HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya. "
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Sahur dan Niat : Poin Utama Kesuksesan
20 Agustus 2011 pukul 14:00 WIB
Shabirin dan Syakirin itu Wajib
10 Agustus 2011 pukul 13:00 WIB
Gunakan "Mesin" Tarawih
3 Agustus 2011 pukul 11:25 WIB
Welcome To Ramadhan
30 Juli 2011 pukul 12:00 WIB
Memilih Jenis-Jenis Amal Sukses Ramadhan
27 Juli 2011 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 1 Oktober 2011 pukul 15:15 WIB

Menyoal Misi Terorisme di Indonesia

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Menyaksikan gerak polisi yang terus menggiatkan perburuan teroris di pelbagai tempat di tanah air memang layak diacungi jempol. Hingga tulisan ini dirancang, pihak kepolisian telah melakukan perburuan di dua wilayah, Aceh dan Solo sekitarnya. Perburuan polisi, memang, tampak memberikan sketsa tersendiri bagi khalayak. Ada yang menilai, perburuan para teroris hanya sebagai agenda untuk menggeserkan perhatian publik terhadap hasil kelanjutan rekomendasi Pansus Century yang dinyatakan secara aklamasi, bahwa bailout bank Century bermasalah. Ada yang menilai, perburuan para teroris untuk menaikkan kembali citra kepolisian, setelah beberapa waktu lalu mengalami pemerosotan terkait kasus Anggodo dan kriminalisasi kasus Bibit-Chandra. Ada lagi yang berpandangan gerakan teroris ini muncul kembali karena Indonesia akan kedatangan Presiden AS Barrack Obama.

Ragam asumsi tersebut, tentunya, bisa dibenarkan. Namun, selayaknya kita tak hanya melihat dari sisi terdekat dengan beberapa peristiwa yang baru dan akan terjadi. Kita juga harus menilainya secara holistik dari histori awal perilaku para teroris di negeri ini hingga terbunuhnya Dulmatin di Pamulang. Karena apa pun yang dilakukan mereka, meskipun berganti pemimpin, tetap memiliki misi yang sama. Dari sini, penulis menilai ada tiga hal di balik aksi terorisme yang dilakukan.

Pertama, adanya kesalahan pelaku pemboman dalam memahami konsep dan misi jihad yang diajarkan para aktivis dakwah, seperti Sayyid Quthb, Muhammad al-Gazhali, Musthafa as-Siba’I, dan lain-lain, sehingga menimbulkan aksi kekejaman dan kekerasan. Jika ditelisik, yang menjadi dasar utama pergerakan teroris, baik di Indonesia maupun di negara-negara lain, tak luput dari fatwa Usamah bin Laden yang dikeluarkan sekitar tahun 1998. Usamah Bin Laden menuturkan, bahwa membunuh orang Amerika di mana saja adalah amalan yang mulia di sisi Tuhan. Seyogyanya, memahami apa yang diucapkan Usamah Bin Laden tersebut harus dilakukan analisis mendalam. Harus tahu siapa yang menitipkan pesan pemahaman tersebut kepada Usamah bin Laden? Bukan asal taklid. Menurut John L Esposito (2003), Usamah bin Laden berguru kepada Abdullah Azzam. Sedangkan Abdullah Azzam sendiri kerap mengidolakan Sayyid Quthb. Malah di dalam buku Tarbiyyah Jihadiyyah, Abdullah Azzam sering mengambil teladan-teladan dakwah dan pergerakan Sayyid Quthb dalam perjuangan Islam.

Oleh karena itu, pentingnya melakukan pendalaman konsep jihad secara langsung melalui buku-buku Sayyid Quthb. Sebab, bukan tidak mungkin Usamah bin Laden melakukan kesalahan dalam memahami jihad yang diajarkan oleh gurunya atau ada kesan kasuistik dalam pemahaman Usamah bin Laden terhadap apa yang disampaikan oleh gurunya. Ataupun, bisa jadi gurunya juga salah memahami konsep jihad yang diajarkan oleh Sayyid Quthb. Karena yang menjadi pemicu timbulnya jihad tak luput dari istilah al-Mujtama’ al-Jahily (masyarakat Jahiliyyah) yang didengungkan Sayyid Quthb di dalam bukunya “Ma’alim fith Thariq”. Karena itu, penting sekali mengkajinya secara detail melalui bukunya secara langsung dan tak luput juga mengolaborasikan isi buku tersebut dengan buku-bukunya yang lain. Juga, penting mendampingi pembacaan terhadap pemikiran Sayyid Quthb melalui pemahaman rekan dan para aktivis Ikhwanul Muslimin.

Berdasarkan bacaan dan pemahaman penulis terhadap buku-buku Sayyid Quthb dan para aktivis Ikhwanul Muslimin, bahwa yang dimaskud Sayyid Quthb dengan masyarakat jahiliyyah adalah masyarakat yang berhukum dengan hukum yang digagas sendiri oleh manusia dan menolak hukum Allah secara mutlak terhadap dirinya. Sehingga, menurut Sayyid Quthb, jihad fisik baru akan terjadi jika dakwah Islam dirintangi. Bila dakwah atau jihad secara lisan tidak dirintangi, maka jihad dengan lisan itulah yang dilakukan. Wajar, menurut penulis, jika Sayyid Quthb mengatakan jika jihad fisik itu bersifat ofensif bukan defensif. Tentunya dengan syarat, kala jihad lisan dirintangi.

Kedua, adanya misi ingin mengobok-obok keamanan Indonesia. Jika melihat lokasi dan target pemboman yang dilakukan para teroris, adanya misi terselubung dari pemimpinnya untuk merusak citra keamanan Indonesia. Penilaian penulis tersebut berdasarkan data-data yang kita saksikan dan baca selama ini. Lihat peristiwa bom Bali dan hotel JW Mariot yang di masa lalu. Kenapa Bali, hotel JW Mariot, dan kantor-kantor kedutaan negara sahabat kerap menjadi target? Penulis sepakat dengan apa yang dikatakan penulis buku “Intelijen Bertawaf : Teroris Malaysia dalam Kupasan”. Parayitno Ramelan menyatakan, bahwa peristiwa pemboman terjadi tak lepas dari adanya rasa kecemburuan yang ‘diidap’ oleh negara tetangga. Menurutnya, Bali menjadi target pemboman karena saat ini telah menjadi salah satu tujuan wisata dunia tereksotis sehingga sengaja dibom agar wisatawan asing yang membawa devisa buat negara ini enggan datang. Pilihan Bali menjadi target pemboman, karena Malaysia ingin mengembangkan Langkawi yang disebut-sebut bakal menyaingi kehebatan Bali sebagai magnet wisata dunia. Dengan pemboman di Bali dan kedutaan-kedutaan besar negara sahabat, akan terciptalah klaim bahwa Indonesia berbahaya dan jauh dari rasa aman oleh ekspatriat.

Tentunya, pergerakan teroris yang belakangan ini terungkap oleh kepolisian bukan tidak mungkin juga ada misi dari negara tetangga. Misinya untuk menimbulkan kembali rasa ketidakamanan di Indonesia. Apalagi, kedatangan Obama hanya tinggal menunggu hari, meskipun akhirnya ditunda. Asumsi penulis ini berdasarkan e-mail Dulmatin yang bertuliskan pesan “eksekusi” kepada kelompok Abu Sayyaf di Filipina yang dikabarkan sudah berada di Indonesia. (Koran Tempo, 13 Maret 2010, hal. A2) Meskipun, kita belum mengetahui lokasi mana dan siapa yang menjadi target sasaran.

Sayangnya, adanya misi ‘gelap’ negara tetangga tersebut, kayaknya, kurang dipahami oleh para pelaku yang berwarga negara Indonesia. Dengan dihipnotis jargon jihad yang ‘abal-abal’, mereka lupa untuk cinta tanah air. Padahal, mencintai tanah air juga dianjurkan oleh agama. Di negara tetangga seperti Malaysia, memang tidak mungkin melakukan aksi terorisme karena mereka mempunyai ISA (Internal Security Art) yang bisa dipergunakan oleh aparat keamanan Malaysia untuk melakukan represif. Mereka diperbolehkan menangkap seseorang apabila dinilai mengancam keamanan nasional negaranya.

Ketiga, adanya misi merusak citra masyarakat muslim Indonesia. Dengan banyaknya aksi teroris di negeri ini bisa menimbulkan stigma bahwa muslim Indonesia mencintai kekerasan. Terlebih lagi, markas para teroris terdapat di daerah yang masyarakat muslimnya sangat banyak, seperti Aceh, Pamulang, dan lain-lain. Padahal, tak satupun konsep ajaran jihad diajarkan oleh para ulama di Indonesia yang mengajarkan kekerasan. Apalagi pembunuhan yang bersifat membabi buta. Logikanya, tidak mungkin muslim Indonesia melakukan demikian. Namun, karena realita yang terjadi bahwa banyaknya para pelaku teroris berwarga negara Indonesia telah mati dan semuanya muslim sehingga klaim tersebut pun dengan mudah didengungkan oleh negara-negara lain. Maka, tak mengherankan jika ada muslim Indonesia berkunjung ke negara lain dan memiliki perawakan berjenggot atau mengikuti sunnah Rasulullah yang lainnya kerap diwaspadai dan dikhawatirkan bagian dari teroris.

Karena itu, cukup penting bagi kita untuk mewaspadai ajaran jihad yang tampak benar, tapi ternyata memiliki misi dan niat menyelewengkan maksud aslinya. Dan, penting juga diwaspadai misi-misi yang ingin merusak wajah Indonesia, baik dari sisi keamanan maupun sisi penduduk muslimnya. Karena mewaspadai segala yang merusak tersebut merupakan langkah dini untuk mengembalikan citra Indonesia di mata negara-negara sahabat. Dan, hanya kita yang mampu membuktikan, bahwa Indonesia memang memiliki persatuan dan kesatuan serta keamanan.

14 Maret 2010

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Syahroni | Swasta
Subhanallah, KSC sangat bermanfaat bagi seorang hamba yang ingin menjalin silaturahim guna mencari keberkahan hidup. Saya juga berharap kiranya media ini bisa membantu saya dalam mengelola panti pendidikan anak-anak yatim.
KotaSantri.com © 2002 - 2014
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1436 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels