderaislam.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Eko Prasetyo sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Samsul M | Wiraswasta
Mulai buka site ini di tahun 2003, tapi baru sekarang saya ikut partisipasi. Maklum, baru ada waktu luang banyak.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1105 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels