
Pelangi » Jurnal | Sabtu, 6 Maret 2010 pukul 20:55 WIB
Penulis : Ina Asriadi
“... dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar manusia mendapat pelajaran) ...“ (QS. 3 : 140).
***
Al-Quds dari Masa ke Masa
Jerusalem bermula 5000 tahun SM. Di kota inilah suku bangsa Jebusit keturunan suku bangsa Kan’an, yaitu suku bangsa Arab yang pertama bermigrasi dari semenanjung Arab ke wilayah Palestina. Kaum ini pulalah yang pertama kali membangun dinding dan tembok kokoh di sekeliling tempat tinggal mereka.
Keberadaan bangsa Arab lewat suku Jebusit jauh mendahului kedatangan Nabi Daud AS atau yang disebut Kerajaan Israel atau Kerajaan Yehuda. Dari sinilah akar kata “bangsa Yahudi”. Kemudian pada tahun 1000 SM, Nabi Daud AS berhasil menaklukkan kota tersebut dan menjadikan sebagai ibukota pemerintahannya. Jerusalem atau Zion yang kemudian melahirkan nama Zionisme.
Sepeninggal Nabi Daud AS, Nabi Sulaiman AS membangun Kuil Sulaiman yang merupakan tempat ibadah (Kanisah) bagi orang-orang Yahudi di Al-Quds. Kanisah tersebut dikenal dengan nama Haekal Sulaiman atau Gunung Kuil (Temple Mount) yang letaknya tersembunyi di balik bangunan besar yang terbuat dari batu-batuan. Pada tahun 70 SM, tempat tersebut dihancurkan oleh orang Romawi, Titus.
Di atas reruntuhan inilah, Khalifah Umar bin Khaththab membangun sebuah masjid (Kubah As-Askhara) yang bersebelahan dengan Masjid Al-Aqsha. Baitul Maqdis ditaklukkan oleh Umar bin Khaththab pada tahun XV Hijriyah. Beliau pula yang membersihkan kembali kompleks Al-Aqsha sehingga bisa dijadikan tempat shalat bagi kaum Muslim. Dengan seorang pendeta Nasrani yang bernama Shafarnius, Khalifah Umar bin Khaththab membuat piagam perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Umariyah yang berisi :
“Bismillahirrahmanirrahim. Ini adalah (perjanjian) yang diberikan oleh hamba Allah SWT, Umar, Amirul Mukminin, kepada penduduk Iliya (Baitul Maqdis) dari segi keamanan. Berikanlah kepada mereka keamanaan untuk jiwa-jiwa mereka dan harta benda mereka; begitu pun terhadap tempat-tempat peribadatan mereka dan salib-salib mereka; juga bagi orang yang sakit maupun yang miskin serta bagi seluruh millah (pengikut) mereka. Janganlah engkau mendiami tempat-tempat peribadatan mereka dan jangan merobohkannya. Jangan merugikan/mengotori tempat-tempat peribadatan mereka dan daerah sekelilingnya. Jangan mengotori salib-salib mereka dan mengambil apapun dari harta mereka. Janganlah memaksakan sesuatu terhadap agama mereka, termasuk memberi kemudaratan kepada salah satu dari mereka. Jangan pula mereka (kaum Nasrani) tinggal di Iliya bersama bersama Yahudi...“ (Muhammad Mahidullah, Majmu’a Al-Watsa’iq As-Siyasiyyah).
Jerusalem merupakan kota suci bagi umat Islam, Nasrani, dan Yahudi. Masyarakat Palestina lebih suka menyebut dengan Al-Quds. Di dalam kota bertembok kuno tersebut hidup komunitas kaum Muslim, Nasrani, Yahudi, dan masyarakat Armenia yang luasnya tidak lebih dari 3 km.
Di Al-Quds inilah dibangun masjid kedua di bumi, yaitu Masjidil Aqsha. Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad; Abu Thar bertanya kepada Rasulullah, “Masjid mana yang pertama kali dibangun?" Rasul menjawab, "Al-Haram kemudian Al-Aqsha 40 tahun kemudian.”
Masjid Al-Aqsha merupakan kiblat pertama kaum Muslim sekaligus tempat Mi’rajnya Rasulullah SAW ke langit ketujuh untuk menerima perintah langsung dari Allah SWT, yaitu Shalat. Peristiwa ini terjadi pada tahun 11 kenabian atau 621 M.
***
Keadaan Kota Al-Quds
Memasuki pelataran Al-Aqsa, perhatian akan tertuju pada Kubah As-Sakhra (Dame of the Rock) atau juga dikenal sebagai Masjid Umar yang kubahnya berwarna kuning keemasan yang digunakan shalat Jum’at untuk wanita dan anak-anak. Sedangkan laki-laki melakukan shalat Jum’at di Masjid Al-Aqsha, sebelah Selatan Kubah As-Sakhra.
Bagian Barat Laut Al-Quds terdapat Via Dolorosa, jalan yang diyakini oleh orang Nasrani sebagai tempat Yesus memanggul salib. Di Al-Quds juga terdapat Mount Olive yang merupakan suatu tempat yang diyakini banyak kalangan Nasrani sebagai tempat diangkatnya Nabi Isa AS ke langit.
Pagar yang terletak di sebelah Barat Masjid Al-Aqsha terdapat Tembok Ratapan, tembok yang disucikan bagi orang Yahudi. Mereka menyakini di tempat inilah Haekal Sulaiman atau Gunung Kuil (Temple Mount) pernah berdiri. Namun tidak ada yang tersisa dari bangunan kuil tersebut. Masyarakat Yahudi seluruh dunia mengunjungi sisa-sisa tembok kuno yang dulu merupakan bangunan kuil yang sekarang dikenal dengan nama Tembok Ratapan (Wailing Wall).
Kompleks Al-Aqsha dikelilingi pohon Kurma dan Zaitun. Untuk sampai ke Masjid Al-Aqsha, harus melewati jalan-jalan berbatu yang berliku-liku dan diapit rumah-rumah penduduk yang desainnya tidak berubah selama ratusan tahun.
Setiap belokan terdapat petunjuk arah menuju Al-Aqsha untuk memudahkan peziarah supaya tidak tersesat. Selain itu, kompleks Al-Aqsha dikelilingi tembok yang tinggi dan lorong-lorong yang sempit di mana bagian kanan dan kirinya hanya dibatasi pagar dan rumah-rumah penduduk yang terbuat dari batu. Jerusalem ditaklukkan, dihancurkan, dan dibangun kembali lebih dari 20 kali dalam kurun waktu 3000 tahun terakhir.
Tidak semua kaum Muslim mengetahui tentang Al-Quds, bahkan kota suci ketiga bagi umat Islam setelah Mekkah dan Madinah seolah terlupakan. Padahal tempat tersebut merupakan tempat ibadah beberapa Nabi sebelum Rasulullah Muhammad SAW. Nabi Ishak AS putra Nabi Ibrahim AS juga beribadah di Al-Aqsha dan melakukan perjalanan ke Ka’bah di Mekkah. Nabi Ishak AS berhaji dari Al-Aqsha seperti yang dilakukan Nabi Ibrahim AS. Nabi Ya’kub AS yang merupakan keturunan kedua Nabi Ishak AS menyatakan bahwa Al-Aqsha merupakan tempat ibadah semua umat.
Disaat orang-orang berlomba-lomba berziarah ke Mekkah dan Madinah berulang-ulang untuk mendulang pahala, Al-Quds menjadi suatu kota yang asing bagi kita. Karena begitu asingnya, kita tidak mengetahui yang mana Masjid Al-Aqsha tempat Mi’raj Nabi Muhammad SAW. Padahal begitu berartinya Al-Quds dengan Al-Aqsha-nya. Rasulullah dalam sebuah hadits menyatakan, “Shalat yang dilakukan di Masjid Al-Haram sama dengan 100.000 shalat, di Masjidku (Nabawi) sama dengan 1000 kali, dan di Al-Aqsha sama dengan 500 kali.”
Umat Islam ada yang mengira kubah batu berwarna keemasan (Kubah As-Sakhra) adalah Al-Aqsha seperti yang sering disaksikan di gambar-gambar mengenai Kota Al-Quds. Masjid Al-Aqsha terletak di sebelah Selatan Kubah As-Sakhra yang kubahnya berwarna abu-abu. Mujirudin Al-Hambaly mengatakan, “Sudah hal umum yang di kalangan orang-orang bahwa Al-Aqsha adalah suatu yang terletak ke arah kiblat termasuk mimbar dan mihrab.”
Menurut Muhammad Hassan Sharab dalam bukunya Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsha mengatakan, “Masjid Al-Aqsha yang tercantum dalam surah Al-Isra’ adalah seluruh kawasan suci (Haram Al-Quds) dan akan mendapatkan pahala berlipat bila melakukan ibadah di bagian mana pun di sekitar temboknya.” Artinya, seluruh wilayah yang berada di dalam pekarangan merupakan bagian dari Masjid Al-Aqsha. Termasuk tembok Ratapan bagian Barat, Ribat Al-Kurd, dan Gerbang Maghareba.
Wilayah Al-Aqsha dikelilingi tembok-tembok di bagian Timur, Selatan, dan Utara dengan pintu gerbang di Barat. Di dalamnya terdapat pekarangan pasir yang ditanami pohon Zaitun, tiang-tiang, mihrab-mihrab, dan bangunan lainnya. Sekarang, sebagian wilayah tersebut telah dicaplok oleh Zionis Israel. Pemerintah Israel menutup pintu gerbang menuju pekarangan-pekarangan dan bangunan-bangunan Al-Aqsha yang disebut “Aqsha Tua” dan Masjid Mawarni di bagian bawah arah sisi Timur.
***
Pembebasan Al-Quds
Kekhilafahan Abbasyiyah menguasai Jerusalem antara 1073 – 1098. Dunia Islam yang saat itu merupakan peradaban yang superior dibandingkan semua peradaban yang ada. Pada tanggal 25 November 1095, Paulus Urbanus II menyerukan Perang Salib dan tahun 1099 pasukan salib menaklukkan Jerusalem. Mereka membantai sekitar 30.000 warga Jerusalem yang terdiri dari kaum Muslim, Yahudi, dan kelompok masyarakat lainnya. Puluhan ribu kaum Muslim yang mengungsi dan mencari perlindungan di atap Al-Aqsa dibantai dengan sadis tanpa pandang bulu, baik wanita, anak-anak, dan orangtua.
Pada tahun 1187, Salahuddin Al-Ayyubi sebagai komandan pasukan Muslim berhasil membebaskan kembali Jerusalem dari pasukan salib yang telah diduduki selama sekitar 87 tahun (1099 – 1187). Setelah pembebasan usai, tentara salib yang kalah dipersilakan pulang. Mereka hanya dikenai tebusan ringan, bahkan jika tidak punya harta akan disantuni dan bagi yang tidak ikut berperang sama sekali tidak tersentuh oleh pedang kaum Muslim. Adzan pun kembali berkumandang di menara Al-Aqsha.
Langkah Salahuddin Al-Ayyubi mengundang simpati kalangan Nasrani. Penguasa gereja dengan sukarela menyerahkan kunci Al-Quds yang memang merupakan wilayah kaum Muslim pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab. Mereka tulus mengakui hidup di bawah naungan pemerintahan Islam jauh lebih baik daripada di bawah cengkraman Romawi, saudara mereka seagama.
***
Masuknya Zionis ke Palestina
Awal Diaspora
Palestina memiliki sejarah berdarah yang panjang. Sejak Dinasti Saljuk di tahun 1071, Perang Salib pada abad X, hingga pencaplokan oleh Israel.
Gelombang imirasi pertama Yuhudi ke Palestina terjadi pada tahun 1882. Konferensi Zionis pertama yang digelar di Swiss pada 29 Agustus tahun 1897 semakin mengukuhkan pencaplokan Israel atas wilayah Palestina.
Zionis adalah gerakan yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi untuk mendirikan negara khusus bagi komunitas Yahudi (di Pelastina). Negara ini merupakan institusi yang akan mengumpulkan kembali orang-orang Yahudi yang sudah bertebaran di seluruh dunia.
Pada tanggal 1 Oktober 1917, Inggris menguasai Palestina. Melalui Lord Arthur Balfour, Inggris menjanjikan tanah bagi kaum Yahudi untuk berdirinya Der Judenstaat Zionisme “Sebuah Rumah Nasional bagi Orang Yahudi di Pelastina”. Saat itu tidak lebih dari 2% luas Palestina sudah dikuasai oleh Yahudi.
Konspirasi internasional berhasil membuat Inggris memberikan mandat kepada Israel untuk melakukan invasi ke Palestina. Pada tahun itu pula terbentuk tentara Israel yang disebut Haganah yang bertugas melindungi aksi invasi. Akhirnya terjadilah perang terbuka antara bangsa Arab dengan Yahudi pada tahun 1929 dan berakhir pada tahun 1936.
Tahun 1937, tanah suci Al-Quds oleh Badan Internasional yang disebut Peel Comision membagi menjadi dua bagian, yaitu sebagian milik Arab dan sebagian milik Israel. Penderitaan rakyat Palestina terus berlanjut ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tanggal 20 November tahun 1947 memberikan restu atas pendirian negara Yahudi. Sebelumnya, tanggal 30 Agustus 1945, presiden AS saat itu Harry S. Truman oleh warga Yahudi dimintai izin dan perlindungan untuk memasuki wilayah Palestina. Tak lama setelah mendapat restu dari PBB dan mendapat perlindungan dari AS, Israel dengan tentara Zionisnya yang dipersenjatai lengkap menyerbu dan menduduki tanah Palestina.
Pembentukan Negara Israel
Pada tanggal 14 Mei 1948, 37 orang Yahudi berkumpul di Tel Aviv, termasuk Ben Gurion. Mereka memproklamirkan berdirinya negara Israel dan melakukan konsolidasi pada warga Yahudi untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa Arab. Mereka berdalih bahwa hal tersebut merupakan hak sejarah dan alamiah. Karena bagi mereka (Yahudi), harapan akan kembalinya “Tanah yang Dijanjikan” adalah bagian fundamental dari ideologi mereka dan kaum Yahudi sedunia dapat bersatu (diaspora).
Sejak itu, Zionis Israel tidak segan-segan menumpahkan darah orang-orang Palestina untuk mempertahankan kemerdekaannya yang lemah. Menurut sejarawan Issa Nakhleh, “Minoritas Yahudi tidak berhak untuk menyatakan kemerdekaan suatu negara di atas wilayah yang dimiliki oleh bangsa Arab Palestina.” Bagaimana tidak lemah, dari 37 orang Yahudi yang memproklamirkan kemerdekaan tersebut, 35 orang lahir dan besar di Eropa, seorang berasal dari Yaman, dan hanya seorang saja yang dilahirkan di Palestina.
Pada waktu yang sama, negara-negara Arab mengirimkan pasukannya untuk mempertahankan Palestina dan setahun penuh perang berkecamuk sampai 1949. Tentara Zionis saat itu berhasil mengusir tidak kurang dari 160.000 warga Palestina dari tanahnya sendiri dan menguasai kurang lebih 77,4% dari keseluruhan tanah Palestina. Selain itu, pada bulan Mei tahun 1949, mereka juga membangun sekitar 1.947 pemukiman yang dibangun di atas reruntuhan desa dan tempat-tempat lain yang telah ditinggalkan oleh penduduk Arab yang lari dari teror atau dipaksa hengkang. Pada bulan Oktober tahun yang sama, banyak imigran Yahudi mulai berdatangan dari sejumlah negara yang berbeda.
Perang akhirnya mereda, tetapi perang kecil antara warga Palestina dan Zionis terjadi hampir setiap hari. Puncak peperangan kembali terjadi antara bangsa Arab dan Israel yang dipicu pembakaran Al-Aqsha oleh seorang turis Australia, Michael Rohan atas desakan Israel pada tanggal 21 Agustus 1969. Di tahun 1973, perang antara bangsa Arab melawan Zionis Israel kembali terjadi.
***
Upaya Zionis Menguasai Al-Quds
Seperti diketahui, Israel tidak akan mundur untuk menjadikan Al-Quds sebagai Ibukota Israel. Berbagai cara dan upaya mereka lakukan untuk dapat merampas dan merebut Al-Quds.
Sebuah buku “The Daydreams” yang merupakan kumpulan tulisan penulis Israel memberikan dan menyebutkan hipotesis mereka tentang penghancuran Al-Aqsha dan membangun kembali Al-Haikal. Selain itu, ekstrim Yahudi melakukan propaganda bahwa pembangunan Al-Haikal adalah sinyal surgawi yang semakin dekat untuk kaum Yahudi.
Dalam buku “The Daydremas” disebutkan empat skenario penghancuran Al-Aqsha :
1. Membangun 10 tiang yang melambangkan Sepuluh Perintah Tuhan dalam Ten Commandements di dekat dinding Barat Al-Aqsha.
2. Menyerukan membangun kembali Al-Haikal secara vertikal dan lebih tinggi dari Al-Aqsha.
3. Membangun terowongan bentuk spiral di sekitar Kubah As-Sakhra.
4. Membangunn Al-Haikal di atas reruntuhan Al-Aqsha.
Pada tanggal 7 Juni 1967, Israel menjajah bagian Timur kota Al-Quds dan mengambil kunci-kunci bagian Timur Al-Aqsha. Dulunya kunci tersebut diberikan oleh penguasa gereja dengan sukarela kepada Khalifah Umar bin Khaththab yang memang merupakan wilayah kaum Muslim dan kunci tersebut oleh Israel belum dikembalikan hingga sekarang. Pada tahun yang sama pula, shalat Jum’at di Al-Aqsha terhalang tentara Israel. Pada tahun itu pula, tepatnya seorang pendeta Yahudi bernama Shalomon Gorn bersama 50 pengikutnya melaksanakan ibadah keagamaan di halaman Al-Aqsha. Pada tahun 1976, pengadilan Pusat Israel memutuskan bahwa orang Yahudi mempunyai hak melakukan upacara ritualnya di dalam masjid.
Pada bulan Agustus tahun 1981, ditemukan terowongan di bawah Masjid Al-Aqsha yang gerbangnya berada di Tembok Ratapan. Pondasi terowongan tersebut dibangun oleh seorang pendeta Tembok Ratapan dan para pekerja dari Departemen Agama Israel. Akibat penggalian terowongan, menyebabkan keretakan serius di sejumlah bangunan warisan Islam yang berdampingan dengan Masjid Al-Aqsha.
Pada tahun 1990, pasukan Israel melakukan pembantaian di dalam Masjid Al-Aqsha, akibatnya 22 jama'ah meninggal dan lebih dari 200 lainnya luka-luka. Pada tanggal 4 Oktober 1996, Barikade militer Israel diletakkan di pintu masuk Masjid Al-Aqsha dan pemuda Islam Palestina yang usianya di bawah 35 tahun dilarang masuk untuk melaksanakan shalat di dalam Masjid Al-Aqsha.
Zionis Yahudi pernah memberikan sebuah hadiah kepada seorang pendeta Gereja Yunani, Maxim Saloom berupa patung perak kota Jerusalem. Dalam replika Jerusalem tersebut, sudah tidak terdapat lagi Masjid Al-Aqsha dan sebagai gantinya adalah Al-Haikal yang berdiri dengan megahnya.
Salah satu stasiun TV Israel pernah menayangkan prediksi bahwa Masjid Al-Aqsha akan runtuh karena gempa bumi. Berdasarkan Info dari Badan Geologi bahwa Jeruslem merupakan salah satu titik gempa yang paling aktif di dunia. Hal tersebut membuat Zionis semakin bersemangat untuk merapuhkan pondasi Al-Aqsha dan berusaha untuk meruntuhkannya.
Pada tanggal 14 Juli 1996, PM Israel Benyamin Netanyahu meminta untuk membagi lagi wilayah Al-Quds dan kemudian mengambil keputusan untuk membanguan pemukiman baru Yahudi di bukit Abu Ghneim, Jerusalem. Pada tanggal 28 Januari 1997, penggalian terowongan masih berlangsung di bagian Barat Daya Masjid Al-Aqsha dengan ketinggian 6 – 9 meter. Di tahun 1999, Israel pernah berencana untuk menghancurkan sebuah istana di masa Dinasti Umayyah yang bersebelahan dengan Masjid Al-Aqsha dan perluasan Tembok Ratapan untuk Yahudisasi lokasi serta merusak simbol-simbol Islam lainnya yang terdapat di wilayah itu.
Tanggal 9 Maret 2000, kelompok Yahudi bernama Azrat Menahem berusaha untuk mendirikan aula pesta besar di halaman Tembok Ratapan untuk keperluan upacaya umat Yahudi. Pada tanggal 29 Juli 2001, para pemuda Palestina berdatangan dari berbagai sudut kota sebelum subuh hingga saat matahari mulai naik. Mereka datang dan berkumpul di Masjid Al-Aqsha untuk mempertahankannya dari rencana keji Zionis yang akan dilakukan pada hari itu. Sehari sebelumnya, Mahkamah Tinggi Israel mengeluarkan izin sepihak kepada kelompok ekstrim Yahudi “Umana Haikal” untuk meletakkan batu marmer seberat 4,5 ton. Batu tersebut sebagai fondasi pertama sekaligus untuk melakukan peringatan atas pemusnahan kuil yang mereka klaim ada di wilayah Maghareba sekitar Masjid Al-Aqsha. Mereka meyakini wilayah tersebut merupakan tanah warisan yang akan dijadikan sebagai tempat untuk membangun sebuah kuil milik Yahudi.
Mufti Al-Quds, Syaikh Ikrimah Shabri menyatakan bahwa keputusan Mahkamah Tinggi Israel tidak layak dikeluarkan karena menyangkut tanah wakaf milik umat Islam. Termasuk perkampungan Maghareba yang menjadi tempat batu fondasi Sinagong Yahudi, merupakan wilayah umat Islam.
Pemerintah Israel telah membangun jembatan bawah tanah yang akan menghubungkan beberapa tempat yang langsung ke Masjid Al-Aqsha. Ketua Yayasan Al-Aqsha, Syaikh Ra’ed Shalah membenarkan bahwa Israel telah melakukan aksi dan usaha untuk meruntuhkan Masjid Al-Aqsha. Beliau menemukan bukti-bukti berupa galian dan sambungan baru bawah tanah di permukiman Muslim dekat Masjdi Al-Aqsha. Menurutnya, penggalian dilakukan pada malam hari. Hal ini diperkuat dengan pengaduan warga setempat berupa bunyi-bunyi alat galian dan bebatuan yang berjatuhan.
Sebuah video dokumenter dari Yayasan Al-Aqsha juga menunjukkan sebuah terowongan dengan tinggi 6 – 9 meter dan berjarak 30 m telah tergali dengan rapi. Terowongan lain juga sudah terbangun di bawah Masjid Al-Aqsha. Dari letak penggalian tersebut, diyakini Zionis telah memindahkan lebih dari 100 makam para sahabat dari makam Al-Rahma. Penggalian tersebut berakibat keretakan dinding bagian Selatan Masjid Al-Aqsha.
***
“ ... dan siapkanlah untuk menghadapi musuh apa saja yang kamu sanggupi.“ (QS. 8 : 60).
Perjuangan Rakyat Palestina
Satu-satunya cara efektif untuk mempertahankan tanah Palestina dan melindungi umat Islam yang bermukim di sana adalah dengan jihad fi sabilillah.
Sejak wilayah Palestina dicaplok Zionis Israel hingga sekarang, banyak terbentuk gerakan perjuangan pembebasan Palestina. Baik yang berada di wilayah tersebut maupun di luar. Meskipun berbeda, tapi inti dari perjuangan tersebut adalah mengusir Zionis Israel dari wilayah Palestina dan mengembalikan Al-Quds ke pangkuan umat Islam. Karena Tanah Suci Al-Quds haram hukumnya jatuh ke tangan Zionis Israel, apalagi sampai dimiliki oleh mereka, sejak Al-Quds ditaklukkan oleh Umar bin Khaththab hingga kiamat nanti.
Seperti yang tercantum dalam salah satu isi piagam Hamas (Harakatul Muqawwamah Al-Islamiyyah) atau Gerakan Perlawanan Islam yang merupakan satu dari sekian banyak kelompok perjuangan Palestina menyebutkan, “Hamas mempunyai pendirian bahwa Palestina adalah tanah milik kaum Muslim dan generasi Islam hingga kiamat. Tanah itu tidak boleh disia-siakan atau dilepaskan haknya, meskipun hanya sebagian. Negara Arab mana pun tidak berhak memilikinya. Sama halnya dengan organisasi bahkan seluruh organisasi, baik yang berada di Palestina maupun yang berada di negeri-negeri Arab, karena tanah Palestina adalah milik kaum Muslim dan generasi kaum Muslim hingga kiamat. Siapakah yang lebih berhak memiliki tanah itu selain generasi-generasi kaum Muslim hingga hari kiamat ...”
Adalah Syeikh Ahmad Yassin semasa hidupnya pernah mengatakan dalam sebuah simposium di Islamic University, bahwa kita tidak bisa membicarakan proposal perdamaian dengan pihak yang telah memberikan 80% wilayah Palestina kepada musuh. Meski tak ada yang membela rakyat Palestina, meski tidak ada pihak luar yang benar-benar gigih memperjuangkan tanah Al-Quds, rakyat Palestina tidak boleh berkecil hati, karena kemenangan hanya milik Allah SWT dan Insya Allah Allah SWT bersama kita.
Perlawanan Fisik
Adalah hal yang keliru mengatakan bahwa Muslim Palestina harus meninggalkan jihad dan menerima perdamaian. Hal ini tidak boleh didiamkan, perdamaian bukanlah satu-satunya pilihan politik, bahkan kita tidak mungkin berdamai dengan Israel.
Belajar dari pengalaman sebelumnya dimana pihak Israel tidak pernah menepati isi perjanjian–perjanjian perdamaian yang telah dibuat dan disepakati bersama. Mereka hanya melenakan umat Islam dengan perjanjian perdamaian tersebut, padahal kenyataannya mereka tidak pernah berhenti mengusir dan membantai rakyat Palestina tanpa pandang bulu.
Muhammad Durra adalah seorang bocah Palestina yang syahid dibantai Zionis Yahudi dalam dekapan ayahnya pada tanggal 28 September 2000. Detik-detik tragedi tersebut terekam kamera dua wartawan Perancis yang kemudian menyebarkannya ke seluruh dunia. Karena merasa terancam, Israel akhirnya melampiaskan kekejamannya kepada anak-anak dan menjadikan anak-anak di bawah umur sebagai sasaran mereka.
Tidak ada pilihan bagi rakyat Palestina kecuali berperang. Dan negara-negara di sekitarnya (bangsa Arab) wajib membantu. Israel memang mempunyai kekuasaan yang besar, namun mereka tetap bisa dikalahkan.
Para pejuang Palestina akan tetap mampu bertahan sampai kapan pun karena Allah SWT bersama mereka. Mereka mengobrak-abrik, menakut-nakuti, dan mengguncang Israel. Israel tidak punya tempat di bumi ini yang bisa membuat mereka tenang.
Kaum Muslim di mana pun harus memberikan bantuan dengan harta, senjata, mujahidin, dan apa saja yang mampu dikerjakan. Allah SWT tidak akan membebankan kepada hambaNya apa saja yang ia tidak mampu.
Izzuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, pernah menyeru umat Islam agar ikut membantu rakyat Palestina memerangi penjajah Zionis Israel dalam membebaskan Al-Aqsha berupa dana jihad. Diuraikan bahwa satu butir peluru Kalasnikov seharga 3 Dollar, sebuah senjata otomais Kalasnikov seharga 3500 Dollar, satu senjata RPG 12000 Dollar, dan 1 kg TNT seharga 100 Dollar. Dan dibutuhkan sebanyak 1 kg TNT untuk digunakan tiap orang saudara-saudara kita dalam operasi bom syahid.
Tidak hanya itu, para pejuang pembebasan Palestina mengerahkan segenap upaya yang mereka miliki untuk mengusir Zionis dari wilayah mereka. Secara logika, adalah tidak berimbang lemparan batu berhadapan dengan tank-tank lengkap dan alat-alat militer yang canggih. Tetapi kegigihan rakyat Palestina dengan intifadha dan bom syahidnya telah membuat penduduk Israel tidak bisa hidup tenang di bumi Palestina.
Tampaknya warga Yahudi akan dihantui ketakutan selamanya karena Muslim Palestina tidak akan pernah kekurangan para pejuang. “Mati satu tumbuh seribu, patah tumbuh hilang berganti” adalah gambaran yang paling pas untuk menyatakan keberlangsungan jihad di Palsetina.
Ben Gurion, PM Israel pertama pernah mengatakan, “Sesuatu yang paling menakutkan kami adalah lahirnya dari negeri-negeri Arab seorang 'Muhammad' baru.” Selain itu, seorang Panglima perang Israel juga pernah berkata, “Kita tidak pernah takut pada pada Sosialisme, Kapitalisme, dan Ideologi lainnya di dunia. Yang kita takutkan hanyalah Islam. Keamanan dan kedamaian bagi orang Yahudi tidak akan pernah terwujud kecuali bila Islam telah lenyap.”
Seorang Ulama Islam yang terkenal, DR. Yusuf Qardawi pernah mengeluarkan fatwa, “Haram berziarah ke Masjid Al-Aqsha dan Jerusalem selama penjajah Israel masih mendudukinya." Hal ini didasarkan bahwa selama masih dijajah Israel, kunjungan ke Al-Aqsha dan Jerusalem akan mendatangkan devisa bagi bangsa Yahudi itu. Padahal setiap sen yang dibelanjakan umat Islam terhadap produk-produk Israel dan AS, keuntungannya akan digunakan untuk membuat peluru dan akan digunakan untuk membunuhi kaum Muslim di Palestina dan belahan dunia lainnya.
Perlawanan Non Fisik
Walaupun perjuangan rakyat Palestina saat ini belum mampu menghentikan total sepak terjang Israel dalam menjarah tanah milik mereka, lemparan batu pejuang Muslim Palestina akan menjadi teror abadi bagi Israel. Dan sekarang, Israel tidak hanya menghadapi lemparan batu anak-anak Intifadha. Munculnya e-Jihad atau Inter-Fadha semakin membuka mata pihak Israel bahwa gerakan pejuang Muslim Palestina tidak hanya berhenti di dunia nyata.
Universitas Ben Gurion di Beer Sheeva, salah satu universitas di Israel pernah megadakan simposium khusus tentang Inter-Fadha. Dalam simposium itu, seorang pengajar mata kuliah Teror di Internet menyatakan bahwa, “Dunia Islam saat ini menyadari pentingnya internet dengan sangat dini. Mereka mengadopsi strategi baru dari online jihad atau e-Jihad. Mereka menciptakan komunitas Islam di internet yang akan menyatukan seluruh umat Islam di dunia.”
Perang maya ini diakui oleh pihak Israel sebagai gangguan yang sangat mengancam keberadaan mereka di wilayah Palestina. Lewat pola-pola interaksi via internet yang semakin meningkat, kaum Muslim semakin menyadari bahwa mereka memiliki musuh yang sama, yaitu Israel. Dengan komunikasi yang cukup intens, setiap Muslim dari belahan bumi mana pun dapat berdiskusi, bertukar pikiran, dan mengetahui peristiwa-peristiwa dunia Islam beserta perubahannya dari waktu ke waktu. Pihak Israel tidak menginginkan dunia mengetahui berita tentang Palestina tidak melaluinya. Seperti diketahui, media saat ini sangat didominasi oleh AS dan sekutunya yang merupakan pihak yang sangat berkepentingan mempertahankan keberadaan Israel di tengah-tengah kawasan Arab.
Lewat internet, kaum Muslim di seluruh dunia dapat menerapkan strategi bersama untuk melumpuhkan Israel lewat situs-situs pentingnya. Seorang pendiri komunitas virtual Timur Tengah (MEVIC), Mike Dahan menyatakan bahwa perang lewat internet menggugah orang-orang untuk terjun ke jalan. Aktivitas mereka tidak saja lewat internet, tapi ke luar dan beraksi.
Pemboikotan ekonomi terhadap produk-produk Israel menjadi salah satu andalan Muslim Arab untuk menekan Israel. Sejumlah kerugian akibat pemboikotan dapat menyebabkan kerugian yang besar bagi Israel, sehingga memaksa mereka melakukan seribu satu cara untuk memasok barang dagangannya ke pasar Arab, antara lain dengan cara menggunakan label produk fiktif yang berbeda-beda. Israel juga berupaya mengelabui opini dunia dengan sejumlah perjanjian damai dengan Palestina dan menjalin kembali hubungan diplomatik dengan sejumlah negara-negara di dunia. Hal tersebut dirasakan cukup efektif bagi Israel untuk menangkal seruan pemboikotan.
Di Indoensia sendiri, sedikit demi sedikit Israel diam-diam telah menancapkan imperium bisnisnya. Meskipun keduanya tidak memiliki hubungan diplomatik.
DR. Muhsin Muhamad Saleh, seorang dosen tamu Universitas antar Bangsa Malaysia yang juga merupakan orang Palestina, pernah mengatakan bahwa kita harus mengembalikan dan meletakkan Palestina pada proporsi yang sebenarnya. Karena masalah Palestina bukan masalah orang Palesina atau orang Arab saja, akan tetapi masalah umat Islam di seluruh dunia. Karena orang-orang Yahudi dan Israel memerangi kita di segala tempat, waktu, dan keadaan. Jadi, jika Palestina adalah masalah seluruh masyarakat Islam, berarti kita tidak boleh mengalah dan memberikan secuil pun tanah Palestina pada Zionis Israel. Apapun alasannya dan bagaimana pun keadaannya. Karena tanah Palestina adalah tanah yang suci, tanah yang diberkati, dan milik umat Islam. Selain itu, masalah tersebut tidak berkaitan dengan salah satu generasi atau jangka waktu tertentu saja, namun merupakan pertempuran antar generasi.
Hal ini berarti jika generasi sekarang belum berhasil mengembalikan tanah suci tersebut ke pangkuan Islam, maka generasi berikut yang akan melanjutkannya. Dan jika masih belum, maka harus diteruskan ke generasi selanjutnya dan akan terus berlangsung untuk masa waktu yang sangat panjang. Dengan adanya masalah Palestina, jika Allah memang menetapkan hikmah di dalamnnya, Insya Allah akan menjadi sebab bersatunya umat Islam.
***
Sikap Umat Islam
Secara politis, Masjid Al-Aqsha merupakan salah satu renungan bagi umat Islam. Palestina merupakan simbol dan alat ukur kekuatan umat Islam. Apabila Palestina dikuasai Zionis Israel, berarti umat Islam lemah dari segi politik, kekuatan, dan Ukhuwwah Islamiyyah. Dan apabila Palestina mampu kita rebut kembali, berarti umat Islam kuat dan bangsa mana pun di dunia ini akan takut untuk menjajah negara-negara umat Islam lainnya. Mereka melihat bahwa satu wilayah Islam yang mereka jajah, berarti mereka berhadapan dengan umat Islam di seluruh dunia.
Lihatlah bagaimana ketegasan sikap Sultan Abdul Hamid II selaku Khalifah ketika Daulah Khilafah Islamiyyah masih tegak di Turki dalam mempertahankan tanah Palestina. Beliau menolak tawaran Zionis Yahudi yang diwakili oleh Theodore Heartzel pada tahun 1901 yang menawarkan beberapa paket bantuan berupa :
1. Penghapusan utang Daulah Utsmaniayah.
2. Pembangunan armada laut untuk menjaga Daulah.
3. Pinjaman sebesar 35 juta lira emas tanpa bunga.
Paket bantuan tersebut ditukar dengan imbalan bagi orang Yahudi berupa :
1. Izin untuk memasuki wilayah Palestina kapan saja untuk berziarah.
2. Izin untuk mendirikan bangunan di sekitar Al-Quds untuk keperluan ziarah.
Sultan Abdul Hamid II kemudian berkata melalui Tahsin Pasya, “Sesungguhnya utang Daulah bukanlah aib, karena negara-negara lain seperti Perancis pun mempunyai utang yang tidak sampai membahayakan. Sesungguhnya Baitul Maqdis yang dimuliakan telah ditaklukkan bagi Islam pertama kali oleh Khalifah Umar bin Khaththab RA dan aku tidak ingin namaku tercatat dalam sejarah sebagai orang pertama yang menjual Al-Maqdis kepada Yahudi. Jika itu terjadi, berarti aku telah mengkhianati amanat yang telah diberikan kepadaku oleh kaum Muslim untuk menjaganya. Ambil dan pegang saja uang mereka itu. Negara besar yang mulia tidak akan mungkin membangun benteng-benteng pertahanannya dari harta musuh-musuh Islam. Aku tidak bisa melepaskan sejengkal pun tanah Palestina, karena tanah tersebut bukan milikku, tetapi milik umat Islam. Rakyatku berjuang untuk mendapatkan tanah ini dan mereka pun telah menumpahkan darah. Karena itu, suruhlah orang-orang Yahudi itu untuk menyimpan kembali uang mereka. Kalau suatu hari negara Khilafah ini terpecah-belah, saat itulah mereka baru bisa mengambil Palestina tanpa imbalan.” (Mouffan ani Al-Marjeh, Shahwah Rajul Al-Maridh).
Sultan Abdul Hamid II benar, Israel dapat dengan leluasa mengambil Palestina tanpa imbalan apapun kepada Umat Islam. Negara Khilafah sudah tidak ada, Umat Islam di seluruh dunia tidak dalam satu komando seorang Khalifah. Umat Islam terpecah belah menjadi beberapa negara dan hanya terikat dengan ikatan nasionalisme, bukan ikatan Ukhuwwah Islamiyyah.
Belajar dari peristiwa pengalihan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Baitullah, mengandung hikmah untuk menyingkap kebimbangan orang-orang yang hatinya lemah, munafik, dan Yahudi yang sudah bergabung ke dalam barisan kaum Muslimin, sehingga mereka kembali kepada bentuk aslinya dan barisan kaum Muislimin bersih dari pengkhianatan.
Pengalihan arah kiblat tersebut juga mengandung isyarat yang lembut tentang babak baru yang bisa terwujud jika orang-orang Muslim dapat menguasai kiblat Baitullah yang waktu itu dikuasai oleh kafir Quraisy. Sebab adalah hal yang aneh jika kiblat mereka masih berada di dalam genggaman musuh, berarti kiblat itu harus berada di tangan mereka.
Sekarang, kiblat umat Islam yang pertama Baitul Maqdis dikuasai oleh Zionis Israel. Beribu-ribu orang Palestina yang tinggal di pengasingan dan tidak boleh kembali ke tanah air mereka. Kalaupun ingin kembali, mereka harus menunggu hingga mereka menua agar diizinkan oleh pasukan Zionis Israel yang ada di perbatasan untuk memasuki wilayah mereka, tempat mereka dilahirkan, karena dianggap sudah tidak berbahaya lagi.
Bagaimana para pemuda Palestina yang saat itu berada di luar wilayah mereka saat pendudukan Zionis Israel? Mereka dipaksa untuk hidup dan tinggal di pengasingan, berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu negara ke negara lain, dan mengetahui tentang tanah kelahiran mereka melalui TV, media massa, telepon, dan surat dari keluarga mereka yang masih atau tetap tinggal di Palestina.
Bangsa Arab yang berada di sekitar Palsetina, bila mereka bersatu dan mengerahkan segenap kemampuan dan upaya mereka, niscaya Palestina yang di wilayah itu ada Al-Aqsha tempat Mi’raj Nabi Muhammad SAW dan merupakan kiblat pertama umat Islam, akan dapat direbut kembali. Tapi kenyataannya, sebagian bangsa Arab seolah tidak peduli dan lebih mementingkan untuk mengamankan wilayah mereka sendiri daripada ikut membantu saudara-saudara kita di Palestina.
Jangan sampai generasi kita berikutnya hanya mengetahui salah satu tempat suci umat Islam, yaitu Al-Aqsha, tapi tidak mengetahui di mana Al-Aqsha itu berada.
Di tengah kemegahan dan kemewahan Al-Haram dan Nabawi yang diagung-agungkan dan berlomba-lomba untuk dikunjungi, ada Al-Aqsha yang dirawat dan dipertahankan keberadaannya oleh sedikit orang saja. Mereka itulah para pejuang yang dijanjikan Allah SWT jannah yang luasnya seluas langit dan bumi.
KotaSantri.com © 2002-2012