Ibn Qudamah : "Ketahuilah, waktu hidupmu sangat terbatas. Nafasmu sudah terhitung. Setiap desahnya akan mengurani bagian dari dirimu. Sungguh, setiap bagian usia adalah mutiara yang mahal, tak ada bandingannya."
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Kelembutan Hati
4 November 2009 pukul 15:05 WIB
Jenazah
24 Oktober 2009 pukul 15:10 WIB
Orangtua Pembelajar
17 Oktober 2009 pukul 18:15 WIB
Episode-episode Kecil Cinta
12 Oktober 2009 pukul 15:10 WIB
Manusia adalah Hewan Berakal?
30 September 2009 pukul 16:15 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Sabtu, 14 November 2009 pukul 17:45 WIB

Ketika Si Kecil Protes

Penulis : Hifizah Nur

Pernahkah anda diprotes oleh anak berusia 2,5 tahun? Mungkin pernah dengan secara langsung terutarakan kepada anda. Mungkin juga pernah, tapi melalui obrolan si kecil dengan mainannya atau dengan orang lain. Mungkin juga pernah, tapi anda tidak merasakan sama sekali kalau si kecil sedang memprotes anda.

Setiap anak punya cara yang berbeda dalam mengungkapkan rasa kurang sukanya dan juga protesnya kepada orang lain. Anak saya, Nana chan, 2,5 tahun, kemampuan berbahasanya berkembang dengan sangat baik, sehingga dia sudah dapat merangkai beberapa kata untuk bercerita dan juga untuk mengungkapkan pendapat-pendapatnya.

Suatu hari, saya berada dalam kondisi kurang sehat, dan itu sangat berpengaruh dengan kondisi emosional saya. Tanpa sadar, sering sekali saya memarahinya selama seharian itu, dan juga menunjukkan wajah tidak senang saat ia mengganggu istirahat saya. Setelah seharian berinteraksi dengan wajah keruh saya, mungkin terasa juga ketidaksenangannya. Meskipun demikian, si kecil tetap terlihat bermain dengan ceria bersama mainannya. Di sore hari, telepon berdering, seperti biasa, si kecil menjadi orang pertama yang mengangkat telpon.

Dari sebrang sana terdengar suara seorang teman bertanya pada si kecil, “Assalamu’alaikum, ummi ada?” Tanpa diduga, si kecil menjawab, “Ummi sedang marah." Saya terkejut dengan jawabannya, tapi saya diamkan. ”Marah sama siapa?” tanya dari sebrang sana lagi. ”Marah sama Nana chan,” jawabnya lugu dan langsung mengena di hati saya. Saya langsung sadar dengan kondisi emosional saya yang tidak stabil hari ini. Ternyata, si kecil merasa tertekan dengan sikap-sikap saya seharian ini, dan perlu kompensasi untuk mengganti rasa tidak nyaman si kecil dengan pelukan dan sikap hangat seperti yang biasa dia dapatkan dari saya, ibunya.

Di lain waktu, suami saya, yang baru pulang dari kantor, asyik dengan komputernya. Si kecil yang sudah berharap untuk bisa bermain dengan abinya setelah seharian bermain dengan mainannya dan umminya, langsung memprotes sang abi, “Abi, sini dong, jangan komputer terus. Main sama Nana chan.” Mendengar protesnya, abinya cepat-cepat meminta maaf dan memenuhi keinginan si kecil untuk ditemani bermain.

Di pihak lain, ada seorang sahabat yang bercerita kepada saya tentang bagaimana anaknya menunjukkan ketidaksenangannya terhadap sikap orangtuanya. Anak ini lebih besar dari anak saya dan baru menjadi kakak setelah adiknya lahir. Di awal-awal kehadiran sang adik, seluruh keluarga berusaha untuk beradaptasi dengan situasi baru ini.

Ada satu orang lagi yang butuh perhatian di samping tugas-tugas rumah tangga yang menumpuk. Tanpa sadar, sang kakak semakin merasa terabaikan dari kedua orangtuanya. Tidak ada protes langsung dari sang anak yang baru jadi kakak ini, tapi sikapnya yang lesu, tidak bergairah, dan cahaya matanya yang tidak hidup tidak seperti biasanya. Hal ini membuat ibu dan ayahnya berpikir mengapa si anak seperti ini. Akhirnya, setelah diintrospeksi dan diberikan kompensasinya berupa perhatian yang lebih banyak kepada sang kakak, diajak jalan-jalan dan berusaha memberikan apa yang diinginkan anak di satu hari khusus, alhamdulillah, sang kakak kembali ceria seperti biasa.

Banyak cara yang dipakai anak untuk mengungkapkan protes-protesnya. Kadang dengan cara yang sulit diterima oleh orang dewasa. Misalnya menunjukkan tingkah laku yang sangat menyebalkan kedua orangtuanya atau selalu memancing kemarahan kedua orangtuanya. Biasanya ini karena sang anak belum mampu menunjukkan protesnya secara langsung atau karena perkembangan bahasanya yang belum cukup memadai. Bisa juga karena terhambat oleh emosi yang sudah memuncak, yang membuatnya sulit berpikir untuk mengungkapkan protesnya secara lisan.

Saya sadar, terkadang si kecil sendiri tidak tahu apa yang sesungguhnya ia rasakan, sehingga protes-protesnya tidak tersampaikan dengan baik dan keluar dalam bentuk tantrum atau mengamuk. Saat itulah membuat saya harus lebih menajamkan mata hati saya untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh si kecil.

Terkadang, secara tidak sadar, kita mencontohkan cara yang tidak benar untuk menunjukkan protes-protes kita pada orang lain. Misalnya pada suami kita, dengan cara marah-marah atau dengan menekuk muka tanpa mengatakan apa yang membuat hati kita tidak senang dan marah. Sikap-sikap seperti itulah yang mungkin ditiru oleh si kecil.

Apa pun bentuk protes si anak, merupakan proses belajar bagi kita, para orangtua, untuk lebih memperhatikan sikap-sikap kita, dan juga perhatian-perhatian kita pada si kecil. Juga belajar mengasah kepekaan kita terhadap apa yang dirasakan oleh anak-anak kita. Di sisi lain juga berusaha mengajarkan bagaimana cara memahami perasaan-perasaannya dan mengungkapkannya pada orang lain. Mudah-mudahan, apa yang berusaha kita ajarkan, mampu mempermudah kehidupan si kecil, terutama dalam hal bagaimana berhubungan dengan orang lain, sampai ia dewasa nanti.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Arry Rahmawan | Penulis dan Trainer
Subhanallah, akhirnya KotaSantri.com semakin berkembang. Artikelnya bagus dan dapat menambah wawasan kita semua. Maju terus KotaSantri.com... ^^

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1131 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels