Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://mgamal.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Pegawai Bank Syariah
Merza Gamal adalah Pengkaji Sosial Ekonomi Islami dan Motivator Anti Rokok.
Tulisan Merza Lainnya
Koperasi dan Ekonomi Syariah
5 Oktober 2013 pukul 23:00 WIB
Human Capital dalam Ajaran Islam
24 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB
Ekonomi dalam Sudut Pandang Islam
17 Juli 2013 pukul 21:21 WIB
Membangun Usaha Mikro Berjama'ah
22 Juni 2013 pukul 12:00 WIB
Mempelajari Manajemen Waktu Islami
19 Juni 2013 pukul 21:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 16 November 2013 pukul 22:00 WIB

Riset Keterkaitan Menikah Melalui Tahapan Pacaran dan Tanpa Pacaran

Penulis : Merza Gamal

Sebuah studi yang dilakukan oleh Gupta & Singh (2007) membandingkan cinta romantis antara orang-orang yang menikah karena cinta, dijodohkan, dan hidup bersama tanpa nikah, selang mereka hidup bersama selama sepuluh tahun. Menurut studi tersebut, cinta romantis yang biasanya terjadi pada pasangan yang berpacaran sebelum menikah akan berkurang setelah pasangan tersebut menikah.

Beberapa hal yang menyebabkan hal ini adalah masing-masing pasangan pada saat berpacaran mengagumi pasangannya dan meminimalisasi hal-hal yang kurang pada diri pasangan. Akan tetapi setelah menikah, mereka baru mengalami realita kehidupan, fantasi hilang, tidak ada lagi atau menurun perasaan cinta romantis. Selanjutnya adalah hal baru.

Pengalaman baru dalam menjalin cinta menimbulkan semangat dalam cinta romantis. Jikalau hal-hal baru ini sudah tidak ada, maka cinta romantis akan berkurang. Terakhir adalah adanya penurunan arousal, yang mengakibatkan menurunnya frekuensi berhubungan seks.

Dari studi tersebut, dapat ditarik bahwa terbukti pacaran hanya akan mengurangi kepuasan menikah pada saat pasangan tersebut menjalani kehidupan besama. Hal-hal seperti fantasi, hal-hal baru dan arousal hanya akan terdapat pada pasangan yang menikah tanpa berpacaran. Alasan ini semakin memperkuat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa pacaran memang tidak diperlukan, bahkan cenderung merugikan pernikahan itu sendiri. Bahkan “cinta” yang menyebabkan pasangan menikah seringkali beda dengan “cinta” yang membuat pasangan tetap saling mencintai.

Berkebalikan dengan studi tersebut, studi tentang manajemen konfllik rumahtangga yang dilakukan Blood (1969) menyatakan bahwa pacaran itu dibutuhkan sebelum pernikahan. Blood mengatakan “courtship is the entire process that leads up to marriage”. Dalam hal ini, Blood mengatakan bahwa ada suatu proses untuk menuju suatu pernikahan dan itu dinamakan sebagai proses courtship. Masa courtship ini sangat penting untuk dioptimalkan dengan baik. Menurut studi ini, fenomena cerai sebagian besar disebabkan oleh kegagalan dalam masa courtship (pacaran). Kebanyakan pasangan yang pada akhirnya memutuskan untuk bercerai disebabkan pengalaman courtship yang tidak dimanfaatkan secara baik. Dengan kata lain, bahwa seseorang yang tidak mengoptimalkan masa courtship atau bahkan tidak sama sekali mengalami masa courtship (menikah tanpa pacaran) dikatakan akan mengalami banyak konflik. Akhir dari manajemen konflik yang kurang baik dalam rumah tangga adalah perceraian.

Studi Blood yang menyatakan bahwa perceraian disebabkan karena menikah tanpa pacaran, dibantah oleh temuan Musaddad (2005). Musaddad meneliti tentang gambaran konflik dan manajemen konflik pada pasangan yang menikah tanpa pacaran. Hasil studi Musaddad menunjukkan bahwa walaupun partisipan menikah tanpa pacaran, mereka tetap bisa melakukan manajemen konflik dengan cukup baik. Studi tersebut menyatakan bahwa partisipan mempunyai komitmen untuk mempertahankan pernikahan yang tinggi, sehingga mereka mampu mempertahankan pernikahan mereka sampai melewati masa krisis perceraian dalam suatu pernikahan. Komitmen partisipannya tersebut terbangun atas dasar pemahaman agama yang dipahami oleh pasangan itu. Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa yang mampu mempertahankan pernikahan bukanlah proses pembelajaran manajemen konflik pada saat berpacaran, tetapi komitmen untuk mempertahankan pernikahan, dan ditambah adanya keinginan untuk mempelajari manajemen konflik yang lebih lagi pada saat menjalani pernikahan.

Dari uraian yang dikemukan di atas, dapat disimpulkan bahwa berpacaran sebagai sebuah tahapan sebelum menikah tidak diperlukan bahkan bisa jadi merugikan. Hal ini bisa dilihat dari dimensi efek dari komitmen religius yang dikorbankan dengan melakukan tindakan-tindakan riskan yang bisa memicu terjadinya pelanggaran terhadap nilai-nilai yang dianut dan juga berkurangnya kepuasan menikah.

Untuk itulah tahapan pacaran atau courtship tidak bisa dipandang sebagai sesuatu yang serba netral, bebas nilai. Hal ini dikarenakan apa yang terjadi di lapangan (perilaku pacaran) telah bertentangan dengan nilai-nilai luhur yang kita anut, artinya pacaran sendiri sebagai sebuah tahapan yang diajukan untuk menuju jenjang pernikahan tidaklah bebas nilai. Bahkan, cinta yang menyebabkan pasangan menikah seringkali beda dengan cinta yang membuat pasangan tetap mencintai, itulah cinta yang di dalamnya terdapat komitmen untuk mempertahankan pernikahan itu sendiri.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Merza Gamal sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Arry Rahmawan | Penulis dan Trainer
Subhanallah, akhirnya KotaSantri.com semakin berkembang. Artikelnya bagus dan dapat menambah wawasan kita semua. Maju terus KotaSantri.com... ^^
KotaSantri.com © 2002 - 2017
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 2.9555 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels