HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://sylvia-nurhadi.kotasantri.com
Bergabung
12 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Selatan - DKI Jakarta
Pekerjaan
Ibu RT merangkap Mahasiswi
Saya dilahirkan 48 tahun yang lalu sebagai anak ke 3 dari 8 bersaudara. Sebagai anak tentara saya sering berpindah-pindah tempat tinggal. Saya menyelesaikan sekolah dasar di SD Besuki Jakarta, pendidikan menengah pertama di Sekolah Indonesia Kuala-Lumpur (SIK), Malaysia sementara SMA saya selesaikan di SMA 5 Bandung. Usai menempuh pendidikan tinggi …
http://vienmuhadi.wordpress.com
Tulisan Sylvia Lainnya
Syukur
16 Mei 2012 pukul 11:00 WIB
Menghisab Diri (Muhasabah)
28 Maret 2012 pukul 14:30 WIB
Hati-hati Bahaya Yahudi!
24 Maret 2012 pukul 12:30 WIB
Syahadat, Shalawat Nabi, dan Hikmahnya
4 Januari 2012 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 26 Mei 2012 pukul 13:15 WIB

Mencermati Tindakan Israel terhadap Palestina

Penulis : Sylvia Nurhadi

Mengapa Hamas melempar roket ke Israel? Banyak pihak yang menyalahkan Hamas karena hal tersebutlah yang menjadi pemicu ’kemarahan’ Israel hingga ia ’terpaksa’ membombardir Gaza dan sekitarnya yang dianggap sebagai sarang ’teroris’ Hamas. Dengan alasan yang sama, pihak Amerika Serikat mendukung operasi Israel tersebut. ” Untuk menghentikan kekerasan, Hamas harus berhenti menembakkan roket ke Israel demi menghormati gencatan senjata yang berkelanjutan dan bertahan lama,” kata juru bicara Gedung Putih, Gordon Johndroe.

Oleh sebab itu, pada 28 Desember 2008 atau 30 Zulhijjah, tepat beberapa saat sebelum pergantian tahun baru Islam, Israel ’mengeksekusi sang teroris’ dengan menjatuhkan bom-bomnya melalui sejumlah jet tempur pada 230 titik di Gaza dan sekitarnya. Padahal tanah ini dipenuhi puluhan ribu pengungsi Palestina yang terusir dari tanah dan rumah mereka sendiri yang diduduki Israel sejak 1948.

Menjadi pertanyaan besar, benarkah cara, alasan, dan waktu yang dipilih Israel untuk menghukum Hamas? Berikut beberapa fakta menarik :

1. Rakyat Palestina telah mendiami wilayah Gaza, Tepi Barat, dan seluruh tanah yang saat ini di’klaim’ sebagai tanah Israel sejak ribuan tahun lamanya secara turun temurun.

2. Dengan berakhirnya PD I pada tahun 1917, yang dimenangkan sekutu, Inggris menjanjikan tanah Palestina sebagai hadiah bagi orang-orang Yahudi yang dianggap telah membantu sekutu dalam memenangkan perang tersebut.

3. Sejak adanya perjanjian di atas, orang-orang Yahudi mulai berdatangan ke Palestina. Maka mulai saat itu sering terjadi bentrokan antara penduduk asli Palestina dengan pendatang baru Yahudi.

4. Pada 1948, didukung Amerika Serikat, Inggris, dan sekutunya termasuk PBB, Israel mengumumkan bahwa tanah Palestina adalah milik Israel tanpa memperdulikan suara penduduk asli Palestina. Dengan kata lain, Israel telah mendirikan sebuah negara di atas tanah rakyat Palestina. Bahkan secara sepihak, tanpa izin PBB, Israel mengklaim Yerusalem sebagai ibu kota negeri tersebut.

5. Sejak itu orang-orang Yahudi yang semula tersebar di seluruh dunia secara terang-terangan dan mencolok mata berhamburan memasuki tanah Palestina. Untuk itu pemerintah Israel mendirikan dan membangun ribuan tempat tinggal bagi para pendatang tersebut lengkap dengan segala fasilitasnya. Sebaliknya bagi penduduk asli, mereka makin terpinggirkan dan tersisih.

6. Muncul gerakan Intifada I pada 1987, yaitu gerakan perlawanan rakyat Palestina dengan melempar batu. Diikuti Intifada II atau Intifada Al-Aqsha, yang timbul sehubungan dengan adanya penodaan terhadap masjid Al-Aqsha pada 2000. Harap dicatat dalam peristiwa tersebut 900 anak Palestina menjadi korban tewas!

7. 2006, Hamas memenangkan Pemilu Palestina yang dilaksanakan secara demokrasi. Namun otoritas Israel tidak mau mengakuinya. Otoritas sejak lama memang telah memusuhi Hamas karena organisasi yang didukung sebagian besar rakyat ini dianggap berani melawan otoritas. Anehnya lagi, negara-negara Barat yang mengaku diri sebagai negara demokrasi mengekor kebijaksanaan Israel tersebut.

8. Sejak Juni 2007, Hamas menguasai Gaza. Maka pihak otoritaspun memberlakukan blokade terhadap wilayah tersebut.

9. Ketegangan antara Hamas dan pihak otoritas terus meningkat hingga terjadi genjatan senjata pada Juni 2008. Berakhirnya gencatan senjata pada Desember 2008 tidak menghasilkan dibukanya blokade Gaza. Maka Hamas mulai melemparkan roket-roketnya ke wilayah Israel.

Dari sejumlah bukti dan fakta di atas, alasan Israel memborbadir Gaza dan sekitarnya adalah karena penembakan roket yang dilakukan Hamas, jelas tidak dapat diterima. Apalagi bila mengutip perkataan Ehud Barak, menteri Pertahanan Israel yang diberitakan harian Israel Haaretz. Ia mengatakan bahwa ia telah memerintahkan penyerangan tersebut sejak enam bulan yang lalu, padahal ketika itu Palestina dan Israel baru saja menandatangani kesepakatan genjatan senjata!

Di luar itu, pantaskah serangan roket yang dilakukan Hamas dibalas dengan serangan ke seluruh penjuru Gaza dengan menjatuhkan sejumlah besar bom yang ditembakkan melalui jet-jet tempur dan mengakibatkan 2000-an orang terluka dan lebih 420 orang tewas, 100 di antaranya rakyat sipil termasuk kanak-kanak? Juga merontokkan sejumlah bangunan perumahan, perkantoran, dan bahkan masjid serta rumah sakit?

Bagaimana pula dengan pemilihan waktunya? Mengapa harus menjelang tahun baru Islam? Padahal tahun baru Hijriyah bagi pemeluk Islam sangat mulia artinya. Tahun hijrahnya (pindah) Rasulullah dari Mekkah ke Madinah pada 622 M ini ditetapkan sebagai tahun baru umat Islam sebagai tanda dimulainya tonggak sejarah kegemilangan serta kejayaan Islam.

Berdasarkan pengamatan para saksi mata yang terdiri dari relawan mancanegara yang beberapa kali terjun dan membantu rakyat Gaza yang memang sering kekurangan pangan dan obat-obatan, rakyat Gaza hidup dalam kondisi yang amat mengenaskan. Sejak lama pengangguran terjadi di mana-mana. Kemiskinan merajalela. Fasilitas pendidikan, kesehatan, bahkan air dan listrikpun amat minim. Pihak otoritas Israel tidak saja hanya menghancurkan ribuan rumah, namun juga sebagian besar tanah pertanian yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Dengan berbagai cara, halus maupun kasar, pihak otoritas memaksa penduduk asli keluar dari tanah air mereka sendiri.

Pemerintah dengan sengaja tidak menyediakan pemukiman dengan fasilitas kebersihan, air, listrik, dan pangan yang memadai. Bahkan sebagian besar terpaksa hidup dalam pengungsian. Gaza adalah salah satu wilayah yang penuh dengan pengungsian tersebut. Wilayah di sudut barat daya Israel yang sempit ini tidak mempunyai jalan keluar selain laut dan perbatasan dengan Mesir. Untuk keluar dari tempat ini penduduk harus melewati cek poin yang dibangun Israel dan jumlahnya hingga ratusan. Cek poin ini dikontrol dan dijaga ketat oleh otoritas Israel yang diperlengkapi senjata!

Menurut Konvensi Jenewa 1949, status Gaza dan Tepi Barat di mata internasional adalah occupied territories atau daerah pendudukan. Karenanya kedua daerah tersebut berhak atas sejumlah perlindungan dari pihak yang mendudukinya alias Israel. Hak tersebut di antaranya adalah hak kesejahteraan dan keamanan. Namun kenyataannya adalah sebaliknya. Mereka hidup terisolasi di rumahnya sendiri. Masyarakat Palestina sudah terlalu lama mengalah kendati mereka diperlakukan tidak adil. Itu sebabnya mereka sangat berharap akan bantuan Hamas dalam membebaskan mereka dari boikot dan terutama pendudukan Israel yang sangat jauh dari keadilan. Rakyat Palestina seperti juga normalnya rakyat di belahan dunia manapun mendambakan negerinya bebas dari penjajahan pihak manapun, tidak Israel, tidak Amerika, tidak juga negeri-negeri Arab. Yang mereka inginkan hanyalah Gaza dan Tepi Barat dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya. Tidak lebih! Meski bila mereka menginginkan seluruh tanah yang saat ini dikuasai Israel pun sebenarnya sah-sah saja. Salahkah itu?

Namun tampaknya para petinggi Zionis Israel telah berhasil mencekoki masyarakat Yahudi dengan doktrin Holocaust-nya. Kaum Yahudi dibuat begitu bernafsu untuk menguasai tanah Palestina secara mutlak dan keseluruhan. Dengan perasaan penuh dendam kesumat mereka berusaha membalas sakit hati mereka dengan membantai habis-habisan penduduk asli Palestina yang ingin mereka kuasai tanahnya. Padahal semua orang yang mengikuti masalah Holocaust pasti tahu persis bahwa Nazi di bawah Hittler-lah penyebabnya, bukan bangsa Palestina maupun bangsa Arab apalagi masyarakat Muslim! Itupun bila Holocaust memang benar-benar terjadi sedahsyat yang didengung-dengungkan Zionis.

Kesimpulannya, jelas terlihat tindakan Israel dan sekutunya memang sengaja dimaksudkan untuk menghapuskan bangsa Palestina secara khusus (Genocide) dan memusuhi masyarakat Islam secara umum.

Lalu bagaimana reaksi kita sebagai umat Islam? Patutkah kita hanya berpangku tangan menyaksikan saudara-saudara kita dibantai habis-habisan? Pantaskah harga diri kita diinjak-injak seenaknya setelah Rasulullah dan para sahabat berjuang dengan susah payah menegakkan agama ini? Pemerintah telah berinsiatif mengirim bantuan uang, makanan, serta obat-obatan lengkap dengan tim medisnya. Begitu pula sejumlah ormas seperti MER-C, Bulan Sabit Merah, dan lain-lain. Tetapi cukupkah itu semua? Israel dibantu pemerintah Amerika Serikat terlalu kuat dan kaya untuk ditentang. Marilah kita berkorban sedikit dengan memboikot barang-barang Amerika/Yahudi. Kurangi konsumsi barang dan makanan kedua negara tersebut.

Dari Abu Abbas Abdullah bin Abbas RA, Rasulullah bersabda, ”Ketahuilah, seandainya manusia bersatu untuk memberikan suatu kebaikan kepadamu, mereka tidak akan mampu, kecuali yang sudah ditetapkan Allah untukmu. Dan seandainya manusia bersatu untuk mencelakakanmu, mereka tidak akan mampu, kecuali keburukan yang telah ditetapkan Allah untukmu.” (HR. Tirmidzi).

Sementara hadits lain meriwayatkan, ketika umat Islam mengalami tekanan, peperangan serta kezaliman, selama satu bulan Rasulullah membaca do'a qunut nazilah pada rakaat terakhir setiap shalat fardhu yang dikerjakannya. Do'a ini dibaca setelah bangun dari rukuk sebelum sujud.

Apa hubungan antara kedua hadits di atas dan situasi di Palestina saat ini? Berdasarkan hadits pertama, harus diyakini bahwa kebaikan maupun keburukan yang terjadi adalah merupakan sebuah takdir yang telah ditetapkan-Nya. Dengan kata lain, berapapun besar bantuan yang disalurkan umat Muslim kepada saudara-saudara kita di Palestina, baik itu bantuan raga dengan ikut membantu berperang, harta, makanan, medis, moril, boikot maupun tekanan kepada PBB agar mendesak Israel mau menghentikan serangan brutalnya, bila Allah berkata ”tidak”, maka sia-sialah semua bantuan tersebut.

Namun berdasarkan hadits berikutnya, dengan mencontoh Rasulullah membaca do'a qunut nazilah pada setiap shalat fardhu yang seharusnya memang dilakukan secara berjama'ah, Allah SWT akan menjadikan berbagai bantuan kaum Muslimin di atas sebagai kemenangan atas pihak yang telah menindas saudara-saudara kita di Palestina. Inilah yang dimaksud dengan ’ketetapan’ Allah pada hadits pertama di atas. Persoalannya sekarang, maukah kita melakukannya?

http://vienmuhadi.wordpress.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Sylvia Nurhadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Indra | Full Time Jobseeker
Alhamdulillah KSC bagus banget, jadi pengen nyoba KSC Mobile-nya.
KotaSantri.com © 2002 - 2024
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0892 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels