Ust. Aam Amiruddin : "Sesungguhnya sepercik kejujuran lebih berharga dari sebongkah cinta. Apa arti sebongkah cinta kalau dibangun di atas kebohongan? Pasti rapuh bukan? Betapa indahnya apabila kejujuran dan cinta ada pada diri seseorang. Beruntunglah Anda yang memiliki kejujuran dan ketulusan cinta."
Alamat Akun
http://abisabila.kotasantri.com
Bergabung
30 Oktober 2009 pukul 19:46 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
swasta
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
http://www.abisabila.com
http://facebook.com/abi.sabila
http://twitter.com/AbiSabila
Tulisan Abi Lainnya
Keputusan Anisa
20 Juni 2010 pukul 17:00 WIB
Lebih Baik Imitasi, atau Tidak Sama Sekali
15 Juni 2010 pukul 20:55 WIB
Mulut Menghujat Tapi Mata Melihat
14 Juni 2010 pukul 15:45 WIB
Belajar dan Berbagi Ilmu? Lihat-Lihat Dulu!
10 Juni 2010 pukul 15:45 WIB
Jangan Panggil Aku Ustadz!
3 Juni 2010 pukul 15:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 26 Juni 2010 pukul 19:00 WIB

Memilah dan Memilih Sekolah

Penulis : Abi Sabila

Ujian sekolah telah selesai. Penantian panjang yang mendebarkan pun telah usai. Pendaftaran siswa baru kini sudah dimulai. Jika kemarin para siswa yang resah, kini giliran orangtua yang merasa gelisah.

Orangtua Bujang misalnya. Seminggu ini mereka sibuk mencari informasi ke beberapa sekolah karena nilai ujian anaknya yang rendah. Juga orangtua Bunga. Meski nilai ujian Bunga di atas rata-rata, namun kecemasan bapak ibunya tetap terlihat nyata.

Bisakah anak mereka diterima di sekolah yang mereka inginkan? Pertanyaan ini yang menjadikan mereka cemas. Ada yang cemas karena nilai ujian sang anak jauh di bawah standar yang ditetapkan pihak sekolah. Ada pula yang cemas meskipun nilai ujian sudah memenuhi persyaratan, namun mereka khawatir tidak diterima karena ulah beberapa orangtua siswa dibantu oknum sekolah yang sengaja mengatrol nilai ijazah dengan nilai rupiah. Ya, suap menyuap di dunia pendidikan negeri ini masih saja terjadi.

Masuk sekolah favorit adalah keinginan setiap anak dan juga orangtua. Namun standar nilai minimum yang ditetapkan pihak sekolah kerap menjadi kendala. Bagi yang nilai ujiannya rendah harus rela menerima kenyataan pahit dan segera mencari sekolah lain, itu semestinya. Tapi ada juga anak atau orangtua yang memaksakan kehendaknya agar bisa diterima dengan berbagai cara. Menyuap oknum sekolah adalah salah satunya. Astaghfirullah! Jangan lakukan cara culas seperti ini. Berapa banyak orang dirugikan dengan adanya praktik suap menyuap semacam ini. Siswa yang berprestasi harus tergeser karena jatah kursinya sudah dibeli. Itulah sebabnya mengapa Islam melarang orang memberikan, menerima, atau menjadi perantara suap.

Gagal masuk sekolah favorit bukan berarti gagal segalanya. Masih banyak sekolah yang bisa dipilih. Memilih sekolah hendaknya dengan mengukur kemampuan. Kemampuan ekonomi orangtua dan juga kemampuan daya pikir sang anak. Setiap anak memiliki bakat dan potensi yang berbeda. Tidak semestinya orangtua memaksakan pilihan sekolah kepada anak-anaknya. Secara ekonomi barangkali orangtua mampu ‘membeli’ bangku sekolah, tapi apa jadinya jika sang anak tidak bisa mengikuti pelajaran yang diberikan. Berikan kesempatan dan kepercayaan kepada anak untuk memilih sekolah. Arahkan dan berikan alasan yang bisa diterima jika pilihan mereka tak sesuai dengan harapan kita. Tidak selamanya baik juga jika anak diberikan kebebasan memilih sekolah sesukanya saja. Harus dimusyawarkan, dipilih dan dipilah plus minusnya.

Memilih sekolah hendaknya tidak hanya melihat pada status negeri atau swasta saja, juga bukan hanya menjadikan kemegahan gedung dan kelengkapan fasilitas sebagai tolak ukurnya. Jauh lebih penting adalah memilih sekolah yang benar-benar memberikan lingkungan dan pendidikan seperti yang kita inginkan. Kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang taqwa, cerdas, dan terampil sesuai dengan slogan pendidikan di negeri kita. Jika betul demikian, semestinya kita mencarikan sekolah yang selain memberikan pelajaran umum juga memberikan pelajaran agama dalam prosentase yang lebih besar. Sekarang ini sudah banyak berdiri sekolah-sekolah Islam terpadu ataupun juga madrasah-madrasah yang dikelola secara modern dengan fasilitas-fasilitas yang tak kalah lengkap dibandingkan sekolah favorit pada umumnya. Bahkan, sekolah-sekolah seperti ini memiliki nilai plus karena disamping pelajaran umum yang diberikan, juga porsi pelajaran agama diberikan dalam jumlah yang lebih besar.

Sekolah mana yang akan dipilih? Kembalikan pada tujuan awal bahwa menyekolahkan anak adalah agar anak tumbuh menjadi generasi yang taqwa, cerdas, dan terampil. Pilihlah sekolah yang memberikan perhatian lebih pada agama dan akhlak anak didiknya. Jangan asal favorit, jangan asal berfasilitas kumplit, jangan asal terlihat elit. Pilihlah sekolah yang bisa menghasilkan siswa siswi yang taqwa, cerdas, dan terampil. Taqwa itu yang utama. Kecerdasan dan keterampilan yang dilandasi ketaqwaan akan membawa kemaslahatan. Sebaliknya, kecerdasan dan keterampilan tanpa dilandasi ketaqwaan, akan mendatangkan kemudharatan. Ketaqwaan tanpa disertai kecerdasan akan menjadi sesat. Tak akan bernilai apabila sesuatu termasuk ibadah dilakukan tanpa ilmu. Ketaqwaan dan kecerdasan akan mandul dan sekedar menjadi teori tanpa memiliki keterampilan untuk mengamalkannya.

Pastikan anak-anak kita masuk ke sekolah yang bisa melahirkan generas-generasi yang membanggakan. Ya taqwa, ya cerdas, ya terampil. Karena dengan taqwa, cerdas, dan terampil, kesuksesan dunia dan akhirat tak lagi mustahil. Insya Allah.

http://www.abisabila.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Abi Sabila sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Yussi | Karyawati
Subhanallah sekali bisa bergabung di KotaSantri.com. Barakallah...
KotaSantri.com © 2002 - 2026
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.1707 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels