HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://vivi_hn.kotasantri.com
Bergabung
7 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Hadano - Kanagawa
Pekerjaan
IRT
Keluarga adalah tempat untuk mencurahkan kasih sayang, menaburkan asa, dan menumpahkan keluh kesah. Keluarga bisa menjadi syurga dunia, bila diisi oleh orang-orang yang sholih dan sholihah. Keluarga adalah impian setiap insan, tempat berkembangnya putik-putik bunga..hingga mekar dan menebarkan wangi ke selilingnya..itulah keluarga barokah...
http://hifizahn.multiply.com
Tulisan Hifizah Lainnya
Cermin Ukhuwah
27 Maret 2009 pukul 16:50 WIB
Mendidik Anak di Negeri Sakura
13 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Duka Gaza di Universitas Keio
4 Februari 2009 pukul 05:22 WIB
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Selasa, 31 Maret 2009 pukul 18:15 WIB

Sang Idola

Penulis : Hifizah Nur

"Wuihh.. Ganteng bo! Keren banget deh pokoknya," seru Santi, seorang gadis remaja ketika membicarakan salah satu bintang televisi bersama teman-teman se-gank nya. Omongannya ditimpali ramai oleh teman-temannya. Berbagai pujian terhadap sang bintang tercetus dari bibir-bibir para remaja puteri itu. Dan mereka betah berjam-jam menghabiskan waktu untuk membicarakan sang idola.

Sang Idola. Begitulah para remaja sekarang melihat bintang film, atlit, atau tokoh-tokoh muda yang terkenal lewat layar kaca. Biasanya faktor yang paling menarik perhatian para remaja putera dan puteri ketika mengidolakan seseorang adalah fisiknya. Ganteng atau Cantik. Baru talent atau bakat yang dimiliki seperti kemampuannya berakting, bernyanyi, atau prestasi di bidang-bidang lainnya. Jarang ditemukan orang yang secara fisik biasa-biasa saja, tetapi menjadi idola para remaja kebanyakan. Begitu juga kepribadian atau karakter yang dimiliki, merupakan nomor kesekian yang dijadikan bahan pertimbangan ketika seseorang remaja mengidolakan seorang bintang.

Hasil dari pengidolaan ini bermacam-macam, dari mulai mengikuti apa yang dikenakan sang idola, mengunjungi tempat-tempat yang sering dikunjungi sang idola, sampai meniru segala sesuatu yang dilakukan oleh sang idola. Sampai ada suatu kejadian tragis, ketika seorang bintang idola meninggal, beberapa orang fansnya rela ikut membunuh dirinya karena kesetiaan yang di luar akal sehat. Contoh : Kasus Grup Musik X Japan, ketika salah seorang personilnya meninggal, 4 orang fans ikut mencoba membunuh dirinya, 2 orang meninggal.

Dalam Islam, salah satu bentuk pengidolaan sampai mengikuti seluruh sepak terjang sang idola, selain kepada Rasulullah SAW, bisa dikategorikan sebagai salah satu syirik (menyekutukan Allah). Mengapa demikian? Ada dua hal yang bisa menjadikan seseorang berlaku syirik kepada Allah ketika menjadikan seorang bintang sebagai idola.

Pertama, ketika seseorang mengikuti segala perilaku yang ditunjukkan oleh sang idola. Terutama dalam hal-hal yang dimurkai Allah. Misalnya, bila sang idola menganggap dugem itu adalah sesuatu yang 'cool', maka para remaja ikut-ikutan menyenangi tempat dugem seperti yang diidolakan. Contoh lain, bila sang idola memakai baju yang seksi, yang memperlihatkan seluruh bentuk tubuhnya, dengan serta merta para fans mengikuti gaya berpakaian sang idola tersebut.

Kedua, ketika seseorang mencintai sang idola melebihi cintanya kepada Allah. Sampai-sampai rela melakukan apa pun untuk hanya sekedar bertemu sang idola. Bahkan sampai mengorbankan nyawa untuk bertemu sang idola. Lihat kasus konser SO7 atau Ungu. Bila tingkat kecintaan seseorang kepada sang idola melebihi cintanya kepada Allah, sampai-sampai bersedia melakukan apa pun agar bisa diperhatikan sang idola, maka jatuhlah ia kepada syirik yang dimurkai Allah.

Nah, sekarang, bolehkan kita mengidolakan seseorang? Jawabannya tentu saja boleh, dengan beberapa syarat.

Pertama, Kita menjadikan seseorang sebagai idola tidak melebihi pengidolaan kita kepada Rasulullah SAW. Rasulullah adalah sebaik-baik idola. Apa pun yang dilakukan oleh Rasulullah, selalu berdampak baik untuk kita. Lebih dari itu, mengikuti setiap gerak-gerik Rasulullah akan mendatangkan pahala bagi kita. Bagaimana kalau kita tidak terlalu mengenal Rasulullah? Ya tentu harus kenalan dulu, pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Caranya? Bisa melalui sejarah hidup beliau. Melalui film Ar-Risalah, yang mengupas perjuangan beliau. Melalui ucapan-ucapannya yang selalu bermakna dan bermanfaat untuk kita.

Kedua, bila kita mengidolakan seseorang, lihatlah berapa banyak kebaikan yang dihasilkan oleh orang tersebut untuk lingkungan sekitarnya. Kadang kita terjebak dalam kehebatan seseorang dalam berakting. Atau mengagumi suaranya ketika bernyanyi. Padahal kita tidak tahu bagaimana kesehariannya. Bagaimana akhlaknya kepada sesama manusia, atau mahluk Allah lainnya. Bila memang akhlaknya baik, atau banyak memberikan manfaat kepada orang banyak atau lingkungan sekitarnya, mungkin ia memang pantas dijadikan idola.

Ketiga, meskipun kita mengidolakan seseorang, kita harus tetap mengingat, bahwa ia juga manusia. Tentu banyak sekali kekurangan-kekurangan yang dimilikinya, yang tidak tampak oleh kita. Media massa bisa membesarkan seseorang dengan menonjolkan sisi-sisi baiknya saja. Padahal mungkin banyak kekurangan yang tersembunyi, yang kita tidak mengetahuinya. Tidak jarang sang idola memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan tradisi Islam. Misalnya, terbiasa bergaul bebas, senang minum-minuman keras, atau memiliki hobi berpesta pora. Kebiasaan yang sama sekali tidak patut untuk ditiru.

Keempat, menyadari bahwa bakat yang dimiliki sang idola, kecantikan atau ketampanannya merupakan anugerah dari Allah SWT. Dialah yang menciptakan manusia, dan memberikannya segala kelebihan tersebut sebagai ujian keimanan. Baik untuk diri sang idola sendiri, maupun orang-orang yang mengidolakannya.

Mudah-mudahan dengan tulisan ini kita bisa memandang sang idola kita dengan lebih proporsional. Bisa membersihkan aqidah kita, sehingga tidak lagi mengagungkan seseorang melebihi pengagungan kita kepada Allah dan RasulNya.

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapatkan pahala yang tidak ada putus-putusnya." (QS. At-Tiin : 4-6).

http://hifizahn.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Hifizah Nur sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fay Ahmed | Blogger
Senang sekali baca-baca di KotaSantri.com. Nambah pengalaman religius.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0481 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels