Ali Bin Abi Thalib : "Nilai seseorang sesuai dengan kadar tekadnya, ketulusan sesuai dengan kadar kemanusiaannya, keberaniannya sesuai dengan kadar penolakannya terhadap perbuatan kejahatan, dan kesucian hati nuraninya sesuai dengan kadar kepekaannya akan kehormatan dirinya."
Alamat Akun
http://al_musawatul_haqqoh.kotasantri.com
Bergabung
10 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Mahasiswi
Tulisan Nuraini Lainnya
Mendahsyatkan Pribadi Biasa Menjadi Luar Biasa
28 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 27 Maret 2010 pukul 18:30 WIB

Keluarga sebagai Basis Manajemen Sosial

Penulis : Nuraini

Kita bersyukur apabila kita merasa "nyaman" tidur di rumah daripada di hotel sendirian, atau anak-anak kita cepat-cepat minta pulang setelah 3 hari tidur di rumah orang lain. Sebaliknya kita patut bersedih dan mengoreksi diri jika kita mulai tidak nyaman di rumah, atau anak-anak kita lebih senang main di rumah orang lain.

Untuk hal yang kedua, sudah saatnya kita membenahi dan bertanya, "Ada Apa Dengan Rumah (keluarga) kita?" (AADR bukan AADC). Namun untuk hal yang pertama, perlu kita pelihara kondisi itu untuk selamanya agar rumah kita tetap sebagai "home sweet home" bagi semua anggota keluarga kita dan bahkan untuk orang lain.

Di dalam rumah seperti ini, keharmonisan sudah tumbuh, komunikasi antar keluarga sudah terbentuk, anak akan curhat pada ibunya atau kakaknya. Bapak punya rejeki dari kantornya pingin cepat-cepat membuat rencana yang indah dengan keluarganya. Di hari Minggu, ibu ingin sekali membuat menu istimewa untuk putrinya yang sedang berulang tahun.

Semoga gambaran di atas membuat kita sepakat dengan "home sweet home", yaitu keluarga sebagai tempat yang paling "nyaman" untuk dijadikan membangun rencana, tempat anak-anak curhat pada orangtuanya, tempat bapak pertama kali membawa kabar gembira kenaikan pangkatnya, tempat ibu pertama kali mencoba resep baru.

Mari kita wujudkan "home sweet home" di rumah kita.

***

Keluarga Harus Dikelola

Keluarga seperti di atas tidak dengan sendirinya terbentuk. Untuk itu, keluarga kita perlu dikelola. Tapi keluarga kita sudah berumur 5 tahun, 10 tahun, atau bahkan 15 tahun. Terlambat dong? Tidak ada kata terlambat.

Pertama bahwa keluarga kita perlu dikelola. Seperti mengelola perusahaan. Mengapa? Karena keluarga kita adalah perusahaan kita yang pertama. Jika tidak kita kelola investasi yang kita tanam, tidak akan membuahkan keuntungan untuk kita dan anak-anak kita.

Mungkin dari kita ada yang bertanya, kok keluarga disamakan dengan perusahaan, terus ada investasi lagi. Betul! Pola pikir kita hendaknya dirubah bahwa keluarga kita ini bukanlah suatu lingkungan yang sudah ditakdirkan ada dan rejeki mesti ada dan diturunkan oleh Allah SWT tanpa kita kelola. Kalau itu yang menjadi anggapan kita, mungkin perlu kita kenali kalimat Allah, "Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka!" dan "Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang merubahnya." (Al-Qur'an).

Lalu apa yang dimaksud dengan investasi yang telah kita keluarkan? Menyekolahkan anak di sekolah formal, sekolah informal, TPA, segala permainan dan kepandaian yang kita berikan pada anak kita dan istri/suami kita, itulah investasi kita. Memang itu kewajiban kita. Namun jadikan kewajiban yang berkah untuk masa depan kita, anak kita nantinya, dan menjadi rahmatan lil 'alamin. Cita-cita yang sangat diharapkan dari Allah SWT.

***

Bahwa Keluarga adalah Perusahaan Kita

Sebagian kita sudah kenal dengan manajemen (pengelolaan). Mengelola atau me-manage keluarga perlu juga memperhatikan aspek-aspek manajemen. Yaitu ada perencanaan, operasional, organisasi, koordinasi, pengendalian & pengawasan, penganggaran.

Itu teori manajemen? Benar. Bukankah ilmu Allah itu untuk makhuknya di bumi ini tanpa terkecuali.

Perencanaan

Masa depan keluarga tergantung pada bagaimana kita merencanakan. Dalam penerapan ilmu manajemen, nabi telah mengajarkan melalui haditsnya, "Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia tergolong orang yang beruntung. Barangsiapa yang hari ini sama saja dengan hari kemarin, maka ia tergolong orang yang merugi. Dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia tergolong orang terlaknat."

Ada beberapa langkah untuk merancang masa depan, yaitu; Pertama, mengenal gambaran masa depan. Kedua, mengenal dan memahami keadaan diri sendiri. Ketiga, menjabarkan beberapa alternatif tindakan. Keempat, mengkaji tiap alternatif yang telah dijabarkan. Kelima, mengadakan persiapan.

Sepertinya langkah-langkah tersebut perlu kita teladani. Karena kita tidak ingin keluarga kita terjerumus pada kondisi yang tidak diinginkan, dikarenakan arus lingkungan yang negatif. Dengan perencanaan yang matang, masa depan keluarga yang lebih baik Insya Allah akan terwujud. Namun ada hal lain yang tak kalah pentingnya, yaitu bagaimana mewujudkan perencanaan itu dalam tindakan nyata.

Operasional

Untuk merealisasikan perencanaan yang ada, perlu adanya tindakan yang nyata. Pekerjaan yang sulit adalah memulai sesuatu. Namun jika kita mau memulai, Insya Allah kesulitan dalam melaksanakan apa yang kita rencanakan akan menemui jalan. Tidak ada yang lebih jelek dari pekerjaan yang tidak diselesaikan, kecuali pekerjaan yang tidak pernah dimulai.

Organisasi

Anggota keluarga yang paling ideal adalah adanya bapak, ibu, dan anak. Jika ternyata dalam keluarga terdapat kakek/nenek atau tante, maka harus kita masukkan sebagai anggota keluarga. Anggota keluarga adalah unsur organisasi yang masing-masing mempunyai peran dan fungsi sendiri-sendiri.

Sudah saatnya anak bukan lagi obyek dalam keluarga dan orangtua sebagai subyek dan bertindak otoriter. Karena keluarga kita dibangun untuk kehidupan yang panjang. Anak-anak kita hidup di masa yang berbeda dengan kehidupan kita (Al-Hadits). Munculkan peran setiap anggota keluarga yang sinergis (saling bekerja sama dan tergantung) agar kebaikan dan kemajuan keluarga menjadi cita-cita bersama dan hasilnya dirasakan bersama.

Koordinasi

Komunikasi merupakan modal pokok dalam mengelola keluarga. Komunikasi yang baik antar anggota keluarga akan menimbulkan koordinasi yang positif. Kalau kita sudah bisa menjadikan anggota keluarga sebagai bentuk organisasi yang saling bersinergi (bekerja sama) setiap saat, perlu adanya koordinasi (saling mengingatkan dan menasehati) dalam operasionalnya. Suatu saat, ibu dapat menjadi pimpro (pimpinan) dalam acara liburan di puncak. Disaat lain, kakak juga berhak menjadi pimpro pada acara arisan keluarga. Atau dalam kegiatan beres-beres rumah, bapaklah pimpronya. Dengan begitu, saling koordinasi menjadi suatu kebiasaan yang menyenangkan.

Pengendalian dan Pengawasan

Orangtua mempunyai kewajiban untuk mendidik dan membimbing anak-anak, mempunyai hak untuk memberikan pengawasan. Meskipun pengawasan dapat diberikan pada siapa pun dalam anggota keluarga. Adik wajib mengingatkan jika kakak belum melakukan pekerjaannya membuang sampah. Atau kakak wajib mengingatkan bapak jika saking asyiknya beres-beres mobil, lupa belum shalat dzuhur. Dan sebagainya.

Penganggaran

Setiap kegiatan dalam keluarga diperlukan biaya. Mulai dari keperluan pendidikan, makan, kesehatan, hingga kegiatan wisata. Perencanaan keuangan menjadi perlu untuk dipelajari agar kepentingan dalam keluarga dapat tercukupi. Skala prioritas perlu diajarkan pada anak-anak. Pemenuhan skala prioritas dapat menjadi pendidikan pertama pada anak-anak dalam mengelola uang.

***

Didiklah Diri Sendiri, Kemudian Anak Kita!

Mengelola tidak lepas dari ilmu. Untuk itu, kita sebagai orangtua sebelum membimbing anak, kita harus belajar terlebih dahulu. Kita perlu tahu gambaran masa depan yang ada di sekitar kita. Cara memperoleh gambaran masa depan, kita dapat bertanya pada pihak yang dipandang mengetahui, membaca buku-buku yang relevan, mengunjungi, mengkaji pengalaman orang lain, merenungkan pengalaman diri sendiri, dan sebagainya. Pendeknya, kumpulkan berbagai informasi yang cukup relevan berkenaan dengan gambaran masa depan.

Sehingga perlu kiranya kita belajar untuk membekali diri kita sebelum kita memberi pelajaran pada anak kita. Bagaimana kita akan menjawab pertanyaan anak kita tentang air kalau kita tidak tahu sama sekali tentang air. Bagaimana kita akan membantu masalah anak kita kalau kita tidak mengenal permasalahan anak-anak dan remaja di sekitar kita saat ini. Perlu kita menjadikan referensi kejadian-kejadian di sekitar kita agar kita sebagai orangtua tidak canggung membantu permasalahan anak kita yang sekarang mulai remaja dan dewasa.

***

Mereka Merupakan Bagian dari Keluarga Kita

Untuk mendidik seorang anak, kita perlu mendidik satu kampung. Sepertinya hal ini sudah ada di negara kita, tapi itu 20-30 tahun yang lalu. Pada saat kita kecil, kita tidak hanya dididik oleh orangtua kita, tetapi juga tetangga kita ikut mendidik, memperhatikan, mengawasi, dan bahkan melindungi kita. Cobalah kita ingat, jika kita jatuh, kita langsung ditolong oleh siapa saja yang ada di sekitar kita. Jika kita bertindak salah, akan dikoreksi oleh siapa saja di sekitar kita saat itu, meskipun bukan orangtua kita.

Di lingkungan kita sekarang yang serba individual ini, apakah hal seperti itu masih ada? Mari kita jawab. Jika ada seorang anak berkata jorok/salah, apa yang kita ucapkan? "Dasar anak si X." Kenapa kita tidak memanggil anak itu dan meluruskan serta menasehatinya. Kenapa tidak kita ajak anak tetangga kita yang tidak beruntung belajar di rumah, mengaji di rumah. Satu hal yang perlu ditanamkan terlebih dahulu adalah, anggaplah lingkungan kita saudara kita. Maka jika mereka sakit, kita akan ikut sakit. Jika mereka lapar, kita akan ikut lapar. Dan sebagainya. Saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran (Al-Qur'an).

Mungkin sekarang kita sulit untuk berharap anak kita ikut dididik oleh tetangga kita, maka mulailah dari keluarga kita untuk turut mendidik anak-anak lain meskipun bukan keluarga kita, karena anak kita hidup di antara mereka. Kalau kita tidak mendidik mereka, maka akan timbul kepincangan. Dan saya yakin, Allah menghitung amal baik kita, karena anak-anak mereka adalah makhlukNya juga yang tetap wajib kita perhatikan.

***

Manajemen Keluarga adalah Manajemen Sosial

Jika kita sudah mulai mengelola keluarga demi kebaikan masa depan keluarga kita dan kebaikan masyarakat, manajemen besar akan terbentuk dengan sendirinya dalam masyarakat kita. Subhanallah, sungguh akan menyenangkan sekali jika keluarga kita menjadi keluarga yang harmonis dan selalu memberikan kebaikan pada lingkungannya (rahmatan lil 'alamin). Dan kebaikan hari ini selalu lebih dari hari kemarin dan selanjutnya keluarga di lingkungan kita membagi kebaikan di sekitar lingkungan lain. Pada ujungnya kualitas lingkungan kita, wilayah kita, dan bangsa kita menjadi bangsa yang rahmatan lil' alamin. Amin, amin ya rabbal 'alamin.

***

Keluarga Kita? Bisa!!!

Apakah kita bisa mulai? Mari kita tengok keluarga kita, ada bapak, ada ibu, ada anak, dan anggota lain. Kita ingin masa depan kita cerah, kita ingin anak kita tamat sekolahnya dan mendapat pekerjaan, kita ingin punya cucu dan akhirnya kita ingin hidup kita bahagia dunia dan akhirat. Apakah kita punya rencana untuk keluarga kita? Dengan berusaha hari ini lebih baik dari hari kemarin, Insya Allah bisa.

Referensi : Berbagai Sumber

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nuraini sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Angga Ciptadi | Karyawan
Sering-sering maen ke web ini, biar terus dapat insiprasi + motivasi dalam menjalani hari. Mudah-mudahan berkah.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0383 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels