QS. Ali Imran : 3 : "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung. "
Alamat Akun
http://noor.kotasantri.com
Bergabung
10 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Timur - DKI Jakarta
Pekerjaan
Swasta
Tulisan Noor Lainnya
Kriminalisasi untuk Praktek Kawin Sirri
20 Februari 2010 pukul 20:45 WIB
Dana Zakat untuk Bantuan Hukum bagi Rakyat Miskin
2 Januari 2010 pukul 20:00 WIB
Qurban; Sebuah Implementasi Penegakkan Tauhid Sosial
25 November 2009 pukul 17:15 WIB
Ahlul Korup wal Jama'ah
19 September 2009 pukul 19:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 22 Januari 2011 pukul 12:25 WIB

CIA di Indonesia

Penulis : Noor Fajar Asa

Setelah bebarapa saat vonis dijatuhkan Hakim kepada Gayus Tambunan pada tanggal 19 Januari 2011, Gayus berbicara secara terbuka mengenai keterlibatan satgas yang menyuruh agen CIA membuat paspor Guyana untuk Gayus, Gayus Tambunan mengaku kalau John Jerome (JJ) yang membantunya membuat paspor palsu adalah agen CIA. Bahkan Jerome disebut Gayus bertindak atas restu Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Namun Satgas Pemberantasan Mafia Hukum membantah keras pengakuan ini. Reaksi atas pernyataan ini pun bermunculan. Anggota Komisi I DPR RI, Tjahjo Kumolo Komisi I DPR RI serius menanggapi pengakuan Gayus Tambunan akan adanya anggota Central Intelligence Agency (CIA) yang ikut bermain dalam kasus ini. Untuk menelusuri kebenaran pengakuan Gayus, Komisi I akan mengontak Badan Intelijen Negara (BIN). "Di komisi I yang membidangi intelijen, kami akan menanyakan hal ini pada BIN," ujar anggota Komisi I DPR RI, Tjahjo Kumolo di sela-sela kuliah umum STIP AN, Jakarta Selatan, sebagaimana dilansir oleh beberapa media massa.

Nama John Jerome Grice muncul ketika Polisi mengumumkan nama itu dalam daftar pencarian orang (DPO). Sosok JJ, pria kelahiran California itu, diduga sebagai otak pembuatan paspor atas nama Sony Laksono milik Gayus. Jerome menyerahkan langsung paspor atas nama Sony Laksono itu kepada Gayus di salah satu hotel di kawasan Jakarta Utara. Saat itu pula Gayus menyerahkan upah pembuatan paspor senilai US$ 100.000 kepada pria berkulit hitam tersebut . Selain itu, penyidik Polri menemukan gambar paspor Guyana dengan foto orang mirip Gayus dan istrinya, Milana. Gambar tersebut merupakan lampiran sebuah email.

Berita Mengenai CIA dalam pemberitaan media Massa Indonesia sudah hangat sejak 3 tahun terakhir ini. Awal Tahun 2010 Seorang agen intelijen Amerika, CIA (Central Intelligence Agency), Bob Marshall yang merupakan warga negara AS ini ditangkap 15 Januari 2008 oleh pihak imigrasi Bogor saat hendak membuat paspor. Bob dijerat dua pasal sekaligus, yaitu melanggar UU No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. Tersangka semula diduga sebagai pelaku pemalsuan paspor. Namun hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Polri menyimpulkan Marshall adalah anggota CIA sekaligus buron CIA yang diburu sejak tahun 1974. Marshall diketahui merupakan tersangka dalam kasus penjulan senjata api ilegal di AS dan London, Inggris. Hingga saat ini belum diketahui motif Marsall masuk ke Indonesia. Marshall masuk ke Indonesia sekitar Desember 2007. Dia masuk melalui Batam dari Johor Malaysia dengan menggunakan perahu bersama tujuh imigran gelap lainnya pada malam hari, ketika petugas patroli perairan Indonesia lengah.

Pada tahun 2008 juga pemberitaan mengenai bahwa mantan wakil presiden RI Adam Malik disebut sebagai agen CIA dalam buku Legacy of Ashes, the History of CIA (Membongkar Kegagalan CIA) karya wartawan koran The New York Times, Tim Weiner. Tim menuliskan bahwa Adam Malik direkrut dan dikontrol oleh seorang petinggi CIA bernama Clyde McAvoy. McAvoy sendirilah yang menyatakan hal itu dalam wawancaranya dengan Tim pada 2005 lalu. Dalam wawancara McAvoy mengaku bertemu Adam Malik pada 1964.

Polemik pun merebak. Ada yang percaya, ada yang tidak. Dan seperti juga kasus lainnya di negeri ini, kontroversi itu pun segera menguap, berakhir tanpa ending yang jelas. Kemenangan kaum komunis dalam Revolusi Merah Oktober 1917 telah mencemaskan AS. Sejak itu pula, AS merancang satu strategi untuk menghancurkan Rusia. “Tanggal 8 Januari 1918, Presiden AS Woodrow Wilson mengumumkan Program 14 Pasal. Dalam suatu komentar rahasia mengenai program ini, Wilson mengakui jika usaha menghancurkan dan menceraiberaikan Soviet Uni sudah direncanakan. Rencana Wilson saat itu tidak bekerja dengan efektif disebabkan fokus kerja intelijen yang kurang, depresi besar 1930, dan Perang Dunia I dan II. Barulah usai Perang Dunia II AS sungguh-sungguh menyadari betapa Soviet harus dihadapi dengan serius.

Truman Doctrine untuk mengepung penyebaran komunisme dikeluarkan pada 1947. Disusul dengan Marshall Plan tahun berikutnya guna membangun kembali Eropa dari puing-puing akibat PD II. Indonesia (istilah dulu “Hindia Belanda”) merupakan satu-satunya wilayah koloni Eropa yang dicakup dalam rencana dasar Marshall Plan. Akibatnya, bantuan keuangan AS kepada Belanda menyebabkan Den Hag mampu untuk memperkuat genggamannya atas Indonesia. Belanda melancarkan embargo ekonomi terhadap pemerintah RI yang berpusat di Yogyakarta kala itu. Bahkan AS diyakini turut membantu Belanda dalam serangan militer Belanda II atas Yogyakarta pada 18 Desember 1948. Perhatian AS terhadap Indonesia sangat besar sejak sebelum Perang Dunia II disebabkan letaknya yang sangat strategis dan kandungan kekayaan alam yang luar biasa. Sebab itu, menjadikan Indonesia sebagai “wilayah yang bersahabat” dipandang sangat penting bagi AS. George F. Kennan, Direktur Policy Planning Staff (PPS), pernah berkata kepada Menteri Luar Negeri AS George C. Marshall pada 17 Desember 1948, Audrey R. dalam laporan Kahin dan George Mc T. Judulnya, Subversi Sebagai Politik Luar Negeri : Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia (Pustaka Utama Grafiti, 1997). Laporan ini menguraikan berbagai informasi tentang peran Pusat Intelijen Amerika (CIA) dalam sejumlah gejolak hubungan pusat dan daerah, terutama sepanjang tahun 1950-1963 -seusai penyerahan kedaulatan dari Belanda ke Indonesia pada akhir tahun 1949.

Edisi Koleksi Angkasa berjudul “Dirty War, Mesiu di Balik Skandal Politik dan Obat Bius” (juga buku David Wise & Thomas B. Ross : Pemerintah ‘Bayangan’ Amerika Serikat : 2007) memaparkan keterlibatan CIA dalam peristiwa ini. Dalam waktu bersamaan, November 1957, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Bung Karno yang dikenal dengan peristiwa Cikini. Bung Karno selamat, namun 9 orang tewas dan 45 orang di sekelilingnya luka. Pemerintah kala itu mendeteksi jika tindakan makar tersebut didalangi oleh komplotan ekstrem kanan yang dimotori Letkol Zulkifli Loebis, pendiri Badan Rahasia Negara Indonesia (BraNI), cikal bakal BIN, dan didukung CIA. Dengan tegas Bung Karno mengatakan jika CIA berada di belakang usaha-usaha pembunuhan terhadap dirinya. Tudingan Bung Karno terbukti. Dalam satu sesi pertemuan Komite Intelijen Senat AS yang diketuai Senator Frank Church dengan Richard Bissel Jr —mantan wakil Direktur CIA bidang perencanaan operasi— 22 tahun kemudian terungkap jika saat itu nama Soekarno memang sudah masuk dalam target operasi Direktur CIA, Allan Dulles.

Dalam operasi mendukung PRRI/PERMESTA, AS menurunkan kekuatan yang tidak main-main. CIA menjadikan Singapura, Filipina (Pangkalan AS Subic & Clark), Taiwan, dan Korea Selatan sebagai pos suplai dan pelatihan bagi pemberontak. Dari Singapura, pejabat Konsulat AS yang berkedudukan di Medan, dengan intensif berkoordinasi dengan Kol. Simbolon, Sumitro, dan Letkol Ventje Soemoeal.

Dalam artikel berjudul “PRRI-PERMESTA, Pemberontakan Para Kolonel” yang ditulis Santoso Purwoadi (Angkasa : Dirty War) dipaparkan jika pada malam hari, 7 Desember 1957, Panglima Operasi AL-AS Laksamana Arleigh Burke memerintahkan Panglima Armada ke-7 (Pacific) Laksamana Felix Stump menggerakkan kekuatan AL-AS yang berbasis di Teluk Subic untuk merapat ke Indonesia dengan kecepatan penuh tanpa boleh berhenti di mana pun. Satu divisi pasukan elit AS, US-Marine, di bawah pengawalan sejumlah kapal penjelajah dan kapal perusak disertakan dalam misi tersebut. Dalih AS, pasukan itu untuk mengamankan instalasi perusahaan minyak AS, Caltex, di Pekanbaru, Riau.

Dari berbagai sumber.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Noor Fajar Asa sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Indra | Full Time Jobseeker
Alhamdulillah KSC bagus banget, jadi pengen nyoba KSC Mobile-nya.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0517 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels