Pelangi » Keluarga | Sabtu, 30 Mei 2009 pukul 17:07 WIB

Melukis di Kertas Putih

Penulis : Lizsa Anggraeny

Menceburkan diri terjun dalam dunia anak-anak, merupakan cita-cita yang sebenarnya tidak pernah ada dalam list keinginan saya. Dunia anak adalah dunia asing yang rasanya sulit untuk ditembus batas orang dewasa. Cukup lama saya menimbang-nimbang ketika seorang teman memberikan tawaran untuk mengajar di Taman Kanak-kanak Islam yang baru saja dibuka di sekitar Tokyo, beberapa tahun yang lalu.

Menjadi guru TK? Sebuah profesi yang kadang dipandang sebagai pekerjaan ringan namun memiliki bobot amanah berat. Berbagai macam harapan orangtua, akan berpindah ke pundak saya. Kalaupun akhirnya tawaran tersebut diterima, tak lebih karena saya suka anak-anak.

Berawal dari sinilah hari-hari saya berada di dunia anak dimulai. Dunia bermain yang penuh tawa, terkadang diselingi tangis, seru. Itulah suasana yang pertama kali dirasakan. Para 'aktivis' kecil masing-masing memiliki karakter yang berbeda. Sering saya dibuat kewalahan oleh tingkah anak-anak yang super-hiper aktif, yang sulit untuk diajak diam di tempat ketika kelas dimulai. Pernah pula saya dibuat kebingungan oleh anak pendiam, yang tiba-tiba menangis tanpa tahu sebabnya. Atau terkadang saya pun dibuat kelabakan oleh anak yang tiba-tiba lari ke pojok kelas memisahkan diri, enggan ikut pelajaran sambil memasang muka cemberut.

Dan saya pun masih sering terkaget-kaget oleh 'ulah' anak-anak yang tiba-tiba terluka, kepentok, atau terjatuh karena asyiknya bermain-main. Tidak mudah menyesuaikan diri dengan para 'aktivis' kecil ini. Sosok mungil dengan wajah lucunya terkadang nampak berubah wujud menjadi sosok berbeda yang siap 'menghukum' ketidaktahuan saya dengan tangisan atau rajukan manjanya.

Puncak kepanikan pernah terjadi ketika salah seorang anak mengalami tantrum saat kelas sedang berjalan. Anak tersebut tiba-tiba menangis menjerit-jerit sambil melemparkan semua barang yang ada di sekitarnya. Saya yang baru pertama kali menyaksikan hal tersebut jelas kaget. Dengan mata nanar langsung terdiam, kaku tak bergerak menatap wajah mungil yang tiba-tiba bagai orang dewasa. Sang anak baru bisa tenang setelah semua kekecewaannya tertumpah dalam ledakan emosi.

Berbagai pikiran bercecamuk dalam benak. Sedih, kesal, merasa bersalah. Beberapa pertanyaan muncul. Apakah wajah saya bagai monster menakutkan? Apa cara mengajar saya salah? Dan berbagai macam pertanyaan lain yang makin membuat kepala pening tanpa jawaban.

"Pada setiap anak-anak, terdapat jiwa dewasa. Seorang anak adalah makhluk individu yang memiliki hak untuk dihormati sebagai layaknya orang dewasa." Kesimpulan dua kalimat tersebut saya dapati setelah membaca buku "Cara Nabi Mendidik Anak" karya Ir. Muhammad Ibnu Abdul Hafidh Suwaid.

Sosok kecil dengan pemikiran yang masih kanak-kanak bukan berarti ia tidak memiliki rasa dewasa. Sama seperti orang dewasa, mereka memiliki rasa kesal, malu, marah, ataupun senang. Jika orang dewasa senang akan sanjungan, pujian yang indah-indah, begitu pun si kecil. Dan jika orang dewasa tidak suka akan kritikan, paksaan, atau bentakan nada marah, begitu pun dengan si kecil.

Rasulullah SAW, sosok teladan, telah mencontohkan dalam beberapa kisahnya tentang cara menghormati sosok kecil yang bernama anak-anak. Dari Abu Hurairah RA, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa berkata kepada seorang anak kecil, 'kemarilah dan ambillah', tetapi kemudian ternyata tak diberikannya apa-apa, maka dia telah melakukan satu kedustaan." (HR. Ahmad). Bukankah setiap individu dewasa tidak suka untuk dibohongi? Begitu pun anak-anak.

Pernah pula dikisahkan, suatu ketika seorang wanita datang menemui Rasulullah SAW dengan seorang bayi. Dan ketika Rasulullah SAW menggendong bayi tersebut, ia kencing membasahi pakaian beliau. Sontak sang ibu mengambilnya dengan agak kasar karena malu. Tentu, Rasulullah SAW melarang perlakuan sang ibu tersebut dengan mengatakan, "Bukankah pakaian yang najis ini bisa dicuci? Sedangkan luka pada hati anak tidak bisa dicuci, akan terus membekas."

Membaca buku tersebut, seolah saya menemukan jawaban. Dunia anak sebenarnya hampir sama dengan dunia dewasa. Yang membedakannya adalah tanggungan amanah. Jika seorang dewasa adalah sosok yang sudah wajib menanggung amanah, namun tidak demikian dengan anak-anak. Seorang anak kecil justru masih menjadi tanggungan amanah setiap individu dewasa. Ia adalah amanah bagi setiap orangtua, guru, ataupun pendidik. Tugas orang dewasalah yang wajib mengarahkan amanah ini menuju ke gerbang kebahagiaan dunia akhirat.

Kini, dalam aktivitas menceburkan diri di dunia anak, saya berusaha memahami konsep anak-anak adalah sosok kecil yang memiliki jiwa dewasa. Dalam berinteraksi, saya harus bisa menjadi sosok dewasa yang memiliki jiwa anak-anak, agar dapat masuk ke dunianya. Dunia bermain yang penuh canda, tawa, dengan selingan tangisan, marah, ataupun rajukan manja.

Karena anak-anak adalah amanah dengan lembaran kertas yang masih putih bersih, perlu hati-hati dan persiapan matang untuk melukiskan sesuatu di atasnya. Karena sekalinya melukis, kertas putih itu akan berubah berganti warna sesuai dengan corak, warna, dan sketsa si pelukis. Kalaupun terdapat kesalahan dalam melukis dan berusaha menghapusnya, kertas putih itu sudah tidak bisa berwana putih seperti semula. Pasti akan ada goresan yang membekas di sana. Dan menjadi pelukis yang mampu meninggalkan goresan indah pada kertas putih tersebut, adalah salah satu tugas saya.

Wallahu a'lam.

KotaSantri.com 2002-2023