QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://noor.kotasantri.com
Bergabung
10 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta Timur - DKI Jakarta
Pekerjaan
Swasta
Tulisan Noor Lainnya
Menggali Kembali Pemahaman Tentang Fatwa
20 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 20 Juni 2009 pukul 20:00 WIB

Hitam Putih Kampanye dan Propaganda

Penulis : Noor Fajar Asa

Bangsa ini jangan terlalu berharap kampanye politik akan berlangsung positif, bersih, dan sehat untuk Pemilu CaPres 2009 ini. Tapi sebaliknya, jangan pula terlalu khawatir dengan adanya kampanye negatif, provokatif, ataupun propaganda negatif. Kampanye sehat (positive campaign), kampanye bersih, sulit terwujud karena setiap pasangan kandidat presiden/wapres, kandidat gubernur/wagub, kandidat walikota/wawali, kandidat bupati/wabup, dan kandidat kepala desa, serta tak lupa para caleg terpilih anggota DPR, DPRD, maupun DPD, secara manusiawi ingin tampil sempurna. Istilah kerennya "i look good, i feel good".

Untuk tampil mengagumkan dan mendapatkan citra lebih positif, maka lawan tanding harus di-"K.O."-kan dan dicitrakan negatif, mau tidak mau akan melakukan kampanye negatif (negative campaign) dan kampanye hitam (black campaign), maka dibuatlah propaganda negatif (negative propaganda). Seorang Penjahat kelas kakap pada sebuah kampanye dapat berubah total atau "disulap" menjadi seorang tanpa dosa yang kharismatik. Begitu pun sebaliknya, seseorang yang punya latar belakang dan sejarah hidup yang baik, dapat dijatuhkan dengan kampanye hitam yang dapat merubah wacana dirinya menjadi pelacur yang terhina.

Kampanye negatif atau black campaign adalah kampanye yang dilakukan oleh seseorang atau suatu kelompok secara terselubung, karena tidak menyebutkan identitasnya, tetapi mengemukakan borok dan kekurangan salah satu kandidat. Kampanye negatif semata-mata menonjolkan dirinya dan mengungkapkan kelemahan lawan, dengan tujuan ingin meyakinkan masyarakat bahwa dirinya lebih baik dibanding kandidat lain.

Propaganda Negatif adalah sebuah upaya untuk mengubah sudut pandang orang lain agar apa yang menjadi milik sendiri dapat menimbulkan akibat negatif terhadap pihak lawan. Propaganda merupakan manajemen terhadap sikap-sikap kolektif melalui manipulasi simbol-simbol signifikan. Propaganda dapat juga diartikan sebagai suatu cara menghancurkan pihak lawan atau sebagai suatu cara memanajemen opini publik. Cara ini sangat dekat hubungannya dengan persuasi, sehingga propaganda sering diidentikkan dengan persuasi massa. Propaganda berpijak pada asumsi bahwa umumnya orang bersifat irasional dan akan bereaksi terhadap simbol-simbol yang disampaikan kepada mereka melalui media massa.

Dengan demikian, propaganda seringkali efektif kepada masyarakat atau kelompok-kelompok masyarakat yang kurang kritis. Tetapi kampanye negatif, kampanye hitam, dan propaganda negatif itu sebenarnya ada juga positifnya. Positifnya antara lain akan membuka rekam jejak (track record) yang sebenarnya mengenai pribadi seorang calon yang akan dipilih. Masyarakat memerlukan informasi tentang rekam jejak para kandidat sebelum menjatuhkan pilihannya. Biasanya, para kandidat yang terkena kampanye negatif, kampanye hitam, atau propaganda negatif, akan bereaksi. Biasanya mereka akan mengatakan "itu fitnah" atau "itu bohong."

Kampanye negatif, kampanye hitam, dan propaganda negatif juga akan menguji kedekatan seorang kandidat dengan masyarakat. Kedekatan seorang kandidat dengan masyarakat itu tidak bisa hanya dibangun selama masa kampanye, tetapi harus jauh-jauh hari sebelumnya. Kalau begitu, pasti kandidat yang paling dekat dengan masyarakat, karena dialah yang sering berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat. Masyarakat yang sudah merasa dekat dan mengenal kandidat yang tertimpa kampanye hitam, kemungkinan besar tidak akan terpengaruh. Sebaliknya, masyarakat mungkin saja akan terpengaruh dengan isu kampanye negatif dan kampanye hitam, kalau mereka tidak mengenal dan tidak dekat dengan kandidat.

Kandidat yang populer belum tentu dekat dengan masyarakat, karena popularitas itu tergantung bagaimana memanfaatkan media massa. Sedangkan kedekatan itu dibangun dengan bersentuhan langsung, terjun, dan bertemu langsung dengan masyarakat. Itu pun bukan hanya sekali dilakukan, tetapi berkali-kali dan harus meninggalkan kesan yang baik. Akseptabilitas yang mengandaikan adanya dukungan riil dari sekelompok masyarakat yang menghendaki orang tersebut menjadi pemimpin sudah terpenuhi dalam pemilihan umum.

Demikian juga kapabilitas yang menyangkut kemampuan dan kecakapan untuk menjalankan kepemimpinan. Meski kapabilitas kandidat yang sudah pernah duduk dalam kepemimpinan nasional tidak sangat memuaskan seperti yang diharapkan, setidaknya mereka telah didampingi para ahli, teknokrat, dan kelompok profesional di bidangnya masing-masing. Sehingga problem kapabilitas mestinya sudah tidak ada masalah. Prasyarat yang masih dipertanyakan adalah integritas. Sebab, integritas adalah komitmen moral untuk berpegang teguh dan mematuhi aturan main yang telah disepakati dan sekaligus kesediaan untuk tidak melakukan pelanggaran terhadapnya.

Tanpa akseptabilitas, seorang pemimpin akan mudah dipertanyakan keabsahannya karena tidak memiliki legitimasi yang kuat. Sebaliknya, tanpa kapabilitas, seorang pemimpin tidak mungkin bisa menjalankan kepemimpinannya dengan baik, karena dia tidak dilengkapi dengan kompetensi yang memadai. Namun akseptabilitas dan kapabilitas menjadi tidak ada gunanya jika tidak didukung oleh integritas. Tanpa integritas, seorang pemimpin mudah terjemurus dalam sikap sewenang-wenang. Dengan sendirinya, berbagai bentuk penyelewengan moral akan mudah terjadi. Aspek terakhir inilah yang sering disebut sebagai kepemimpinan moral. Rendahnya kepemimpinan moral sering dianggap sebagai salah satu faktor yang membuat kondisi bangsa ini tidak segera beranjak pada keadaan yang lebih baik.

Dari berbagai sumber.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Noor Fajar Asa sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Prof | Cloth Design
Moga KotaSantri.com bisa jadi situs Jejaring yang Populer n meng-Global! Amin!
KotaSantri.com © 2002 - 2023
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0504 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels