Anis Matta : "Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Mengambil Hikmah Keberadaan Bangsa Jin
14 Agustus 2013 pukul 22:00 WIB
Muhasabah dan Tahapannya
8 Mei 2013 pukul 22:00 WIB
Ibrahim AS, Muhammad SAW, dan Islam
30 Januari 2013 pukul 13:00 WIB
Bahaya Pluralisme, Sekularisme, dan Liberalisme
2 Januari 2013 pukul 14:00 WIB
Simbol dan Pengkultusan
5 Desember 2012 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 31 Agustus 2013 pukul 22:22 WIB

Tragedi Mesir dan Arab Spring

Penulis : Sylvia Nurhadi

Militer Mesir yang merupakan pendukung utama aksi kudeta terhadap pemerintahan resmi pimpinan Mursi, presiden terpilih secara demokratis, kembali memamerkan kebrutalan dan kebiadabannya. Rabu, 14 Agustus lalu, mereka menembaki dari udara demonstran pendukung Mursi yang sejak beberapa minggu terakhir tinggal di tenda-tenda yang dibangun di 2 lapangan besar Kairo sebagai tanda protes. Militer juga membuldozer, bahkan membakar tenda-tenda tersebut, tanpa peduli di dalam ada penghuninya. Alhasil, ratusan orangpun tewas, menurut sumber resmi pemerintah pengkudeta, ribuan menurut Ikhwanul Muslimin. Belum lagi korban terluka yang kabarnya mencapai 4000-an orang.

Seperti kesetanan, keesokan harinya, militer yang ‘normalnya’ berfungsi sebagai pelindung rakyat, masih juga menembaki dan membakar sebuah rumah sakit yang menampung korban pembantaian mereka. Astaghfirullahaladzim… Hanya orang buta tuli tak berhati saja yang tak akan tersentuh oleh tragedi memilukan ini. Apalagi secara umum, mereka adalah sesama Muslim. Padahal belum juga kering darah para syuhada di bumi Suriah. Ada apa ini sebenarnya?

“Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian, sehingga dia mencintai saudaranya (sesama Muslim) sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.“ (HR. Bukhari).

Catatan resmi melaporkan, berbagai kerusuhan yang terjadi di Timur Tengah, diawali pada Desember 2010. Ketika itu, hampir secara serempak, di Tunisia, Libia, Mesir, Yaman, Suriah, Aljazair, Maroko, Irak, Kuwait, Yordan, Bahrain, dan Sudan, terjadi gelombang protes melawan kekuasaan pemerintahan masing-masing yang dianggap tidak demokrasi, otoriter, pemimpin yang diktator, dan tidak pro rakyat. Media menyebut rentetan peristiwa ini dengan nama The Arab Spring.

Tetapi hingga detik ini, setelah 2 tahun 8 bulan berlalu, kerusuhan bukannya mereda, malah sebaliknya makin memarah, meski di sebagian negara, presiden baru telah terpilih secara demokrasi. Contoh yang paling jelas, ya Mesir itu tadi.

Husni Mubarak, mantan presiden Mesir yang pernah berkuasa selama 30 tahun secara otoriter dan dianggap menjalankan pemerintahan secara tidak demokratis memang berhasil digulingkan. Namun penggantinya, Muhammad Mursi, yang nyata-nyata dipilih secara demokratis, pun tetap digulingkan, bahkan hanya satu tahun setelah terpilih.

Parahnya lagi, mantan presiden yang didukung Ikhwanul Muslimin ini hingga detik ini tidak diketahui keberadaannya. Kabarnya ia disembunyikan militer yang menjegalnya. Sebaliknya, Husni Mubarak yang sebelumnya terancam berbagai kasus berat selama masa pemerintahannya, tiba-tiba saja dibebaskan. Dan para jenderal masa pemerintahannya dulupun kini mendapatkan posnya kembali.

Akan halnya Ikhwanul Muslimin yang dibentuk 83 tahun lalu oleh Hasan Al-Banna yang wafat dibunuh secara misterius pada tahun 1949, sejak berdirinya memang selalu dimusuhi pemerintah. Hasan Al-Banna sendiri dikenal sebagai ulama andal yang ingin menghidupkan kembali masyarakat Islam yang sesuai dengan Al-Quran dan hadits. Untuk tujuan itulah Ikhwanul Muslimin didirikan.

Ulama yang sejak umur 14 tahun telah hafal Al-Qur'an alias hafidz ini hidup di masa sekulerisme mulai menjangkiti dunia Islam. Ini adalah hasil kerja Barat, khususnya kolonial Inggris untuk menghancurkan persatuan Islam, yang otomatis kandas sejak tahun 1924, seiring dengan jatuhnya kekhalifahan Islam yang berpusat di Turki. Ini masih ditambah dengan pecahnya Perang Dunia II, yang membuat Negara-negara Islam terpecah belah dan takluk kepada sekutu (Barat) yang notabene Kristen.

Maka sejak itu pulalah Islam kehilangan jati dirinya. Melalui Gazwl Fikrinya (Perang Pemikiran), Barat berhasil mencekoki umat Islam dengan ide-ide yang jauh dari nilai Islam. Demokrasi adalah salah satunya. Hingga akhirnya, detik ini rasanya sedikit sekali orang berani mengatakan secara terang-terangan, bahwa demokrasi itu tidak Islami.

Bagaimana tidak, di zaman di mana orang jahat lebih banyak daripada orang baik, orang yang tidak tahu lebih banyak dari orang yang tahu, namun kita dipaksa harus menerima pendapat dan pikiran orang-orang seperti itu, hanya karena mereka mayoritas dan kita minoritas. Padahal bila saja kita mau mengambil salah satu hikmah mempelajari sirah nabi (biografi Rasulullah), musyawarah itu jauh lebih berkwalitas dari pada azas demokrasi. Demokrasi bisa dijalankan setelah masyarakat terdidik dengan baik, dapat membedakan kebenaran, mana kejahatan mana kebaikan.

Dengan mempelajari sirah nabi pula, kita bisa mengetahui bagaimana Rasulullah menerapkan ayat-ayat Al-Qur'an, bagaimana Rasulullah menghadapi orang-orang musyrik, para ahli kitab dan kaum munafikun yang memusuhi Islam. Haram hukumnya menjadikan orang-orang yang tidak seagama sebagai orang kepercayaan, apalagi pemimpin.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Maidah [5] : 51).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (agamamu), mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (QS. Ali Imran [3] : 118).

Namun inilah yang terjadi, sebagian besar Negara Islam dan Negara mayoritas berpenduduk Muslim saat ini menjadikan Barat sebagai kiblat, bahkan menjadikan mereka tempat bergantung, tempat meminta bantuan dan berhutang, tidak peduli apa yang mereka sembah serta bagaimana sikap mereka terhadap umat Islam. Rasa rendah diri karena memang kaum Muslimin saat ini ‘tidak ada apa-apanya’ dibanding Barat membuat mereka rela menjual agama dan harga diri mereka, asal bisa diterima dan disukai Barat.

“Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata : “Kami beriman;” dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka) : “Matilah kamu karena kemarahanmu itu.” Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (QS. Ali Imran [3] : 119).

Tampak jelas bahwa Al-Qur'an telah diremehkan, tidak lagi diperhatikan dan dijadikan rujukan utama. Itulah keimanan yang hanya setengah-setengah. Padahal yang seperti ini dapat membuat kita masuk ke dalam golongan orang munafik. Bukahkan Allah SWT memerintahkan kita agar masuk Islam haruslah secara kaffah (keseluruhan) bila ingin selamat, dunia akhirat.

Harusnya kita benar-benar menyadari bahwa orang-orang munafik adalah musuh terberat, karena mereka musuh dalam selimut, yang sewaktu-waktu bisa menikam tanpa kita sadari, yang diam-diam membantu musuh ketika kita sibuk berperang. Sungguh, betapa berbahayanya orang munafik itu. Tidak heran jika Al-Qur'an mengancam mereka ini dengan kerak neraka, neraka yang terdalam letaknya. Padahal sebenarnya surga sudah berada di genggaman bila saja mereka mau memperdalam agamanya, tidak berburuk sangka, dan yakin bahwa Allah pasti menolongnya, di dunia maupun di akhirat.

Tampaknya inilah yang terjadi di Negara-negara Timur Tengah yang notabene Islam. Suriah dengan Basar Assadnya yang Syiah, sebuah aliran agama yang mengaku Islam namun meragukan keaslian Al-Qur'an, menjadikan pemimpinnya sesembahan, maksum alias mustahil berbuat kesalahan, melestarikan kawin mut’ah yang identik dengan perzinahan, dan menjadikan carcian sebagai bagian dari syahadat, tak tanggung-tanggung, carcian tersebut terhadap para sahabat dan istri Rasulullah pula.

Tak heran bila detik ini tanpa ragu, bahkan dengan sadisnya mereka membantai habis-habisan rakyat yang dianggap tidak sepaham dengan pemikiran mereka. Terbuka sudah kedok yang selama ini mereka sembunyikan rapat-rapat di balik taqiyahnya, yaitu dakwah lemah lembut yang menjadi syarat ulama Syiah itu.

Jadi, Arab Spring ini sebenarnya memang sunnatullah. Kebenaran pasti akan datang. 89 tahun sudah umat Islam tidur lelap dalam mimpi buruknya. Abad 15 hijriyah yang sering disebut-sebut sebagai era kebangkitan Islam tampaknya sedang menuju realita. Inilah fenomena akhir zaman yang telah diprediksi Rasulullah SAW.

Dari Abu Hurairah RA, katanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Hari qiamat tidak akan terjadi sehingga harta benda melimpah ruah dan timbul banyak fitnah (ujian, kesesatan, kekufuran, kegilaan, penderitaan, mushibah) serta sering terjadi 'al-Harj'." Sahabat bertanya, “Apakah al-Harj itu, wahai Rasulullah?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, “Peperangan, peperangan, peperangan." Beliau mengucapkannya tiga kali. (HR. Ibnu Majah).

Hari ini dunia ini telah disesaki berbagai gadget, harta benda hasil kemajuan teknologi yang demikian pesat. Di mana-mana hiruk pikuk dan kemewahan duniawi bergaung keras, membenamkan bisikan hati nurani jauh-jauh ke dalam sana. Namun rupanya tak cukup untuk benar-benar menguburkannya. Buktinya yaitu tadi, Arab Spring, gelombang protes yang menyuarakan hati hamba-hamba Allah yang menyadari bahwa hari pembalasan akan segera tiba.

Perang antara hisbullah (pasukan Allah) sebagai pembawa kebenaran melawan hisbusyaitan (pasukan syaitan) sebagai pembawa kejahatan pasti akan terjadi, bukan perang antara Timur vs Barat, atau antara Islam vs Kristen/Yahudi sebagaimana yang disangka banyak orang.

Mesir hari ini membuktikan hal ini. Dalam sebuah rekaman video terlihat umat Nasrani bergandengan tangan membentuk rantai pelindung bagi Muslim yang sedang shalat berjama'ah. Padahal beberapa hari sebelumnya rumah ibadah mereka telah dibakar dan dikabarkan bahwa Muslimlah yang harus bertanggung-jawab atas peristiwa busuk tersebut. Namun Allah SWT berkehendak lain, dibukanya topeng mahluk jahat tersebut, ternyata ini adalah hasil kerja militer yang ingin memfitnah kaum Muslimin, Ikhwanul Muslim, khususnya. Syukurlah pada akhirnya umat Nasrani bisa melihat kenyataan ini.

“Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata : “Sesungguhnya kami ini orang Nasrani.” Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri. Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad SAW).” (QS. Al-Maidah [5] : 82-83).

Abdullah bin zubair menjelaskan bahwa ayat 82 dan 83 surat Al-Maidah di atas diturunkan sehubungan dengan raja Najasyi, penganut Nasrani, dan para teman pendetanya. Saat dibacakan beberapa ayat Al-Qur'an di hadapan mereka, air mata mereka berlinang. Mereka yakin dan percaya terhadap isi dan kandungan ayat-ayat itu. (HR. Nasa’i).

“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.“ (QS. Al-Baqarah [2] : 213).

Manusia adalah umat yang satu, memiliki Tuhan yang satu, yang tidak beranak dan tidak diperanakkan, tidak disekutukan dengan apapun. Allah SWT mengirimkan sejumlah nabi dan rasul dengan kitabnya masing-masing agar manusia tidak lupa dan berselisih akan kenyataan ini.

Sayang sebagian manusia ada yang tetap keras kepala, lupa, dan tersesat. Beruntunglah umat Islam memiliki kitab suci yang hingga detik ini tetap murni dan tidak diselewengkan, hingga akhir zaman nanti. Itulah janji Allah. Ini berkat adanya hadits yang merupakan saksi turunnya ayat-ayat di samping penghafal-penghafal Al-Qur'an yang selalu ada dan banyak jumlahnya hingga hari akhir nanti.

Manusia, di bawah syari'at dan aturan nabi masing-masing, diperintahkan untuk berlomba dalam kebaikan. Namun tetap bersatu di bawah keimanan bahwa Tuhan adalah Dia, Allah SWT, dalam melawan kebathilan, melawan Iblis dan pasukannya.

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari'at (peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syari'at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (QS. Al-Jasiyah [45] : 18).

”Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu.” (QS. Al-Maidah [5] : 48).

Mesir tampaknya telah mendahului bangsa lain yang masih terbuai dalam keegoisan rasa kebangsaan, suku, dan agamanya. Saat ini Mesir sedang berada di tahap bersatu melawan pasukan syaitan. Adalah kewajiban kita untuk segera mengikutinya, menyongsong peperangan akhir zaman yang telah diprediksi ratusan tahun silam.

Wallahu a'lam bishshawwab.

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

oblongsantri | desainer dan konveksi
Banyak referensi yang bisa didapat, untuk perkembangan ide dan kreasi di oblong santri. Keren.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1236 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels