Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."

Uji Coba Versi Baru

Saran dan masukan silahkan disampaikan melalui Form Kontak.
Alamat Akun
http://abuaufa.kotasantri.com
Bergabung
6 Februari 2009 pukul 06:00 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
Lecturer
Abu Aufa, nama pena itu yang digunakan dalam setiap goresan penanya. Terlahir 38 tahun silam dengan nama Ferry Hadary, ia adalah suami dari Mirya Emeralda, serta abi dari Hikari Aufa Rafiqi (Aufa, almarhum) dan Zafirah Asy Syifa (Asy Syifa, 1 tahun 9 bulan). Anak ke-2 dari 4 bersaudara ini, lahir …
ferryhadary
Tulisan Ferry Lainnya
Ketika Pena Kecil Berdo'a
29 Januari 2010 pukul 13:55 WIB
Anak Bangsa
26 Januari 2010 pukul 09:46 WIB
Bekerjalah dengan Cinta
16 Januari 2010 pukul 09:24 WIB
Embun di Daun Semanggi
12 Januari 2010 pukul 13:31 WIB
Suami Mencintai Istri
9 Januari 2010 pukul 10:46 WIB
Santri
Adi Rahman
Mhs
Purwokerto
fandi achmadi
mahasiswa
gresik
prasetio nugroho
pelajar
sidoarjo
Forum
Suara
septyawaty : Mau tanya dong maksud dari: "oleh sebab itu , barang siapa yang menyerang kamu,maka seranglah mereka sebagaimana mereka menyerang kamu" (Al-Baqarah ;194)
gerhana : pagi ini mnyenangkan..... +++++ alhamdulillah.... g percuma masak air pagi2
ida : Aku kotor...bagai kertas bernoda yg penuh debu.."aku sibuk membicarakan kekurangan org lain namun lalai atas kekuranganku"
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 6 Februari 2010 pukul 11:49 WIB

Kacang Mangsa Ninggal Lanjaran

Penulis : Ferry Hadary

Ibu, apa yang ibu lakukan saat marah? Teriak-teriak sampe' terdengar tetangga? Diam seribu bahasa, lalu cemberut atau malah memukul? Hati-hati lho, anak adalah 'perekam' yang terbaik dari kejadian yang ia lihat di sekitarnya. Anak bercermin dari lingkungannya, dan lingkungan terdekat adalah orangtuanya. Siapa tahu anak kita jadi tukang ngamuk, karena emang pernah melihat kita saat marah. Siapa tahu anak kita guling-guling di lantai, karena pernah melihat ibu juga 'gulingan' saat marah. Wah... wah... wah... Nikoniko *.

Ayah, pernahkah makan sambil jalan-jalan? Kalau pernah, jangan heran kalau anak kita makan pun sambil jalan, karena ayahnya adalah contoh yang pernah dilihatnya. Padahal Rasulullah SAW mengajarkan adab makan adalah sambil duduk. Mungkin pula, saat anak marah, pintu yang gak salah pun dibanting, karena pernah melihat ayahnya membanting pintu sekeras mungkin, biar ada yang tahu, 'Ini nih, gue lagi marah!" Kowai ne *.

Pepatah Jawa mengatakan, 'kacang mangsa ninggal lanjaran', artinya, kacang tak mungkin meninggalkan rambatannya. Maksudnya, watak dan tingkah laku anak biasanya mirip dengan tingkah laku orangtua. Makanya, saat anak kita nakal, ada orangtua yang cuma nyengir, dalam hati berkata, "Iya ya. Kaya' saya dulu." Namun ada pula orangtua yang yakin banget, bahwa anaknya gak bakalan nakal, alasannya, "Lha, dulu saya udah nakal sekalee, jadinya anak saya gak bakalan nakal!" Yang ini model PUEDE buangeett!!!

Ikhwah fillah...
Anak kita adalah ibarat beningnya telaga, dan sebuah telaga laksana cermin diri. Anak juga ibarat permata alami, dan kitalah pemahat-pemahatnya. Seorang pemahat yang tak sabaran, marahan melulu, emosional, maka jangan heran kalau hasil pahatannya serupa dengan perasaannya saat memahat. Namun, pahatan yang terbentuk rapih, memancarkan kilauan keindahan tentu terbentuk dari seorang pemahat yang brillian, pemahat yang mengerti bagaimana memoles pahatan hingga menjadi 'nilai jual yang tinggi' di mata Allah SWT dan ciptaanNya.

Emmy Soekresno, S.Pd. seorang ibu yang sering membawakan seminar tentang anak pernah mengatakan bahwa susunan otak terbentuk dari pengalaman, sehingga jika pengalaman anak takut dan stress, maka respon otak terhadap dua hal itulah yang akan menjadi arsitek otak sehingga dapat merubah struktur fisik otak.

Itulah mengapa kita harus menghindarkan diri dari memarahi anak atau memukulnya. Jika anak kita melakukan kesalahan atau melakukan sesuatu yang tidak sopan, sebaiknya kita mulai mengajarkannya mana yang betul dan sopan santun dengan cara yang arif serta penuh kesabaran. Tentunya, contoh yang terbaik dalam hal ini adalah Rasulullah SAW.

Seorang anak yang dibiasakan dan diajarkan kebaikan, maka akan tumbuh dalam kebaikan pula, karena itu berbahagialah kedua orangtuanya di dunia dan akhirat, juga setiap pendidiknya. Namun, jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya ia akan menjadi jahat dan binasa. Karena itu hendaklah ia memelihara, mendidik dan membina, serta mengajarinya dengan akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang, dan tidak pula menjadikannya suka kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila ia dewasa, demikian menurut Syaikh Abu Hamid Al-Ghazali.

Namun, ada masa-masa dimana anak kita memang mengalami masa kemandirian dan sikap negatifnya, atau dengan kata lain sifat bandelnya muncul. Terkadang, perilaku ini seringkali disertai dengan tingkah yang akan membuat kita jengkel. Karena mereka bersikap negatif, apakah kita boleh pula bersikap negatif? Kadang tanpa sadar, kejengkelan kita dijadikan file-file yang tersimpan rapi di memori mereka, hingga saat mereka jengkel mereka dapat menggunakan file-file tersebut kapan saja. Nah lho, kalau gini gimana?

Ada beberapa tips untuk menghindari kemarahan saat kita jengkel kepada anak, yaitu :

1. Kata Rasulullah SAW, kalau marah, maka ubahlah posisi. Maksudnya, bila masih marah berbaringlah, karena gak lucukan marah sambil baring. Bila masih marah, ambil wudhu dan minta perlindungan Allah SWT sambil mengucapkan lafadz taawudz, 'Audzubillahimisysyaithaanirrajim.'

2. Saat hendak marah, tarik nafas panjang, tenangkan diri. Tinggalkan ruangan, masuk kamar, atau apalah untuk membantu menenangkan perasaan.

3. Jangan 'menyerang' anak dengan kata 'kamu', misalnya nih, "Kamu kok gak pernah belajar bersihkan rumah sih!" atau "Aduh, kok kamu gak pernah bisa bangun pagi?" Biasanya kalau mengucapkan kata-kata ini, mata tanpa sadar melotot seperti mas koki, nafas pun tersengal-sengal. Gak percaya, coba saja di depan cermin. Yang lebih baik adalah dengan menggunakan kata 'sayang', misalnya nih, "Ibu gak suka lho, kalau kamu buang sampah sembarangan." atau "Sayang, ibu kecewa kalau kamu bangunnya selalu siang." Ini akan mengurangi rasa sakit hati anak.

4. Bila terlalu marah untuk berbicara, tahanlah! Kalau anak sudah dapat membaca, maka ekspresikan perasaan dengan menulis, karena selembar kertas dan sebatang pena dapat membantu mengontrol emosi. Artinya, 'menulis tidak hanya untuk mengikat ilmu' lho, tapi juga untuk 'mengikat emosi.'

5. Ketika anak membuat marah, jelaskanlah mengapa kita kecewa kepada mereka. Jangan menyebut-nyebut kesalahannya yang lampau, karena anak bingung, gak mengerti penyebab kemarahan ayah dan ibunya.

6. Bila terlanjur marah, imbangilah dengan pelukan hangat dan kata maaf. Jangan sok gengsi wibawa akan turun karena melakukan hal itu, karena kita pun selaku orangtua bisa melakukan kesalahan sewaktu-waktu.

7. Saat kemarahan ingin meledak, coba deh menghadap ke cermin. Lihat betapa 'cantiknya' wajah kita saat itu. Pasti saat itu, pertanyaan yang muncul, "Ara... kimi dare?" * Mudah-mudahan kita pun tak ingin anak yang kita cintai melihat ekspresi kita saat itu.

8. Evaluasi, kenapa kita marah. Apakah karena kamar anak yang berantakan, anak gak patuh pada aturan, atau karena kita marah karena masalah kita sendiri? Jangan lampiaskan kekecewaan kita dengan pasangan, di kantor, di lab, dan lain-lain terhadap anak kita. Apalagi kalau kita 'gondok' sama sensei * lantas pelampiasannya kepada anak.

Akhi wa ukhti yang disayang Allah SWT...
Mendidik anak tidaklah seperti kita mudah membalik telapak tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orangtua. Simaklah perkataan Sayyid Qutb, yang mempunyai ayah sebagai panutannya, "Semasa kecilku, ayah tanamkan ketaqwaan kepada Allah dan rasa takut akan hari akhirat. Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan sehari-harimu telah menjadi teladanku, bagaimana perilaku orang yang ingat akan hari akhir."

Anak adalah amanah dari Allah SWT kepada kita. Selama ia masih 'dititipkan' kepada kita, itulah salah satu saat kita dapat menuai pahala dari Allah SWT. Kelak kita akan dimintai pertanggungjawaban dari 'pemiliknya', sudahkah kita mendidiknya dengan baik atau malah sebaliknya. Seperti kata-kata bijak dari Batak, 'Natoras na tutu mengkaholongi ianakkona, ianakkon na tutu pasangap natorasna,' orangtua yang benar ialah yang mencintai anak-anaknya dan anak-anak yang benar ialah yang menghormati orangtua.

Tidurlah tidur anakku tidurlah sayang
Ibu senantiasa menjaga dan berdo'a
Agar kelak kau dijadikan manusia
Pembebas durjana pelepas duka lara

Puji syukur padaMu ya Illahi Rabbi Tercipta buah hati dambaan insani Kuserahkan jiwa raga sebagai bukti Sang ibu dan ayah bersatu dalam janji

Kususun jemari kusulam kata pinta Hanya kepadaMu, kumohon selalu Luruskanlah jalan dan ringankan langkahku Menuju RidhaMu Illahi.

Notes : (* in Japanese)
- Nikoniko = Senyum
- Kowai ne. = Menakutkan ya.
- Ara, kimi dare? = Oh, kamu siapa? (kata 'ara' merupakan kata surprised).
- Sensei = Professor, Pembimbing

Maraji' :
- Majalah UMMI
- Al-Muslimun No. 298, Jan 1995
- Sumber-sumber lain yang berhubungan.
- Lirik nasyid Snada, Do'a Untuk Anakku
- Japanese - English Dictionary

--- Suka ---

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ferry Hadary sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Tulisan Favorit
M. Hilmy | Wiraswasta
Insya Allah... Isinya ringan seperti kapas, berbobot seperti baja, dan dalam seperti samudera.
KotaSantri.com © 2002 - 2010
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1154 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels