QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://arry_rahmawan.kotasantri.com
Bergabung
4 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Creative Writer and Blogger
Arry Rahmawan lahir di Tangerang, 5 Desember 1990. Mahasiswa pascasarjana Universitas Indonesia. Saat ini kesibukannya sebagai penulis di http://arryrahmawan.net, berbagai jurnal, majalah, buletin, dan telah menerbitkan 5 buah buku. Pendiri dan direktur dari CerdasMulia Leadrrship and Training Center (cerdasmulia.com) ini juga aktif sebagai pembicara seminar nasional di berbagai daerah di …
http://arryrahmawan.net
contact@arryrahmawan.net
arry.rahmawan@gmail.com
arry_tiui09
arry.rahmawan@windowslive.com
arry.rahmawan@gmail.com
http://twitter.com/arryrahmawan
Tulisan Arry Lainnya
Setiap Hari-Hari Kita adalah Istimewa
14 Juni 2013 pukul 20:00 WIB
Kebiasaan Berbuat dan Memberi Lebih
8 Juni 2013 pukul 08:00 WIB
Menghasilkan Ide Kreatif
7 Juni 2013 pukul 22:00 WIB
Tujuan Akhir dalam Bisnis
2 Juni 2013 pukul 19:00 WIB
Judge a Book by It's Cover
27 Mei 2013 pukul 21:30 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 15 Juni 2013 pukul 15:00 WIB

7 Langkah Sederhana Agar Tidak Mengulang Kesalahan yang Sama

Penulis : Arry Rahmawan

Salah itu biasa. Orang yang takut menghadapi kesalahan justru berisiko menjadi diri yang tidak berkembang dan jalan di tempat. Tapi akan menjadi tidak biasa jika kita kembali, kembali, dan kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Kesalahan-kesalahan yang kita lakukan itu berguna sebagai feedback bahwa cara yang kita lakukan belum tepat dan perlu diperbaiki. Tetapi tidak jarang juga kita melihat bahwa justru terulang kembali kesalahan-kesalahan lama yang dibuat. Nah, kali ini saya ingin berbagi tips mengenai 7 langkah yang bisa diterapkan agar kita tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama.

"Tafakkur 1 jam, lebih baik dari ibadah 1 tahun.” Sepintas, ungkapan Imam Syafi’i itu berlebihan. Bagaimana mungkin sebuah amal yang dilakukan dalam rentang 1 jam, bisa lebih baik dari ibadah selama 1 tahun?

Ungkapan Imam Syafi’i itu tentu tidak disampaikan dalam konteks perbandingan yang saling menafikan antara satu dengan yang lain. Imam Syafi’i tidak mengajak agar orang melakukan tafakkur 1 jam, lalu tak perlu beribadah selama satu tahun. Sama sekali tidak. Ia hanya ingin menekankan pentingnya merenung, menghisab diri, mengevaluasi amal yang telah lalu, menafakuri hidup, dan seterusnya. Sikap ini sangat penting dan bahkan menjadi syarat seseorang untuk mampu memiliki kualitas ibadah yang lebih baik.

Ada beberapa langkah yang bisa kita lakukan agar kita terbiasa mengambil pelajaran dari masa lalu, baik dari apa yang telah dilakukan diri sendiri, maupun orang lain.

Pertama; Merenung, bermuhasabah, atau mengevaluasi amal dalam satu hari.

Kebiasaan seperti inilah yang dilakukan seorang sahabat yang menurut Rasulullah sebagai ahli surga. Dalam hadits shahih disebutkan, dalam 3 kesempatan Rasulullah menyinggung kedatangan sahabat calon penghuni syurga itu di dalam majelis para sahabat. Ahli syurga itu ternyata bukan ahli ibadah yang kuantitas ibadahnya melebihi para sahabat lain. Ia hanya kerap melakukan evaluasi diri menjelang tidurnya setiap malam, lalu ia hapus semua rasa gundahnya pada sesama muslim.

Dalam kitab ‘Bukaul Mabrur’ yang mengulas tentang tangisan orang-orang shalih disebutkan perkataan salafushalih, “Para orangtua kami selalu menghitug diri dari apa yang mereka perbuat dan apa yang mereka ucapkan, kemudian mereka menulisnya dalam sebuah daftar. Setelah shalat ‘Isya, mereka mengeluarkan daftar amal dan ucapannya kemudian menimbangnya. Jika amalan yang diperbuat buruk dan perlu istighfar, maka mereka bertaubat dan beristighfar. Namun jika amalan itu baik dan perlu disyukuri, merekapun bersyukur kepada Allah hingga mereka tidur. Kamipun mengiikuti jejak mereka. Kami mencatat apa yang kami perbuat dan menimbangnya.”

Kedua; Memiliki agenda harian untuk mengevaluasi amal-amal yang telah dilakukan.

Agenda harian ini berisi daftar amal harian yang dianggap wajib dilakukan. Misalnya; Memulai pekerjaan dengan Bismillah, Membaca Istighfar minimal 100kali, Membaca Al-Qur’an sekian halaman, dan sebagainya. Sebaliknya catat pula alasan, problem, dan hambatan yang menjadikan kita tidak mampu menunaikan amal-amal harian tersebut. Mencatat hambatan amal-amal baik akan menjadi bahan pengalaman agar bisa diantisipasi pada waktu selanjutnya.

Sebagaimana setiap orang akan menerima lembaran-lembaran amalnya selama di dunia pada pengadilan akhirat nanti, setiap muslim sangat diajurkan untuk menghitung-hitung sendiri amal-amalnya sejak di dunia. Tujuannya jelas, agar segala keburukan tidak terulang, dan segala kebaikan terpelihara bahkan lebih baik lagi. Umar RA memberi nasehat, “Hisablah amal-amal kalian sendiri, sebelum amal-amal kalian dihisab (oleh Allah di hari kiamat).”

Imam Hasan Al-Bashri mengatakan, “Sesungguhnya penghisaban di hari kiamat akan ringan bagi kaum yang telah menghisab amalannya di dunia. Begitu pula sebaliknya, penghisaban di hari kiamat akan berat bagi orang yang tidak menghisab amalannya di dunia.”

Ketiga; Biasakan menilai dan mempertajam kontrol terhadap diri sendiri.

Seseorang yang takjub dengan pribadi Hasan Al-Bashri pernah bertannya, “Siapa yang mendidikmu memiliki pribadi seperti ini?” Hasan Al-Bashri menjawab pendek, “Diriku sendiri”.

“Bagaimana bisa seperti itu?” tanya orang itu lagi. Hasan menguraikan, “Jika aku melihat keburukan pada orang lain, aku berusaha menghindarinya. Jika aku melihat kebaikan pada orang lain, aku berusaha mengikutinya. Dengan begitulah aku mendidik diriku sendiri.”

Sikap Ulama saolih generasi tabi’in itu jelas menekankan pentingnya seseorang untuk mengambil pelajaran sebuah peristiwa. Teorinya sederhana, meniru yang baik dan menghindari yang tidak baik. Tapi hasilnya, prinsip itulah yang menghadirkan pribadi yang menakjubkan. Apa yang melatarbelakangi Hasan Al-Bashri berprinsip seperti itu? Tidak lain untuk menghindari kekeliruan masa lalu, baik yang dilakukan diri sendiri maupun orang lain. Itu kuncinya, sehingga dari hari ke hari ia selalu berupaya memperbaiki kepribadiannya.

Keempat; Sadarilah bahwa belajar dari pengalaman akan menambah kedewasaan dan kebijakan dalam menyikapi hidup.

Semakin banyak orang bercermin terhadap masa lalu, maka ia akan semakin bijaksana dalam menentukan langkah. Saat mendapat kelapangan, seseorang tidak mudah larut oleh kesenangan. Ia berfikir bahwa ada kalanya lapang dan ada kalanya sempit. Saat medapat kesulitan, ia juga tidak mudah hanyut. Karena ia berfikir bahwa kesulitan akan silih berganti dengan kemudahan, dan seterusnya. Perbandingan seperti ini membuat seorang mukmin tetap bersyukur apapun kondisi yang ia alami. Itulah variasi dan itulah wujud kesempurnaan hidup sehingga saling melengkapi. Tanpa sikap seperti ini, orang akan mudah terkena peyakit jiwa. Mudah gelisah dan selalu merasa tidak puas. Ia bahkan sulit merasa bahagia karena selalu terombang-ambing oleh dinamika hidup itu sendiri.

Kelima; Ketahuilah, bahwa dalam batas tertetu kesalahan dan kekeliruan adalah lumrah.

Allah SWT tidak menciptakan manusia sempurna. Selalu saja ada manusia yang lebih di sini dan kurang di sana. Atau sebaliknya, lebih di sana dan kurang di sini. Sehingga prinsipnya jangan takut gagal dalam beramal. Tidak jarang, kegagalan dan kesalahan merupakan batu loncatan ke arah kebaikan. Setidaknya ia menjadi spirit untuk melakukan penebusan. Makna ini antara lain yang terkandung dalam pesan Rasulullah agar kita mengiringi segala keburukan yang kita lakukan dengan kebaikan. “Bertakwalah kamu kepada Allah di mana saja kamu berada. Dan ikutilah keburukan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapus keburukan.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Keenam; Selami sejarah orang-orang yang hidup di masa lalu.

Dengan mengetahui masa lalu, berarti seseorang memiliki modal informasi berharga sebagai bekal perjalanan yang ia lakukan di masa mendatang. Peristiwa apapun, baik dilakukan oleh sebuah generasi maupun orang per orang, harus menjadi cermin perbandingan melangkah ke depan. Kehidupan ini tak ubahnya cermin pengulangan masa lalu. Silih berganti antara keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, kebahagiaan dan kesediahan. Semua berputar dan berganti bagai pergantian siang dan malam. Firman Allah SWT, “Dan hari-hari itu kami pergilirkan di antara manusia.” (QS. Ali Imran : 140).

Itulah hikmah penjabaran sejarah perjuangan para Rasul dan Nabi yang tertuang dalam Al-Qur’an. Allah SWT membina mental perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya melalui uraian panjang tentang perjuangan para Nabi dan Rasul sebelum mereka. Jejak sejarah perjuangan itulah yang akan menjadi rambu bagi umat manusia sepanjang zaman dalam menegakkan kebenaran.

Fir’aun hanya satu tokoh sejarah yang diungkapkan Al-Qur’an. Ia merupakan simbol penguasa yang melakukan kekejaman dan penindasan terhadap rakyat, sekaligus memusuhi ajaran Allah SWT yang dibawa oleh Nabiyullah Musa AS. Melihat sejarah sepak terjang Fir’aun, manusaia diajak mengerti bagaimana bahayanya kejahatan yang datang dari sebuah kekuasaan. Lebih berbahaya dari kejahatan kriminal berupa pembunuhan atau perampokan. Kisah fir’aun juga memberi gambaran kepada para penegak kebenaran bahwa mereka akan selalu menghadapi gembong-gembong kejahatan. Karena setiap zaman memiliki ‘Fir’aun-nya' sendiri.

Ketujuh; Seringlah berdiskusi, bertukar pengalaman, saling menasehati dengan orang-orang shalih tentang berbagai fenomena hidup.

Seorang pemikir menyebutkan, “Manusia itu ibarat burung yang bersayap sebelah.” Tak mungkin bisa terbang, jika ia tak memiliki sayap pasangannya. Maka, ia hanya bisa terbang kalau mau berpelukan erat-erat dan berkerja sama dengan orang lain. Begitulah analoginya, setiap orang memerlukan bantuan orang lain untuk bisa berhasil dalam hidup. Apa artinya?

Setiap orang harus saling memberi dan membantu satu sama lain. Rasulullah mengistilahkan hal ini dengan sabdanya, “Setiap mukmin adalah cermin bagi saudaranya yang lain.” Cermin, sumber informasi paling akurat dan jujur tentang berbagai fenomena. Cermin tempat memperoleh penilaian tentang diri, kapanpun dan di manapun. Cermin juga pandai menyimpan informasi hanya pada pihak yang langsung terkait dengan informasi itu.

Roda kehidupan takkan pernah berhenti bergulir. Hari demi hari terus berjalan. Tugas kita adalah memanfaatkan kesempatan hari ini untuk menyongsong hari esok. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya membuat kita menjadi lebih baik dari yang telah lalu. Terlalu banyak pelajaran yang seharusnya menjadikan kita berhati-hati dan berhitung matang untuk melangkah. Terlalu banyak peringatan untuk menyadarkan kita agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Ingat, jangan sampai terantuk pada batu yang sama.

http://arryrahmawan.net

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Arry Rahmawan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lia Juliana | Staf Purchasing
My fav situs nih.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0522 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels