Pelangi » Keluarga | Sabtu, 4 April 2009 pukul 17:50 WIB

Katakanlah, Wahai Anakku!

Penulis : @ Arda Dinata

Suatu waktu, Umar bin Khathab mendorong anak-anak untuk berbicara di hadapan majelis orangtua guna menyampaikan pendapat dan gagasan. Umar berkata, "Terkait dengan apa turunnya ayat, inginkah seseorang di antara kalian memiliki kebun kurma dan anggur (QS. Al-Baqarah : 266)?"

Mereka menjawab, "Hanya Allah-lah yang tahu."

Maka, Umar 'marah' seraya mengatakan, "Katakanlah : Tahu atau tidak tahu."

Ibnu Abbas menjawab, "Dalam benakku, ada sedikit pengetahuan itu, wahai Amirul Mu'minin."

Umar mengatakan, "Katakanlah, wahai anakku, dan janganlah kamu merendahkan dirimu sendiri."

Ibnu Abbas berkata, "Ayat itu menggambarkan perumpamaan amal."

"Amal apa?" tukas Umar.

Ibnu Abbas menjawab, "Seorang kaya yang melakukan kebaikan-kebaikan kemudian Allah mengutus kepadanya setan, lalu orang itu melakukan kemaksiatan hingga menghancurkan segala amal baiknya itu."

***

Dialog di atas, sesungguhnya telah menuntun tiap orangtua agar membangun motivasi bagi anak-anaknya. Motivasi merupakan sebuah spirit yang harus kita sandarkan dalam setiap kehidupan anak-anak. Keberadaannya akan selalu dibutuhkan tatkala gairah perkembangan kehidupannya tersumbat oleh kerikil-kerikil kehidupan.

Motivasi, kata Muhammad Rasyid Dimas (2000), mempunyai peran besar terhadap jiwa anak dalam mewujudkan kemajuan aktifitas positif yang membangun, dalam menumbuhkan kemampuan dan dalam menyalurkan bakatnya. Motivasi juga akan mendukung kontinuitas kerja dan mendorong anak untuk maju.

Dalam memberikan motivasi kepada anak-anaknya, orangtua tentu memiliki cara yang berbeda-beda. Lebih-lebih hal ini didukung dengan pengalaman hidup orangtua yang berbeda-beda pula. Ada yang memotivasi secara material atau nonmaterial. Itu semua baik, sepanjang dilakukan secara tidak berlebihan. Landasan kewajaran dalam memotivasi anak ini kelihatannya merupakan sesuatu yang patut dipatuhi. Sebab bila tidak, ia akan berdampak merusak pribadi anak itu sendiri.

Jadi, intinya tiap keluarga harus mampu membangun motivasi dalam hidupnya. Yang jelas, menyangkut cara dan teknis pendekatannya, tiap orangtua lebih mengetahui kebiasaan anak-anaknya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Harry S. Truman, "Saya telah menemukan cara terbaik untuk memberi nasehat kepada anak-anak, yaitu menemukan apa yang mereka inginkan dan kemudian menasehati mereka untuk melakukannya."

Adapun cara yang mudah dan bisa dilakukan oleh tiap keluarga untuk menasehati anak lewat motivasi adalah dengan membelikan buku-buku. Dengan aktifitas membaca buku, seorang anak secara ilmiah akan terus berkembang sesuai dengan perkembangan dirinya.

Dalam hal ini, Ibnu Abidin, seorang ulama besar, pernah bercerita kepada anaknya bahwa yang menyebabkan ia mengumpulkan buku-buku itu (yang tidak ada tandingannya) adalah karena ayahnya. Menurut Ibnu Abidin, ayahnya selalu membelikan buku yang diinginkannya. Ayahnya berkata, "Belilah buku yang kamu inginkan dan aku akan membayarnya. Karena kamu telah menghidupkan perjalanan hidup (sirah) para pendahulu kita. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan, hai anakku."

Akhirnya, untuk dapat menasehati anak lewat motivasi, mendorongnya agar maju, mampu mengaktualisasikan potensi pribadinya, dan menyalurkan bakatnya, maka biasakan anak kita untuk berani mengatakan sesuatu hal tentang kebenaran hidup sesuai dengan kapasitas dirinya.

Dari sini, tentu orangtua harus mampu membimbingnya secara bijaksana dan proposional. Untuk itu, biasakan ada dialog pada keluarga kita. Dalam berdialog dengan anak, orangtua harus membiasakan mengucapkan, "Katakanlah, wahai anakku, dan janganlah kau rendahkan dirimu sendiri," dengan suara lembut lagi penuh keakraban.

Wallahu a'lam.

KotaSantri.com 2002-2023