Umar bin Khattab : "Kebajikan yang ringan adalah menunjukkan muka berseri-seri dan mengucapkan kata-kata yang lemah lembut."
Alamat Akun
http://mgamal.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Tangerang - Banten
Pekerjaan
Pegawai Bank Syariah
Merza Gamal adalah Pengkaji Sosial Ekonomi Islami dan Motivator Anti Rokok.
Tulisan Merza Lainnya
Beratnya Memakai Kerudung
18 Maret 2009 pukul 18:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 9 Mei 2009 pukul 21:39 WIB

Antara Safe Sex dan Moral Keagamaan

Penulis : Merza Gamal

Pada suatu hari Sabtu, saat membaca Koran pagi di rumah, mata saya tertumbuk pada sebuah iklan di pojok halaman yang mencolok mata. Iklan tersebut berjudul University Challenge "safe sex, saves lives". Selanjutnya iklan tersebut mengumumkan sebuah kompetisi yang ditujukan kepada seluruh Universitas di Indonesia untuk membuat proposal kampanye edukasi tentang kesehatan seksual di lingkungan universitas masing-masing dalam rangka hari AIDS Sedunia 2008 dan Pekan Kondom Nasional 2008.

Saya sangat jengah membaca iklan tersebut, apakah seks bebas sudah sedemikian menggejala di kampus-kampus di Indonesia, sehingga perlu diadakan kompetisi kampanye kesehatan seksual di lingkungan kampus?

Memang, apabila kita amati beberapa penelitian, terlihat bahwa kehidupan bebas di kalangan remaja merupakan hal yang tidak tabu lagi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh LSM Plan bekerja sama dengan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) tentang perilaku seks remaja Bogor tahun 2000, menunjukkan dari 400-an responden, 98,6% remaja usia 10-18 tahun sudah melakukan "pacaran"; 50,7% pernah melakukan cumbuan ringan, 25% pernah melakukan cumbuan berat, dan 6,5% pernah melakukan hubungan seks (78,6% di antaranya melakukan dengan pacar atau teman, dan sisanya dengan penjaja seks).

Demikian pula dari penelitian yang dilakukan Doktor Rita Damayanti dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) pada tahun 2006. Beliau meneliti perilaku "pacaran" sebanyak 8.941 pelajar dari 119 SMA sederajat di Jakarta. Hasil yang ditemukannya, tidak jauh berbeda, yakni 6,5% pelajar SLTA telah melakukan hubungan seks dengan pacarnya (termasuk seks oral), dan sekitar 25% melakukan cumbuan dengan meraba dan menggesekan alat kelamin (petting).

Menurut pengamatan seorang teman saya, persoalan seks bebas ini bagaikan fenomena gunung es. Hanya puncaknya saja yang kelihatan, atau dengan perkataan lain, hanya sedikit data yang terungkap. Menurut beliau, di balik itu, bisa jadi pelaku lebih banyak lagi. Data yang lebih dahsyat lagi, dari penelitian seorang pemerhati masalah sosial yang tidak dipublikasikan, menunjukkan bahwa saat ini telah beredar lebih dari 500 video porno buatan anak muda Indonesia. Hampir semua berawal dari dokumentasi iseng pasangan remaja untuk kenang-kenangan(?). Pelaku bervariasi dalam hal umur. Dari usia SMP hingga mahasiswa.

Pada tahun 2001, masyarakat dikejutkan oleh beredarnya film "Bandung Lautan Asmara" dan beberapa film porno buatan lokal. Sebagian pengamat memprediksi, bahwa akan ada peningkatan 10 kali lipat dalam 10 tahun ke depan. Ternyata ramalan itu salah, karena hanya dalam kurun waktu 5 tahun, di tahun 2006, ditemukan bukti dan data film porno Indonesia yang dibuat secara amatir telah mencapai 500 buah! Lebih dari 50 kali lipat jumlah film porno pertama yang dibuat rentang 2001-2003. Sungguh sangat mengejutkan!

Jumlah tersebut di atas semakin bertambah karena ditemukannya bukti, bahwa setiap hari, minimal 2 film porno lokal baru di upload ke internet. Sebagian besar dibuat dengan menggunakan peralatan Handphone kamera dan berisi cuplikan hubungan seks dalam durasi yang singkat (kurang dari 10 menit). Cuplikan video porno tersebut, dikonversi menjadi file-file berukuran kecil, tersebar di peralatan handphone dan pemutar film mini (MP4 Player) yang kini harganya semakin murah.

Yang lebih mengenaskan, 90% pelaku dan pembuat film terbesar video porno amatir itu adalah pelajar dan mahasiswa! Sebagian besar berisikan hubungan seksual sepasang kekasih yang dilakukan dengan 'sukarela' dan 'riang gembira'. Hubungan seks telah dijadikan hal yang tidak serius, membuka rahasia ke ruang publik, atas nama cinta dan keisengan belaka. Korban terbesar adalah remaja putri, mereka banyak tidak sadar telah dijebak dan dieksploitasi. Direkam ketelanjangan tubuhnya atas nama cinta dan kasih sayang, ditipu habis-habisan dengan ancaman 'putus' oleh kekasih bengalnya. Namun sayangnya, kata cinta kerap dijadikan senjata untuk membutakan logika.

Pada pertengahan tahun 2007 yang lalu, saya menulis di sebuah media, bahwa dalam iklan-iklan di televisi telah terjadi perubahan fungsi kondom, dari alat kontrasepsi untuk sebuah program Keluarga Berencana, menjadi sebuah alat penjaga kesehatan. Iklan-iklan yang ditayangkan tersebut tidak mempersoalkan apakah hubungan seks yang akan dilakukan dengan pasangan resminya atau bukan. Iklan-iklan tersebut lebih mementingkan kesehatan pelaku dalam mencegah HIV dan penyakit seksual lainnya, dan mengesankan memberi contoh kehidupan seks bebas bagi kaum muda dan remaja.

Akibat tulisan saya tersebut, saya "kebanjiran" pesan ataupun surat di mail box saya. Sebagian besar menyayangkan tulisan saya tersebut. Seharusnya, menurut mereka, saya harus bersyukur, bahwasannya saat ini sudah ada orang yang tidak lagi merasa munafik untuk memberikan petunjuk bagaimana cara hidup sehat melalui iklan-iklan kondom di TV tersebut. Bagaimana pun, masih menurut mereka, iklan-iklan kondom yang ditayangkan, tentu tidak asal buat tanpa pemikiran panjang para kreatornya. Iklan-iklan tersebut justru berasal dari bagaimana masyarakat kita menjalani kehidupannya saat ini.

Dan yang mencengangkan saya, sebagian besar yang "menghujat" saya sebagai seorang yang tidak mengerti keadaan dan seorang yang munafik adalah ibu-ibu. Saya hanya dapat mengurut dada, apakah sudah sedemikian permisifnya ibu-ibu di zaman ekonomi materialistis sekarang.

Merasakan fenomena seks bebas yang terjadi saat ini, dimana iklan dan kampanye kondom sangat luar biasa, hingga perlu dilakukan kompetisi antar kampus guna edukasi tentang kesehatan seksual di lingkungan universitas, membuat saya berpikir, apakah memang pencegahan dari sisi moral keagamaan tidak lagi mempan? Agama yang saya maksud di sini bukan hanya "Islam", karena sepengetahuan saya, tidak ada satu agama resmi pun di Indonesia yang dalam kitab sucinya membenarkan perzinahan. Atau mungkin definisi "zinah" saat ini sudah berubah, yakni hubungan seks yang dilakukan berdasarkan suka sama suka di antara pelakunya bukan lagi merupakan "perzinahan"?

Wallahu a'lam.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Merza Gamal sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Aw Windarti | Guru
Allahu Akbar!!! KSC itu media penyejuk jiwa-jiwa yang gersang.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0516 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels