|
Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
|
|
|
http://hifizahn.multiply.com |





Sabtu, 27 Februari 2010 pukul 17:55 WIB
Penulis : Hifizah Nur
Suatu sore, si Kakak mengeluh, “Ummi, aku enggak bisa jadi anak baik.” Wajahnya murung. “Memangnya kenapa?” tanyaku sedikit bingung. “Habis, aku sering marah sama Dedek,” jawab si Kakak lesu. Sepertinya si Kakak menyesali tingkahnya yang suka panas kalau sedang bermain dengan si Dedek. Aku menyembunyikan senyumku, tidak tega melihat wajahnya yang serius itu. “Kakak anak baik kok, buktinya suka ngajak Dedek main dan ngajarin dedek origrami,” jawabku sambil membelai rambutnya yang panjang.
Lain waktu, si Dedek yang mengeluh, ”Ummi, aku enggak bisa jadi anak shaleh. Habis, aku enggak bisa shalat lama-lama seperti ummi dan abi.” Serunya sambil memandangku dengan matanya yang besar. Aku tersenyum mengingat shalat si Dedek yang ajaib, seperti ayak matuk beras. “Enggak apa-apa, sayang, dedek kan masih kecil, masih latihan shalatnya. Nanti ganbatte ne, shalat seperti abi dan ummi.” Ku elus pipinya yang kemerahan terkena penghangat ruangan. ”Dedek anak shaleh kok,” sambungku menenangkan.
Aku jadi teringat materi tentang konsep diri saat belajar di kampus dulu. Konsep diri adalah bagaimana seseorang memandang dirinya. Apakah ia baik, cantik, pintar, atau justeru nakal, jelek, atau bodoh. Konsep diri ini bukan dibawa sejak lahir, tetapi terbentuk dari lingkungan, terutama dari bagaimana orangtua, teman-teman, guru memperlakukannya. Konsep diri ini juga selalu berubah, berkembang menjadi lebih baik atau lebih buruk dari sebelumnya tergantung dari pengalamannya berinteraksi dengan orang lain.
Biasanya, seorang anak bertindak berdasarkan konsep diri ini. Kalau ia terus menerus dikatakan sebagai anak nakal, maka ia akan menganggap dirinya sebagai anak nakal, dan wajar kalau melakukan hal-hal yang tidak baik. Begitu juga bila seorang anak sering dikatakan sebagai anak bodoh. Meskipun sebenarnya pandai, namun karena orang-orang selalu mengatakan bahwa ia bodoh, maka ia akan merasa tidak ada gunanya belajar karena ia anak bodoh.
Yang paling banyak memberi pengaruh terhadap perkembangan konsep diri seorang anak, tentu saja orangtuanya. Sejak anak lahir, apakah ia mendapatkan perhatian, diajak bermain, bercanda, dipenuhi segala kebutuhannya atau tidak. Kalau iya, maka ia akan merasa bahwa dirinya berharga bagi orangtuanya. Konsep diri positif bahwa saya ”berharga” menjadi dasar interaksinya dengan orang-orang di luar lingkungan keluarga.
Ada beberapa tips yang bisa dilakukan orangtua untuk membangun konsep diri positif ini :
1. Menggembirakan hati anak. Anak-anak yang masih suci jiwanya menyukai kegembiraan. Rasulullah selalu melakukan hal-hal berikut ini untuk membangkitkan kegembiraan pada anak : Menyambut anak dengan baik, mencium dan mencandai anak, mengusap kepala mereka, menggendong dan memangku mereka, serta menghidangkan makanan yang baik dan makan bersama mereka. Hal-hal yang dilakukan oleh Rasulullah ini membuat anak-anak merasa dihargai dan menumbuhkan konsep diri yang positif dalam jiwa mereka.
2. Memberi pujian. Anak-anak senang dengan pujian dan selalu menunggu-nunggu pujian dari orang sekelilingnya. Pujian membentuk konsep diri positif bagi anak-anak. Anak usia 3 tahun yang berusaha memakai sepatunya sendiri, meskipun terbalik, ”Alhamdulillah, anak pintar, sudah bisa pakai sepatu sendiri ya. Sini ibu bantu,” tentu akan membesarkan hati sang anak. Bila dilakukan terus menerus, insya Allah konsep diri bahwa ia anak pintar bisa terbentuk.
3. Memanggilnya dengan panggilan yang baik. Panggilan ini sangat penting sekali dalam membentuk konsep diri anak. Karena itulah dalam Islam, diperintahkan untuk memberi nama yang baik. Nama adalah do'a. Kalau anak-anak diberi nama yang baik, lalu diberitahu makna dari namanya, tentu ia akan merasa senang dengan namanya dan berusaha untuk memiliki karakter seperti namanya sendiri.
4. Tidak banyak mencela dan mencaci. Celaan dan cacian memberi efek negatif bagi perkembangan konsep diri seorang anak. Bila terlalu sering dilakukan, akan merusak konsep diri anak dan bisa berpengaruh sampai ia dewasa.
Mudah-mudahan kita bisa mendidik anak-anak menjadi anak yang memiliki konsep diri positif. Tidak mudah memang. Kita perlu banyak mengoreksi diri kita sendiri. Merubah diri menjadi lebih sabar dan selalu ingin belajar untuk menjadi orangtua yang baik. Kerja berat, tapi balasannya adalah pahala yang terus mengalir sampai ke kubur kita. Pahala dari anak yang shaleh yang senantiasa mendo'akan kita. Insya Allah. Aamiin...
Sumber :
1. Suwaid, Muhammad Ibnu Abdul Hafidh, Cara Nabi Mendidik Anak, 2004, Al-I’tishom Cahaya Umat, Jakarta.
2. Pearseon, Judy C., Interpersonal Communication, 1982, Scott, Foresman and Company, USA.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.