|
HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
|
|
|
http://asyifa85.blogspot.com |
|
asyifa85@yahoo.com |
|
|
asyifa85 |
|
asyifa85@yahoo.com |





Sabtu, 22 Mei 2010 pukul 18:44 WIB
Penulis : agus triningsih
Ayah dan Bunda yang tercinta, berikut ini ada beberapa kiat mendidik anak shaleh, hasil resensi dari majalah Nakita, semoga bermanfaat.
1. Ayah dan Bunda perlu membuat planning/rencana berupa cita-cita tentang anak seperti apa yang ingin dididik, misalnya membuat tabel yang berisi indikasi akal, jasad, hati, dan pencapaiannya.
2. Ayah dan Bunda perlu mempelajari metode-metode yang efektif untuk mencapai planning (mengacu pada rencana yang dibuat pada poin 1). Misalnya kapan yang tepat mengajarkan anak naik sepeda atau belajar berenang, dan bagaimana tahapan-tahapan mengajar pada anak. Bagaimana mengenalkan Allah dan kapan saat yang tepat untuk menyampaikan pada anak dan sebagainya.
3. Mempraktekkan pendidikan anak sejak dalam kandungan. Sejak bayi lahir, pendengaran anak sudah berfungsi dengan optimal (golden age) yang berkisar antara 0-5 tahun menjadi saat yang tepat untuk menanamkan pendidikan pada anak. Metode yang bisa dipakai adalah senantiasa berbicara pada anak, menumbuhkan sugesti positif, dan menjadi teladan bagi anak.
4. Ayah dan Bunda perlu mengembangkan kreatifitas dalam memilih metode mendidik anak. Misalnya mengajarkan anak istilah-istilah keislaman dalam bentuk permainan. Atau memanfaatkan kertas bekas untuk dibuat kartu baca saat mengajarkan anak membaca.
5. Pentingnya kerjasama antara ayah dan ibu dalam mendidik anak shaleh. Oleh karena itu, penting bagi orangtua yang belum memiliki anak agar mendiskusikan dengan suami atau istri tentang bagaimana mendidik anak. Semakin dini calon orangtua dapat mempersiapkan diri menjadi orangtua yang baik, semakin baik pula kualitas pendidikan bagi anak.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan agus triningsih sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.