
Pelangi » Jurnal | Sabtu, 16 Januari 2010 pukul 20:55 WIB
Penulis : Sylvia Nurhadi
Dari Irbadh bin Sariyah RA, ia berkata, pada suatu hari, setelah shalat Subuh, Rasulullah SAW menasehati kami dengan suatu nasehat yang membuat kami menangis dan sedih. Lalu ada seorang yang berkata, "Ya Rasulullah, ini adalah pesan perpisahan, lalu apa yang anda wasiyatkan kepada kami?" Rasulullah menjawab, "Aku wasiyatkan kepada kalian untuk bertaqwa kepada Allah SWT dan selalu mendengar serta taat (kepada pemimpin) meskipun pemimpin itu seorang budak Habasyi. Barangsiapa yang hidup (panjang umur) akan melihat banyak ikhtilaf (perbedaan), maka berhati-hatilah terhadap hal-hal yang baru (bid'ah), karena sesungguhnya bid'ah itu sesat. Maka barangsiapa di antara kalian yang menjumpai masa itu, maka berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa'Arrasyidin, peganglah erat-erat dan jangan sampai lepas."
Hadits di atas menunjukkan bahwa perbedaan di antara sesama umat Islam memang tidak dapat dihindarkan. Namun perbedaan yang beresiko memunculkan perpecahan, apalagi yang tidak sesuai lagi dengan sunnah Rasulullah dan apa yang telah dicontohkan para Khulafa'Arrasyidin (Abu Bakar RA, Umar bin Khattab RA, Utsman bin Affan RA, dan Ali bin Abi Thalib RA) harus dihindari. Perpecahan ini bahkan sesungguhnya telah mulai terlihat begitu Rasulullah memasuki hari-hari akhirnya. "Sesungguhnya akan ada tiga puluh orang pendusta di tengah umatku. Mereka semua mengaku nabi. Padahal, aku adalah penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku." Hadits ini diriwayatkan lebih dari satu orang, di antaranya adalah Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Bukhari - Muslim juga meriwayatkannya walaupun dengan redaksi berbeda.
Pada masa akhir kerasulan, di Yaman muncul seorang yang mengaku bahwa dirinya telah mendapatkan wahyu untuk meneruskan ajaran Rasulullah. Namun tak lama kemudian, nabi palsu tersebut segera ditangkap dan diadili. Kemudian muncul lagi dari Bani Asad, seorang bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal. Pada tahun 9 H, dia datang bersama kaumnya kepada Rasulullah SAW dan menyatakan keislamannya. Ketika Rasulullah sakit keras, ia memproklamirkan dirinya sebagai nabi. Thulaihah dan pasukannya pernah beberapa kali bertempur dengan kaum Muslimin namun selalu kalah. Kemudian bersama istrinya, ia melarikan diri ke Syam. Beruntung di tempat tersebut ia mendapatkan hidayah dan kembali ke pangkuan Islam. Thulaihah mati syahid dalam Perang Nahawand tahun 21 H.
Nabi palsu yang paling sering disebut-sebut namanya adalah Musailimah bin Tsumamah bin Habib Al-Kadzdzab, seorang laki-laki dari Yamamah. Ia berhasil mendapat pendukung yang banyak hingga dikhawatirkan membahayakan ajaran dan aqidah Islam. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, orang tersebut memberontak dan menolak perintah zakat hingga Abu Bakar terpaksa mengirim pasukan untuk memeranginya. Dalam peperangan ini, pihak Muslim kehilangan banyak sekali penghafal Al-Qur'an. Ini yang menyebabkan Umar bin Khattab menyarankan Abu Bakar agar segera memerintahkan para sahabat mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur'an yang kemudian pada masa Ustman bin Affan dibukukan hingga seperti sekarang ini.
Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi, juga ada nabi palsu bernama Al-Harits bin Said Al-Kadzdzab. Dulunya, ia adalah seorang zuhud yang ahli ibadah. Namun sayang, ia tergelincir dari jalan Allah dan mengikuti jalan setan. Ia didatangi iblis dan diberi 'wahyu.' Ia bisa membuat keajaiban-keajaiban laksana mukjizat seorang nabi. Saat musim panas, ia datangkan buah-buahan yang hanya ada pada musim dingin. Dan ketika musim dingin, ia datangkan buah-buahan musim panas. Sehingga, banyak orang yang terpesona dan mengikuti kesesatannya. Akhirnya ia ditangkap dan oleh Khalifah Abdul Malik dan disuruh bertaubat. Sejumlah ulama didatangkan untuk menyadarkannya. Namun peringatan tersebut tidak diindahkannya hingga khalifah terpaksa membunuhnya. Hal ini dilakukan agar menjadi peringatan bagi yang lain karena dapat merusak aqidah dan ajaran Islam yang sesungguhnya.
"Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi." (QS. Al-Ahzab : 40). Namun hingga detik ini, masih saja ada orang yang datang dan mengaku sebagai nabi. Ahmad Gulam Mirza adalah satu di antaranya. Ia mengaku sebagai nabi baru setelah Rasulullah SAW dan mengaku dirinya sebagai Imam Mahdi. Ia mendirikan sebuah sekte aliran sesat bernama Ahmadiyah pada tahun 1889. Ia lahir di India pada tahun 1835 dan meninggal pada 1908 di Lahore. Ia menafsirkan dan menambah-nambahi ayat Al-Qur'an hingga sesuai dengan keinginan dan kemauannya.
Ahmadiyah sendiri masuk ke Indonesia pada tahun 1922. Sekte ini memiliki kitab sucinya sendiri, yaitu "Tazkirah" yang kesuciannya diakui sama dengan Al-Qur'an. Ia juga menyatakan bahwa ada tanah suci selain Makkah dan Madinah, yaitu Qadyani dan Rabwah di India. Sesungguhnya sekte ini awalnya dibentuk sebagai taktik politik Inggris dalam rangka menaklukkan rakyat India ketika itu. Tujuan utamanya adalah memberantas dan membekukan ajaran jihad yang dilakukan rakyat Muslim India untuk melawan penjajahan di negerinya.
Di samping Ahmadiyah, beberapa aliran sesat sebenarnya juga telah ada sejak lama. Khawarij dan Syi'ah adalah di antaranya. Syi'ah sendiri terpecah menjadi beberapa kelompok yang saling bertentangan. Ada yang berpendapat Syi'ah terpecah hingga menjadi 70 kelompok, namun ada yang berpendapat hingga 300 kelompok. Di antara kelompok yang terbesar adalah Az-Zaidiyyah. Hanya kelompok ini yang memiliki pemahaman mendekati Ahlu sunnah wa jama'ah. Namun pada dasarnya, Syi'ah hanya mengakui ahlu bait (keluarga Rasulullah) sebagai pemimpin Islam dan Ali bin Abi Thalib adalah penerus kenabian.
Abdullah bin Saba', seorang Yahudi Yaman adalah orang yang paling sering dituding sebagai penyebar aliran ini. Ia lah yang menyebar fitnah bahwa para sahabat, antara lain Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Aisyah RA, amirul mukminin adalah orang-orang yang sesat. Oleh karenanya, kaum Syi'ah merasa bahwa Al-Qur'an yang ada saat ini tidak lagi asli karena dikumpulkan dan dibukukan pada masa pemerintahan mereka. Kaum Syi'ah juga hanya mempercayai hadits yang diriwayatkan Ali bin Abi Thalib.
Perpecahan terus terjadi hingga detik ini. Belakangan ini muncul ucapan dari seorang pengamat intelejen di sebuah pertemuan di kota Semarang, Jawa Tengah. Tanpa disertai bukti, ia menyatakan bahwa zakat di Indonesia digunakan untuk membiayai kegiatan terorisme. Jelas ini adalah fitnah. Setelah jihad yang sekarang ini seolah telah menjadi momok menakutkan, bahkan bagi telinga Muslim sekalipun, kali ini zakat pun tampaknya dicoba untuk diguncang dan diobok-obok keberadaannya. Padahal ayat tentang zakat jelas peruntukannya. Kembali hal ini membuktikan betapa syaitan begitu telah mampu menghalangi seluruh jalan menuju kebenaran. Hanya keimanan dan terus belajar mendalami serta mengkaji ayat-ayat Al-Qur'an dan sunnah Rasulullah sajalah yang dapat menyelamatkan seseorang dari godaan dan bisikan syaitan.
KotaSantri.com © 2002-2012