HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Ukhuwah Islamiyah
30 Juni 2010 pukul 18:11 WIB
Ciri Rumah Tangga Islami
19 Juni 2010 pukul 18:00 WIB
Tante, Mengapa Saya Diciptakan?
8 Mei 2010 pukul 15:10 WIB
Keluarga Ceria, Ceria (Ber)keluarga
1 Mei 2010 pukul 17:30 WIB
Menikah, Sulit?
26 April 2010 pukul 15:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 14 Agustus 2010 pukul 20:55 WIB

Islam Tidak Akan Membuat Kita Susah

Penulis : Hifizah Nur

Ngerjain shalat, apalagi taraweh? Huh... capek, susah, ribed (bahasa Betawi artinya tidak praktis). Mungkin ada yang pernah mendengar keluhan semacam itu dari teman-teman yang tinggal di Jepang. Bukan hanya perkara shalat, namun juga kewajiban-kewajiban lain yang disyari'atkan dalam Islam. Misalnya memakai jilbab, memakan makanan yang halal, membaca Al-Qur'an, puasa, dan banyak lagi.

Syari'at Islam kelihatannya memang ruwet sekali. Kadang dipandang oleh orang yang belum paham seperti sebagai pengebirian hak asasi manusia. Misalnya puasa. Dalam kondisi cuaca yang panas sekali dan waktu yang cukup panjang, harus menahan diri dari lapar dan haus. Apalagi kalau sedang bekerja atau menjalani ujian akhir semester bagi para pelajar. Huh, bikin lemes aja. Begitu barangkali dalam pikiran mereka.

Belum lagi kalau bicara tentang syari'at, banyak orang yang salah kaprah, memandang syari'at sebagai potong tangan atau hukuman pacung. Wah, serem betul mereka memandang Islam.

Namun, kalau paham arti di balik perintah-perintah itu, tentu akan membuat kita tercengang dan terkagum-kagum akan keindahan ajaran Islam. Bahkan merasa bahagia sekali karena kita menjadi satu dari sekian banyaknya orang yang terpilih berada di dalam naungan agama ini. Coba kita tengok, apa sih sebenernya syari'at itu.

Islam kalau diibaratkan sebuah rumah, sebenarnya terdiri dari tiga bagian. Fondasinya adalah aqidah atau keimanan. Biasanya disebutkan dalam rukun iman dalam pelajaran agama di SD dulu. Lalu tiang-tiang penyangganya adalah Islam yang mencakup Ibadah dan Akhlaq. Atapnya adalah menyebarkan nilai-nilai kebaikan ini kepada semua orang. Lalu berusaha menjaga agar Islam ini tetap bersinar cemerlang melalui lisan, pena, dan bahkan kalau diperlukan dengan kekuatan atau pedang. Ini biasanya diwajibkan di negeri-negeri yang sedang berperang seperti di Palestina.

Itulah semua syari'at Islam. Jadi keimanan kita, ibadah kita, cara kita berbicara, menulis, bahkan semua yang kita lakukan itu sebenarnya masuk ke dalam syari'at Islam. Hukuman-hukuman seram yang ditakuti oleh banyak orang itu hanya bisa diterapkan dalam negara Islam. Itu pun, setelah masyarakatnya siap. Maksudnya sebagian besar masyarakatnya, Imannya sudah mantap, akhlaknya sudah baik, dan semua sepakat untuk menerapkannya untuk mencegah dan menakut-nakuti orang yang mau merusak moral masyarakat yang sudah baik itu.

Nah, sebenarnya apa sih enaknya mengikuti syari'at Islam itu?

1. Fondasi yang kuat yang dijamin kemurniannya oleh Allah SWT. Aqidah Islam tentang Tuhan pencipta alam ini sangat mudah dipahami, masuk akal, dan jelas tuntas pembahasannya dalam Al-Qur'an. Allah itu Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Mahakuasa atas segala sesuatu. Maha Mencipta, dan tentu lebih hebat dari semua ciptaan-Nya yang ada di alam ini.

Begitu juga Al-Qur'an yang menjadi pegangan hidup kita. Dari zaman Rasulullah sampai saat ini, tidak ada satu huruf pun yang berubah atau bisa ditambah. Mengapa? Karena banyak orang yang menghafal Al-Qur'an sejak zaman Nabi sampai sekarang. Jadi kalau ada sedikit saja yang diubah, pasti ketahuan.

Pembahasan tentang hari kiamat merupakan wujud dari keadilan Allah terhadap makhluknya. Coba bayangkan, orang-orang yang selama ini direnggut hak-haknya tanpa bisa melawan, orang yang terbunuh tanpa kesalahan yang jelas, dan orang-orang yang menderita karena perlakuan orang lain, mereka masih bisa berharap akan keadilan Allah di akhirat nanti. Pendeknya, adanya hari akhir ini membuat kita selalu optimis menghadapi masalah.

2. Menjalani syari'at, membuat selalu ingat akan tujuan kita diciptakan. Shalat yang lima waktu berarti di sela-sela kesibukan, kita diingatkan untuk merenung, berdzikir kepada Allah agar kita tidak salah langkah dalam menjalani hari-hari.

Puasa membuat kita lebih sabar tidak memperturutkan hawa nafsu. Secara medis, puasa terbukti membuat fisik jadi sehat dan lebih kuat.

Berjilbab, membuat perilaku kita lebih terjaga, dan bisa juga menjadi sarana untuk memperbaiki hati dan sikap kita dari waktu ke waktu.

Berkeluarga dengan tuntunan syari'at, akan membuat kita lebih bahagia. Karena tujuan pernikahan yang jelas, cara yang baik, perilaku suami isteri yang jelas aturannya serta hak dan kewajiban yang jelas.

Semua menimbulkan ketenangan batin, yang tidak mungkin didapat bila kita menjalani hidup kita tanpa berdasarkan syari'at. Apalagi hidup hanya berdasarkan hawa nafsu, terbayang kekacauan dan kebingungan kita, terutama ketika mengahadapi masalah berat dalam perjalanan hidup ini.

3. Dijamin bahagia dunia dan akhirat. Siapa sih orang yang tidak mau bahagia? semua pasti mau. Namun seperti kita bersusah-susah sekolah dari SD sampai lulus perguruan tinggi, lalu bisa dapat pekerjaan yang baik, gaji besar, fasilitas rumah dan mobil mewah, begitu juga seharusnya kita kalau ingin meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian. Melatih diri untuk mengikuti syari'at memang tidak mudah.

Itulah makanya Islam menganjurkan orangtua mengajarkan shalat dan puasa sejak kecil kepada anak-anaknya. Malah ada tahapan-tahapannya. Usia balita sampai 7 tahun, tahap mengajak. Ayo, Nak, shalat, puasa. Tahap 7-10 tahun tahap pembiasaan. Perintah yang lembut tapi tegas kepada mereka. Dari 10 tahun sampai baligh (menstruasi atau mimpi bagi laki-laki), tahap dihukum kalau tidak dikerjakan. Hukumannya serupa dengan pukulan ringan yang tidak menyakiti atau membekas. Insya Allah, bila proses itu terlewati, saat mereka sudah tahap wajib, tidak ada lagi rasa berat melakukannya.

Begitu juga kewajiban-kewajiban yang lain, bila dilatih sejak kecil sampai dewasa, insya Allah akan terasa ringan nantinya.

Setelah ringan melakukannya, insya Allah keseimbangan hidup yang membuahkan kebahagiaan hidup di dunia akan tercapai. Belum lagi pahala besar menanti di akhirat nanti.

Nah, sekarang, bagaimana untuk orang dewasa yang masih malas melakukan syari'at Islam? Kuncinya adalah menyadari manfaatnya dan bersungguh-sungguh untuk berubah. Perlahan tapi pasti, asal konsisten dan komitmen melakukannya, Insya Allah kita akan semakin cinta dengan Islam ini. Lingkungan yang mendukung juga bisa mempercepat proses perubahan kita menjadi lebih baik.

Teringat satu ayat yang menghantarkan sahabat besar Umar bin Khattab ke dalam pangkuan Islam. Bunyinya begini, "Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah. Melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah)."

Wallahu a'lam.

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lucasgoru | Karyawan Swasta
Allahu Akbar... Terus terang, KotaSantri.com lebih membuka mata hati saya tentang Islam.

jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan. dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.

KotaSantri.com © 2002 - 2012
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1997 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels