Pelangi » Jurnal | Sabtu, 7 September 2013 pukul 22:00 WIB

Waspada dengan 3 Ketakutan

Penulis : Arry Rahmawan

Hari setelah shalat dhuha, saya merenung terhadap apa yang sudah saya capai dalam hidup saya. Saya melihat kembali dan membandingkan diri saya yang saat ini dengan diri saya 3 tahun yang lalu. Teringat 5 tahun lalu, saya adalah seorang yang dikatakan sebagai seorang ‘pemimpi besar’. Seorang yang mimpinya ketinggian, untuk anak seusia saya. Pada waktu itu, saya yang kata orang-orang tulisannya jelek, memiliki mimpi suatu saat nanti saya menjadi seorang penulis yang bukunya dijual di toko-toko buku nasional. Saya juga pada waktu itu bermimpi, ingin menjadi seorang trainer dan inspirator yang handal. Namun modal belajar dari mana? Saya tidak punya kenalan dan jaringan sama sekali. Saya hanya bisa mengagumi orang-orang yang bekerja menjadi trainer.

Saya kemudian memandang lemari saya yang selama 5 tahun perjalanan ini sudah dihiasi puluhan plakat, sertifikat, dan penghargaan dari berbagai macam institusi ketika saya menjadi pembicara, trainer, ataupun penghargaan menulis yang saya terima (kebanyakan penghargaan saya sebagai penulis produktif). Saya bergumam, mungkin jika pada waktu itu saya menyerah pada 3 ketakutan, saya tidak bisa mencapai sesuatu yang bisa saya capai seperti sekarang ini. Waspada dengan 3 ketakutan ini.

3 ketakutan ini adalah hal yang dengan mudah bisa dijadikan pembeda antara mereka yang sukses dengan mereka yang berada di capaian rata-rata. 3 ketakutan ini juga yang dulu sempat menghinggapi diri saya. Ketiga ketakutan tersebut adalah,

Takut Bermimpi, adalah ketakutan yang paling lazim karena merasa tidak yakin bahwa apa yang kita impikan bisa terwujud. Terlebih impian yang membumbung tinggi. Persis seperti yang saya alami 5 tahun lalu. Tidak jarang ada orang yang berkata kepada saya, “Sudahlah, Ry, kamu jadi ahli komputer aja daripada penulis. Kamu ga bakat menulis.” Namun kata hati dan keyakinan saya, mengarahkan saya pada aktivitas menulis. Saya tetap menjaga mimpi itu, hingga saat ini. Mimpi adalah kunci agar kita bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan. Allah itu baik, tidak membatasi potensi manusia untuk bisa menjadi orang yang extraordinary. Mengapa justru kita malah membatasi mimpi-mimpi kita sendiri?

Takut Bertindak, adalah salah satu ketakutan yang seringkali hinggap saat kita belum memiliki pengalaman sama sekali di bidang tersebut. Seperti misalnya di bidang tulis-menulis, dulu saya mulai menulis serius sejak SMA. Pada waktu kuliah dan menjadi peserta di asrama PPSDMS Nurul Fikri, saya sama sekali tidak berpengalaman untuk menulis artikel di media massa. Ada rasa takut untuk memulai karena takut dibilang jelek, atau apapun itu. Dan benar, puluhan artikel yang saya tulis dengan serius ternyata tidak masuk-masuk. Tetapi justru saya belajar bahwa dengan semakin banyak saya bertindak, semakin banyak pengalaman yang saya dapatkan. Itulah yang pada akhirnya membuat saya dapat menerbitkan 6 buah buku pengembangan diri, dan menulis lebih dari 500 artikel dalam waktu kurang dari 1 tahun. Kalau tidak bertindak sekarang juga, kapan lagi?

Takut Gagal, dan ini adalah ketakutan yang menurut saya paling sering menghinggapi diri kita. Perasaan takut bahwa sesuatunya tidak akan berjalan sesuai rencana seringkali membuat kita tidak mau mencoba. Padahal kegagalan yang permanen adalah pada saat kita tidak mau mencoba hal tersebut. Saya akui, dalam 5 tahun belakangan saya banyak sekali mengalami kegagalan. Namun, karena mengalami kegagalan itulah saya bisa belajar bagaimana kemudian strategi lain yang lebih baik, sehingga saya mendapat satu strategi tambahan yang kemungkinan berhasilnya lebih besar.

KotaSantri.com 2002-2021