HR. Bukhari : "Berhati-hatilah dengan buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan yang paling bodoh."
Alamat Akun
http://ina_asriadi.kotasantri.com
Bergabung
20 April 2009 pukul 18:59 WIB
Domisili
makassar - sulawesi selatan
Pekerjaan
Ibu Rumah Tangga dan Dosen
http://inagardenia.multiply.com
ina_asriadi
ina.asriadi
http://facebook.com/ina asriadi
Tulisan Ina Lainnya
Gemah Ripah Loh Jinawi
27 November 2010 pukul 19:00 WIB
Kemenangan Hakiki
11 September 2010 pukul 22:00 WIB
Al-Quds yang Terlupa
6 Maret 2010 pukul 20:55 WIB
Melati Costa
4 Januari 2010 pukul 19:01 WIB
Melati
2 November 2009 pukul 20:35 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Sabtu, 2 Mei 2009 pukul 19:21 WIB

Ungkapkan Isi Hatimu dengan Menulis

Penulis : Ina Asriadi

Menulis... menulis... menulis... dan menulis lagi, itulah yang kulakukan dikala hati ini merasakan berbagai hal, tapi tak kuasa lidah ini tuk mengungkapkan perasaan itu. Perasaan suka dan duka, cinta dan benci, semuanya tertulis. Di kemudian hari, saat perasaan itu sudah tidak ada lagi, membaca tulisan yang pernah kubuat membuatku tertawa.

Menulis adalah tindakan yang tepat dilakukan disaat hati terasa sesak karena suatu kejadian yang dialami, tapi mulut tak dapat mewakilkan hati tuk mengungkapkan isinya. Dengan menulis pula, kata-kata yang terangkai merupakan kata-kata yang keluar dari hati, sehingga tulisan tersebut merupakan gambaran isi hati dan responnya terhadap peristiwa yang terjadi. Menulis mengajarkan kesabaran. Bagaimana tidak, perasaan marah dapat tertahan tanpa menyiksa diri dengan menuliskan apa yang dirasakan.

Suatu tulisan terkadang banyak mengajarkan berbagai macam pengalaman hidup, dari tulisan itu nantinya dapat diambil hikmah dari isi tulisan yang dibuat. Orang lain pun dapat mengambil hikmah dari pengamalan hidup yang kita alami dengan membaca tulisan tersebut. Yang pasti, tulisan itu bersifat abadi, dan merupakan sejarah perjalanan kehidupan. Dengan tulisan, dapat diketahui apa yang pernah dialami dan yang sedang dialami. Bagi orang lain yang membacanya dapat mengambil pelajaran dari tulisan tersebut tanpa mengalami sendiri kejadiannya.

Tatkala kita mengalami suatu peristiwa dalam hidup ini yang sebelumnya belum pernah kita alami, kita terkadang bertindak bodoh dalam menyikapi peristiwa itu. Dengan menulisnya, kelak di kemudian hari saat mengalami hal yang sama, dengan membaca tulisan yang pernah kita buat, kita dapat bersikap lebih bijak dalam bertindak dan tidak mengulang kesalahan yang sama.

Yang pasti, dengan menulis, hidup kita dapat menjadi lebih baik di kemudian hari. Cobalah!

Apa saja yang bisa kita tulis, tulislah! Tidak terbatas pada pengalaman hidup semata, tapi juga pikiran dan ide-ide kita, tulis semua. Islam mengajarkan kita tuk memperluas pengetahuan apa saja yang dapat bermanfaat untuk kemajuan umat supaya umat tidak bodoh dan dibodohi. Tapi memiliki pengetahuan yang luas harus diimbangi dengan menyebarluaskan pengetahuan itu. Dan menulis merupakan salah satu cara tuk menyebarluaskan pengetahuan itu.

Sampaikanlah walau satu ayat,” merupakan anjuran bagi kita agar menyebarluaskan pengetahuan yang kita miliki. Selain itu, kita pun diperintahkan tuk beramar ma’ruf nahi mungkar kepada manusia sebagai wujud hablu minan nas kita. Memang kita memiliki keterbatasan tidak dapat menjangkau semua manusia tuk menyebarkan kebaikan, tapi dengan tulisan, mereka dapat mengetahuinya. Jadi, apa lagi yang menghalangimu tuk menulis?

Tapi, tulisan yang pernah kita buat jangan ditumpuk aja di rumah. Dipublikasikan dong! Apakah dengan mengirimnya ke media atau dikumpul dan dibukukan terus dipublikasikan. Selain menambah pahala, karena ikut menyebarluaskan ilmu, juga nambah uang jajan.

Dengan tulisan pula, kita dapat menyampaikan isi hati kita yang terdalam yang mungkin tak bisa kita ucapkan, sehingga orang lain dapat merespon isi hati tersebut dengan bijak. Coba bayangkan, saat perasaan marah dan kesal pada seseorang kita luapkan dengan kata-kata yang dapat menyinggung bahkan menyakiti hati orang tersebut. Kata-kata yang kita ucapkan dapat direspon negatif, sehingga disikapi dengan negatif pula. Berbeda bila perasaan itu kita tuliskan dan disimpan sejenak, setelah perasaan marah dan kesal sudah mereda, kalaupun tulisan tetap ingin kita berikan kepada orang tersebut, dengan sebuah tulisan dapat disikapinya dengan bijak, sehingga hubungan silaturahmi kita dapat tetap terjaga dan masing-masing dapat menjadikannya sebagai sarana intropeksi diri.

Begitu juga dengan melihat kondisi umat yang sangat memprihatinkan saat ini, kemaksiatan merajalela, kedzaliman politik di mana-mana, belum lagi masalah kemiskinan dan lain sebagainya yang dengan tindakan belum cukup mampu tuk merubahnya karena keterbatasan gerak kita. Tapi dengan tulisan, kondisi yang terjadi dan yang kita rasakan ini dapat diketahui oleh saudara kita yang lain yang mungkin tidak menyadarinya. Dan bagi lainnya yang merasakan hal yang sama, dapat sama-sama memikirkan dan ikut membantu memberikan solusi mengatasi masalah umat ini.

Memang, tulisan secara langsung tidak merubah suatu keadaan, karena tulisan hanyalah sebuah benda. Tapi respon orang-orang yang membaca tulisan tersebut dapat melahirkan suatu gerak yang nantinya akan melahirkan suatu perubahan ke arah yang lebih baik di masa akan datang.

Sejarah mencatat bagaimana kesaktian para penulis. Contoh, terbitnya sebuah novel berjudul The Da Vinci Code yang merupakan tulisan fiksi dari Dan Brown dapat mengguncangkan 'keimanan' kalangan umat Kristiani. Karena , dalam buku tersebut dituliskan bahwa sebenarnya Yesus Kristus berstatus menikah dengan seorang wanita yang bernama Maria Magdalena yang notabene adalah seorang pelacur dan mempunyai keturunan yang sampai sekarang tinggal di satu kawasan di Prancis.

Selain itu, ada pula buku berbahasa Jerman dengan judul Der Judenstaat di tahun 1896 yang dikarang oleh Theodore Herzl. Buku tersebut menjadi inspirasi jutaan orang Yahudi di seluruh dunia untuk membuat sebuah negara rasis; Yahudi Raya, atau kita kenal dengan Israel. Bayangkan, sebuah tulisan bisa melahirkan revolusi hingga lahirlah sebuah negara. Begitu besarnya pengaruh tulisan, sehingga dapat membangkitkan emosi masyarakat, bahkan sanggup melahirkan sebuah pergolakan sosial dan melahirkan perubahan.

Sebagai seorang muslim, kita tertantang. Mampukah kita melahirkan tulisan yang dapat menjadi inspirasi saudara-saudara kita yang lain tuk sadar dan menyadari krisis multidimensi yang bangsa ini alami sekarang. Selain itu, menjadi penulis muslim memiliki tanggung jawab tuk menyampaikan kebenaran dan kebaikan melalui tulisannya. Dengan demikian, tulisan yang kita buat haruslah berisikan muatan dakwah yang merupakan ajakan untuk meniti jalan menuju kehidupan yang Islami. Ide-ide yang kita tulis tidak hanya memberikan penjelasan tentang Islam, tapi juga dapat menangkis gagasan-gagasan yang membahayakan umat Islam. Dan tulisan tersebut sebagai dapat menjadi filter dalam menghadapi ”gawzl fikri” (pertarungan pemikiran).

So, menjadi penulis muslim, kita tidak hanya dituntut untuk kreatif, tapi juga bertanggung jawab atas apa yang telah kita buat. Penulis muslim harus bisa menulis dengan benar dan baik. Benar, berarti menyampaikan nilai-nilai keislaman karena Islam adalah sebuah kebenaran, sehingga penulis dituntut untuk terus belajar memperluas tsaqafah keislamannya. Dan baik berarti, tulisan yang kita buat tidak membosankan dan enak dibaca, sehingga penulis harus kreatif dan terus mengasah kemampuannya dalam menulis.

Semoga bakat menulis yang kita miliki betul-betul dapat bermanfaat untuk kebangkitan Islam. Umat menunggu perubahan masyarakat agar Islam tegak di atas muka bumi ini. Rusia pernah berevolusi dengan Das Kapital Karl Marx, dan Yahudi mendirikan Israel dengan Dar Judenstaat. Islam pun pasti bisa, dan semoga para penulis muslim dapat mewujudkannya.

Penaku adalah pedangku
Dengannya,
Meski ku tak ikut bertempur di medang perang
Tapi aku tetap bisa ikut berperang
Ya, dengan perang pemikiran,
Menyampaikan dan mengajak saudara-saudaraku
Meniti jalan menuju kehidupan Islami, dengan penaku
Karena, penaku setajam mata pedang.

 

http://inagardenia.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ina Asriadi sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Elis Khatizah | Mahasiswa Pasca Sarjana
Artikelnya bagus-bagus.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0459 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels