QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://h-akbar.kotasantri.com
Bergabung
28 Agustus 2011 pukul 10:56 WIB
Domisili
Bogor - Jawa Barat
Pekerjaan
Swasta
Saya adalah manusia biasa. Senang membaca. Tertarik dengan kajian agama.
http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com
http://facebook.com/profile.php?id=100000493450379
http://twitter.com//#!/akbararrafiiyah
Tulisan H. Lainnya
Semut yang Cerdik
22 November 2011 pukul 14:00 WIB
Kualitas Keluarga
12 November 2011 pukul 11:00 WIB
Haji Mabrur = Haji Sosial
9 November 2011 pukul 17:18 WIB
Lebah Selektif dalam Memilih Makanan
5 November 2011 pukul 14:00 WIB
Hijrah untuk Kualitas Hidup yang Lebih Baik
1 November 2011 pukul 14:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 3 Desember 2011 pukul 12:00 WIB

Agar Sayur Lodeh Terasa Nikmat

Penulis : H. Akbar

Di kalangan masyarakat kita, sayur lodeh tentu tidak asing. Sayur yang salah satu bahan penyedapnya adalah santan. Rasanya sangat familiar dengan lidah kita, dan sering dihidangkan pada acara keluarga. Namun siapa nyana, untuk bisa menikmati sayur lodeh, ternyata harus melalui beberapa proses, pasalnya sejak jaman dulu sampai sekarang, Allah tidak pernah menciptakan 'pohon santan'. Santan merupakan saripati buah kelapa tua setelah melalui proses khusus.

Proses membuat santan terdiri dari :

1. Membuang sabut, yaitu kulit buah kelapa yang paling luar. Sabut kelapa berbentuk serat dan untuk membuangnya diperlukan golok yang tajam, atau di beberapa tempat dengan menggunakan sepotong besi yang diruncingi bagian ujungnya. Besi tersebut ditancapkan pada sebatang kayu. Yang tidak biasa pasti mengalami kesulitan kalau disuruh membuang sabut kelapa ini.

2. Membelah tempurung, bagian kulit kelapa yang keras. Untuk membelahnya diperlukan golok khusus atau kapak kecil. Tidak setiap orang bisa membelah tempurung dengan baik. Diperlukan suatu keahlian. Bahkan bagi pemula, tempurungnya belum habis sementara daging buahnya sudah hancur.

3. Memarut daging buahnya, yaitu menghaluskan bagian-bagian kelapa yang masih kasar. Pekerjaan ini juga tak kalah sulitnya sebab pada proses finishingnya terkadang tangan kita tergores parut. Dan kenyataannya setiap kelapa diparut selalu menyisakan bagian yang keras meskipun sedikit.

4. Memeras hasil parutan menjadi santan. Santan inilah yang menjadi syarat sayur itu disebut sebagai sayur lodeh.

Gambaran nyata dalam kehidupan jika kita ingin menikmati sesuatu, diperlukan proses yang berliku. Kalau sesuatu sudah bisa dinikmati, maka sesuatu itu akan menjadi suatu kebutuhan. Demikian juga dalam melaksanakan ibadah kepada Allah SWT.

Agar ibadah (baik ibadah mahdhah maupun ghair mahdhah) bisa dinikmati, kita perlu :

1. Membuang penyakit lahir. Penyakit yang biasa menempel pada bagian luar harus dibuang jauh-jauh. Gila hormat dan dan selalu ingin dipuji orang merupakan bagian dari penyakit yang sering muncul bersamaan dengan melaksanakan ibadah.

2. Menghancurkan dan membuang penyakit hati. Al-Qur'an mengisyaratkan ada hati manusia yang kerasnya melebihi batu. Sekeras apapun yang namanya batu kalau dibelah masih mempunyai nilai harga, bahkan bagi kalangan tertentu membelah batu menjadi salah satu mata pencaharian. Tapi kalau hati manusia kerasnya sudah seperti batu, apalagi yang lebih keras daripada batu, sangat mustahil bisa menikmati ibadah. Hati terkait langsung dengan proses ibadah.

3. Merubah perilaku kasar menjadi halus. Bahasa termasuk hal yang sulit dikendalikan. Ingat! Manusia adalah makhluk yang paling mulia diantara ciptaan Allah SWT. Sapaan dengan menyebut nama binatang yang ditujukan kepada manusia sama artinya dengan penghinaan.

4. Membuat skala prioritas dari amal yang sudah disterilkan dari penyakit. Setelah diambil santannya, ternyata ampas kelapa juga masih bermanfaat.

Dengan membuang penyakit-penyakit di atas, kita mengharapkan ibadah yang kita lakukan akan lebih dinikmati. Dan masih banyaknya penyakit yang menempel pada diri kita dapat dilihat dari kenyataan bahwa ibadah yang kita lakukan baru bersifat kewajiban, belum merupakan suatu kebutuhan. Karenanya kita belum bisa menikmatinya.

http://arrafiiyah-arrafiiyah.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan H. Akbar sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ida Jubaidah | Guru
Terima kasih sudah diundang untuk memasuki KotaSantri.com. Blom apa-apa juga, perasaan mah udah betah.
KotaSantri.com © 2002 - 2014
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0733 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels