QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Duka Gaza di Universitas Keio
4 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Keluarga

Jum'at, 13 Februari 2009 pukul 05:22 WIB

Mendidik Anak di Negeri Sakura

Penulis : Hifizah Nur

"Mi, kenapa sih orang Jepang menyembah patung?" Puteri saya senang sekali menanyakan apa saja yang tidak sesuai dengan yang saya ajarkan kepadanya. Saya sering bercerita bahwa seorang muslim harus menyembah Allah, karena Dia yang menciptakan kita dan memberikan banyak kenikmatan kepada kita. Oleh anak saya, penjelasan saya itu lalu dihubungkan dengan lingkungan sekitarnya yang bertolak belakang dengan apa yang saya jelaskan.

Kadang ia juga bertanya kenapa kita harus shalat, dan orang Jepang tidak, "Memangnya tuhan mereka tidak sama ya, dengan kita?" Pertanyaan yang sebenarnya mudah kalau dijawab dengan bahasa orang dewasa. Tapi kalau anak umur enam tahun yang bertanya, saya harus memutar otak untuk mencari kata-kata yang mudah dicerna olehnya.

Lain waktu dia bertanya, "Mi, kenapa sih orang Jepang enggak pake jilbab?" Saya jawab, "Karena mereka bukan muslim, nak," sambil memandang matanya yang selalu penuh dengan tanda tanya itu. Biasanya bila pertanyaan pertama di jawab, pasti akan berlanjut ke pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Benar saja, baru selesai saya menjawab, sudah datang lagi pertanyaan baru, "Temannya ummi, orang Islam juga, tapi kok enggak pake jilbab. Kenapa sih, mi?" Duh, ni anak, kalau seperti ini pertanyaannya, jadi sulit menjawabnya, batin saya.

Sebagaimana anak-anak lainnya, si kecil juga pernah terpesona dengan tokoh-tokoh kartun yang dikenalnya lewat pembicaraan teman-temannya di sekolah. Ketika teman-temannya sangat mengidolakan tokoh kartun Prikyua, semacam Silor Moon di jaman dulu, anak saya sempat ikut-ikutan ingin membeli apa saja yang berbau Prikyua.

Awalnya sempat pusing juga, karena bagaimana pun, ini bisa mengotori aqidahnya. Tapi seratus persen melarangnya untuk tidak membeli apa pun yang berbau Prikyua, juga kurang bijak menurut saya. Karena dia tidak akan bisa mengikuti pembicaraan kawan-kawannya. Selain itu, kalau saya melarangnya dengan paksaan, khawatir ada pemberontakan yang disimpan dan bisa meledak sewaktu-waktu nanti.

Akhirnya, beberapa kali saya ikuti keinginannya membelikan buku mewarnai Prikyua, atau gambar tempel Prikyua. Tetapi, setelah itu, pelan-pelan saya jelaskan kepadanya, "Nak, Prikyua itu, enggak bener-bener ada. Cuma cerita khayalan saja." Saya menunggu reaksinya. "Iya, aku tahu itu enggak sungguhan, tapi aku suka," jawabnya.

Lalu coba saya jelaskan lagi, "Tapi kalau semua barang harus ada Prikyua-nya, enggak baik, Nak. Itu tandanya kakak lebih suka Prikyua dari yang lain. Orang Islam itu, yang paling pertama harus disukai, dicintai itu Allah, terus rasul, terus baru yang lain." Menjelaskan konsep cinta dalam Islam kepada anak umur enam tahun bukan perkara mudah. Tapi untunglah, alhamdulillah, ternyata si kecil bisa mengerti dan berhenti meminta barang-barang yang berbau Prikyua.

Begitulah, beberapa pengalaman saya mendidik anak di negeri non muslim, tidak mudah. Meskipun saya tidak bisa mengatakan kalau mendidik anak di negeri muslim sangat mudah. Hanya saja, bila tinggal di Indonesia, tentu akan lebih banyak pilihan. Terutama dalam menentukan lingkungan yang sejalan dengan nilai-nilai Islam yang saya tanamkan di rumah.

Terbayang dalam benak saya kalau tinggal di Indonesia, tentu saya akan memasukkan anak saya ke TK Islam. Setiap hari, si kecil bisa belajar tentang Islam, Allah, Rasul, Al-Qur'an di sekolah. Yang bisa menopang berjalannya nilai-nilai Islam yang diterapkan di rumah. Bisa belajar mengaji iqra dengan lebih cepat dari saat ini. Insya Allah, di usia 6 tahun sudah bisa membaca Al-Qur'an dan sudah banyak menghafal juz amma. Selain itu, ia juga bisa terbiasa shalat berjama'ah di sekolah atau di mushala dekat rumah.

Tetapi Allah ternyata mentakdirkan saya dan keluarga untuk tinggal di negeri Sakura. Negara maju, tetapi sarat dengan nilai-nilai sekuler, dan tentu saja, syirik, menyekutukan Allah dengan patung-patung, dan berbagai kisah yang tidak sejalan dengan aqidah Islam.

Di sini, karena tinggal berjauhan dari muslim yang lain, maka, mau tidak mau, pendidikan keislaman harus dilakukan sendiri. Pengenalan tentang Allah, RasulNya, malaikat, ibadah shalat, puasa, dan lain-lain harus dilakukan sendiri. Belum lagi mengajarkan iqra dan juga membaca huruf latin yang membutuhkan ketekunan. Untuk saya, minimal si kecil mau rutin melakukan shalat dan belajar membaca iqra dengan senang hati tanpa paksaan. Meskipun untuk shalat kadang harus sedikit dipaksa, terutama ketika datang rasa malasnya.

Sebenarnya, ada masjid-masjid yang menyediakan program pendidikan anak. Misalnya TK Islam dan program menghafal Al-Qur'an di Masjid Otsuka, Tokyo. Juga pendidikan Islam non formal di mesjid Ebina. Sayangnya, tempatnya sangat jauh dari tempat saya tinggal.

Syukurlah, ada beberapa kegiatan besar yang tujuannya khusus untuk mendekatkan anak dengan nilai-nilai Islam, seperti camp Otsuka dan camp anak. Keduanya diadakan setahun sekali. Alhamdulillah, acara-acara semacam ini bisa menjadi semacam charger untuk menguatkan kembali komitmen anak-anak terhadap Islam. Acara ini juga bisa menjadi semacam obat yang mengingatkan mereka, bahwa mereka punya teman-teman yang muslim juga. Melakukan shalat dan puasa yang sama di tengah-tengah lingkungan non muslim.

Ada satu pelajaran yang saya dapat dari takdir Allah ini. Kondisi ini bisa memunculkan dan mempertajam semangat saya untuk mendidik anak dengan nilai-nilai Islam. Saya tidak bisa bersantai-santai dan menyerahkan anak ke institusi sekolah, tetapi harus berusaha dengan kekuatan sendiri. Dengan begitu, saya pribadi pun menjadi terpacu untuk meningkatkan pemahaman keislaman saya dan meningkatkan kemampuan saya dalam mendidik anak.

Tantangan lainnya dalam mendidik anak di negeri non muslim datang ketika saya ingin membiasakan anak saya untuk memakai busana muslimah. Memang, anak saya masih kecil dan belum wajib untuk mengenakannya. Awalnya, niat saya juga maju mundur untuk menentukan ini. Khawatir juga bila terlalu berbeda dengan anak-anak lain akan membuat anak saya menjadi minder. Tetapi setelah menimbang adanya kemungkinan ia akan sampai besar di sini, akan lebih baik bila teman-temannya melihat si kecil sudah berbeda sejak awal. Kalau sudah besar dan wajib untuk berjilbab, tentu akan lebih sulit lagi merubah diri untuk tiba-tiba berhijab ketika besar nanti.

Ketika di awal teman-temannya melihat anak saya berhijab, mereka memandangnya aneh. Masuk ke jidoukan, sudah dipandang aneh. Apalagi ketika masuk ke TK Jepang, banyak yang memperhatikan beda penampilan anak saya ini. Tetapi dengan meneguhkan hati, akhirnya saya meminta anak saya untuk terus memakai jilbab mungilnya. Dengan catatan, saya pilihkan jilbab-jilbab mungil yang bagus dan banyak variasinya, yang membuatnya tambah cantik dalam balutan jilbab mungilnya itu. Sesuai perkiraan, masa-masa tidak nyaman dan malu karena berbeda dari teman-temannya yang lain memang dirasakan oleh si kecil. Tetapi lambat laun, ia menjadi terbiasa dengan perbedaan itu.

Karakteristik masyarakat Jepang memang sangat berbeda dengan orang Indonesia. Jepang adalah negeri yang sangat tertutup terhadap masyarakat luar, sampai terjadi restorasi Meiji sekitar 130 tahun yang lalu. Sebelum itu, Jepang tidak berhubungan dengan negeri-negeri lain, kecuali dengan Belanda, itu pun di Nagasaki, jauh dari pusat pemerintahan dan kota-kota besar Jepang.

Dengan sejarah ketertutupan ini, sangat wajar bila penduduknya tidak wellcome terhadap sesuatu yang asing sampai saat ini. Terhadap orang asing pun, mayoritas orang Jepang tidak bisa bergaul secara hangat. Ditambah lagi, dalam budaya Jepang, ada aturan untuk tidak terlalu menonjol atau terlalu berbeda dari yang lain. Kalau berbeda sedikit saja, akan di ijime oleh teman-teman sekolahnya. Diolok-olok, dijatuhkan bekal makan siangnya, di sembunyikan sepatunya, dan hal-hal lain yang bisa menyakiti pribadi anak.

Dalam kasus si kecil, karena kami bukan orang Jepang asli, tanpa jilbab pun perbedaan itu sesuatu yang pasti ada. Seperti warna kulit yang berbeda atau bahasa yang berbeda. Hal ini sering kali saya tekankan kepada si kecil. Terutama ketika ia merasa malu karena memakai jilbab. Perbedaan itu bukan suatu kesalahan, jadi kenapa harus malu dengan berbeda dari yang lain? Begitu selalu argumen saya kepada si kecil.

Sebenarnya banyak kasus-kasus ijime yang saya dengar dari berita atau pengalaman dari teman sendiri. Kasus ijime ini bukan hanya dilakukan kepada anak berkebangsaan non Jepang, tetapi juga kepada anak Jepang yang dipandang aneh, berbeda dari orang Jepang lainnya. Dan bila sang anak tidak bisa masuk ke dalam komunitas Jepang dengan perbedaan ini, maka terjadilah pengucilan dan ijime dari teman-temannya. Ini banyak terjadi, mulai dari sekolah dasar sampai SMU.

Hal ini tentu membuat khawatir saya dan teman-teman yang menyekolahkan anak di sekolah Jepang. Namun, dari berbagi pengalaman di antara teman-teman yang sudah lebih dulu menyekolahkan anak di sekolah Jepang, penguatan mental sang anak dan dukungan yang terus menerus dari orangtua kepada anak, insya Allah bisa mengatasi masalah ini.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ita Yusvana | Karyawan
Teman di waktu istirahat yang paling sering dikunjungi.
KotaSantri.com © 2002 - 2020
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0523 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels