|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|

Sabtu, 18 Februari 2012 pukul 15:00 WIB
Penulis : Ibnu Sa'dan
Kegiatan memperingati maulid Nabi Muhammad SAW kembali semarak dilakukan umat Islam di mana-mana. Tahun ini, sejak awal Februari lalu, karena 5 Februari bertepatan dengan tanggal 12 Rabiul Awal Tahun Hijriah yang diyakini sebagai hari lahirnya manusia agung itu, 14 abad yang lalu. Seperti tahun-tahun sebelumnya, kegiatan ini akan terus berlanjut hingga tiga bulan kemudian atau saat berakhirnya Bulan Jumadil Akhir.
Pelaksanaannya di semua tempat selalu berlangsung khidmat dengan acaranya antara lain memberi santunan anak yatim, ceramah tentang hari kelahiran Nabi, dan sebagain lagi ada yang menambah dengan berbagai hiburan dan perlombaan yang bernuansa keagamaan.
Pada prinsipnya, pelaksanaan maulid kali ini tidak ada yang berbeda, namun melihat secara substansi, pelaksanaan maulid akhir-akhir ini telah mulai menunjukkan pergeseran makna dari tujuan maulid yang sebenarnya. Makna kecintaan terhadap Nabi dan menjadikan Nabi sebagai tauladan, tampaknya harus dipertanyakan kembali relevansinya. Artinya, sejauh mana pelaksanaan maulid dapat merajut kecintaan terhadap beliau, karena seberapa besar effect pelaksanaan maulid ini terhadap kecintaan dan kehidupan yang sesuai dengan ajarannya menjadi sulit terukur. Jangan-jangan kita sudah mulai terjebak pada pelaksanaan maulid pada "seremoni tahunan" saja atau hanya tujuan bergembira serupa denga kegiatan ulang tahun lainnya, ketimbang menjadi ajang menumbuhkan rasa mencintai Nabi serta menjadikannya teladan dalam kehidupan.
Sesungguhnya, pelaksanaan maulid merupakan hasil "ijtihad" para tokoh dan para ulama terdahulu yang menjadikan maulid sebagai alat motivasi bagi masyarakat untuk menjadikan perjuangan Nabi sebagai centra-life. Secara lebih teoritis, maulid Nabi merupakan tools of social and religion engineering (alat rekayasa sosial dan agama) untuk menjadikan masyarakat cinta terhadap Nabi dan mau berjihad meneruskan perjuangannya.
Jadi, target utama maulid, adalah menciptakan masyarakat yang berakhlakul karimah dengan semangat tinggi meneladani Nabi dalam seluruh sisi kehidupannya, memahami dan mengamalkan isi ajarannya dengan berjihad tidak pernah henti. Sedang "stimulusnya" adalah seremoni seperti yang sering dilakukan selama ini, sehingga ada motivasi untuk giat berjuang menegakkan syari'at Islam secara kaffah.
Secara rutin, kegiatan maulid tetap terlaksana setiap tahun, pagelaran, keramaian, dan kemegahan pelaksanaannya tidak berkurang. Namun secara substansi, seberapa besar kegiatan maulid berdampak pada kecintaan umat terhadap Nabi? Secara kasat mata, tampaknya tujuan utama maulid telah mengalami degredasi atau pergeseran di tengah kehidupan keberagamaan masyarakat.
Kegiatan maulid lebih kepada tataran seremonial tahunan saja, setiap tahun seluruh lapisan masyarakat menggelar maulid, kita melihat pemandangan tetap begitu-begitu saja. Selain itu, telah terjadi pergeseran tujuan maulid. Saat ini, tujuan mencapai kegembiraan, perlombaan antar sesama pelaksana di tempat lain, menjadi target utama. Sedangkan menjadikan maulid sebagai pedoman sebuah tujuan, mulai memudar, sehingga untuk mencapai hal itu terkadang menggunakan cara tidak fair, jauh dari keteladanan Rasulullah yang mengajarkan nilai kejujuran, persaudaraan, pengorbanan, dan sebagainya.
Sesungguhnya ajang kegiatan maulid tidak dapat dipandang sebagai bentuk kegembiraan saja, seperti upacara ulang tahun, namun maulid adalah tempat kecintaan terhadap Nabi direkatkan, tempat jihad dikobarkan, tempat menyegarkan kembali nilai-nilai perjuangan Rasulullah. Untuk itu, diperlukan reorientasi bagi semua pihak dalam melihat maulid. Kegiatan maulid akan bermakna jika pemahaman terhadap maulid tidak lagi hanya seremoni belaka.
Mudah-mudahan pelaksanaan Maulid Nabi tahun ini menjadi momentum bagi seluruh umat Islam untuk membangun kembali tujuan maulid yang sebenarnya. Sehingga maulid merupakan tempat menyegarkan kembali kecintaan, pemahaman, serta membangun peradaban Islam bukan hanya seremoni belaka. Semoga. Aamiin.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ibnu Sa'dan sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.