|
HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
|





Sabtu, 12 Juni 2010 pukul 20:31 WIB
Penulis : Puji Hartono
Hizbiyyah atau fanatisme golongan merupakan salah satu dari akhlak kaum jahiliyah. Akhlak ini sudah semestinya dienyahkan dari diri setiap muslim. Fenomena fanatisme golongan telah mencabik-cabik persatuan di antara sesama muslim.
Di antara fenomena fanatisme golongan adalah mereka menganggap bahwasannya madzhabnya, ormasnya, partainya, ustadznya, dan seterusnya adalah yang benar sedangkan yang selainnya salah. Di antara mereka ada yang tidak mau menikah kecuali dengan yang sekelompok pengajiannya, di antara mereka tidak mau berma’mum shalat kecuali dengan yang semadzhab, di antara mereka tidak mau menerima kebenaran yang bukan datang dari kelompoknya, dan seterusnya.
Di antara mereka ketika melihat seorang muslim ibadahnya bagus, komitmen terhadap pengamalan agamanya bagus, akan tetapi hanya karena tidak seormas dan separtai, maka dianggap bukan ikhwah (saudara). Sementara orang yang banyak kekurangan agama dan tidak komitmen terhadap pengamalan agama, tetapi hanya karena satu ormas dan separtai, maka mendapatkan loyalitas sepenuhnya. Hal seperti ini adalah bukti bahwa dalam dirinya terdapat penyakit hizbiyyah, penyakit fanatisme golongan.
Sungguh telah sampai kepada Penulis, bahwa seorang muslim dan muslimah yang telah merencanakan pernikahan, akan tetapi hanya karena partai yang dicoblos dalam pemilu ternyata berbeda, akhirnya gagal melaksanakan pernikahan, bukankah yang seperti ini jelas-jelas kefanatikan dan kepicikan berfikir?!
***
Apa yang Mereka Banggakan?
Wahai saudaraku yang semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepadamu.
Apakah di akhirat, kita akan ditanya, “Dari ormas dan partai mana engkau?” Jika dari ormas dan partai X maka kamu akan selamat, dan jika dari selainnya engkau akan celaka? Tidak, saudaraku! Kita hanya ditanya mana iman dan amalmu! Dalam banyak ayat di dalam Al-Qur'an disebutkan, “Barangsiapa yang beriman dan beramal shaleh.”
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah : 6).
“Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (QS. At-Tiin : 5-6).
Bukankah Allah hanya melihat iman dan amal shaleh kita? Tidak melihat dari ormas mana dan partai mana, jika dari ormas dan partai X maka akan selamat dan jika dari selain X akan celaka!
Dalam surat Al-Qari'ah Allah berfirman menceritakan nasib para hamba di hari kiamat.
“Dan adapun orang-orang yang berat timbangannya (kebaikannya), maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikannya), maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.” (QS. Al-Qari'ah : 6-9).
Bukankah yang ditimbang oleh Allah adalah kebaikan kita, yakni iman dan amal shaleh, bukan klasifikasi berdasarkan ormas dan partai?!
Walaupun seseorang punya posisi penting di sebuah ormas atau partai, akan tetapi jika hari-harinya diisi bukan dengan iman dan amal shaleh, bahkan diisi dengan menyiakan-nyiakan waktu dan dosa, maka dia sebagai manusia yang hina dalam pandangan Allah.
Demikian juga sebaliknya, walaupun seseorang sebagai muslim biasa, tidak aktif dalam ormas atau partai tertentu, akan tetapi hari-harinya diisi dengan iman dan amal shaleh, maka dia sebagai manusia yang mulia dalam pandangan Allah. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujuraat : 13).
***
Cinta dan Benci Sesuai dengan Kadar Pengamalan Islam
Wala wal baro, loyalitas dan berlepas diri di antara sesama muslim seharusnya didasarkan pada kadar pengamalan Islamnya, bukan berdasar kesamaan ormas dan partainya. Seorang muslim yang taat lebih kita cintai daripada seorang muslim tetapi banyak berbuat maksiat, orang muslim yang banyak berbuat maksiat lebih kita cintai daripada orang kafir, dan seterusnya. Cinta dan benci juga harus karena Allah.
Mudah-mudahan ini dapat menjadi bahan tafakur dan perenungan, sehingga keIslaman kita menjadi lebih baik dengan mengenyahkan salah satu karakter kaum jahiliyah, dimana mereka fanatik kepada golongannya, apakah itu ormas atau partai tertentu.
Mudah-mudahan kita dapat menjadi manusia yang adil, yang menempatkan cinta dan benci sesuai dengan kadar yang dituntunkan oleh syariat. Dan juga menerapkan cinta dan benci hanya karena Allah.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Puji Hartono sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.