Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://indrawidjaja.kotasantri.com
Bergabung
26 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Jakarta - DKI Jakarta
Pekerjaan
Konsultant
simply person with simply motivation where find the Truth is as my way of live
http://indra.web.id
saya@indra.web.id
steven widjaja
http://facebook.com/steven indra widjaja
http://friendster.com/steven widjaja
Tulisan Indra Lainnya
Pelangi
Pelangi » Jurnal

Ahad, 15 Maret 2009 pukul 15:27 WIB

Maulid yang Mubadzir

Penulis : Indra Widjaja

Di setiap propinsi, di setiap kota, di setiap kabupaten, di setiap kecamatan, di setiap RT dan RW, sedang diadakan Maulid Nabi. Seperti orang muslim yang lain, saya juga sayang sama Nabi SAW dan Insya Allah rasa kasih sayang saya kepada Nabi SAW tidak kalah dengan yang lain, sehingga saya juga senang kalau kita ingat pada Nabi SAW dengan suatu cara.

Tetapi saya mulai berfikir. Bayangkan kalau Nabi SAW ada di sini bersama dengan kita pada saat ini. Bayangkan kalau dia bisa melihat kita memuliakan dia dengan mengadakan Maulid Nabi di setiap masjid dan mushala, bahkan sampai masuk ke rumah orang.

Pada suatu sisi, Insya Allah dia akan senang sekali bahwa ada sebagian dari ummatnya yang begitu sayang kepadanya walaupun tidak pernah melihat wajahnya ataupun mendengarkan suaranya.

Pada sisi lain, bagiamana kalau dia membaca koran dan tahu bahwa pada saat kita memuliakan dia dengan Maulid di mana-mana, ada sebagian lain dari ummatnya, yang juga sayang kepadanya, yang tidak bisa ikut merayakan Maulid. Alasannya adalah karena mereka terlalu sakit atau lemas untuk ke luar dari rumah. Kenapa? Karena mereka tidak bisa makan setiap hari, dan hidup dalam keadaan lemas, rawan penyakit, dan tidak kuat untuk bertahan hidup di dunia ini.

Mereka juga Muslim. Mereka juga saudara kita dan saudara Nabi Muhammad SAW. Mereka juga hamba Allah, dan Insya Allah mereka juga sayang Nabi SAW seperti kita. Sayangnya, kita lebih mempedulikan “pesta-pesta” kita daripada mempedulikan mereka.

Kita sangat sayang pada rasa nikmat yang kita dapatkan ketika kita menghabiskan jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah untuk mengadakan sebuh “pesta ulang tahun” untuk Nabi kita. Tetapi kita sangat tidak peduli pada “rasa nikmat” yang akan kita dapatkan pada saat kita menghabiskan jutaan, puluhan juta, bahkan ratusan juta rupiah untuk memberikan makanan kepada anak yatim dan fakir miskin.

Kalau seandainya Rasulullah SAW ada di sini bersama dengan kita, apakah dia akan merasa bahagia pada saat dia melihat “pesta” yang kita buat untuk dirinya? Atau apakah dia akan menangis ketika dia ke luar dari masjid dan melihat anak yatim yang tidak berdosa yang sudah mati kelaparan di tengah-tengah masyarakat kita. Apalagi kalau anak yatim atau anak miskin itu bunuh diri karena tidak tahan terhadap rasa lapar yang telah mengganggu diriya setiap hari selama bertahun-tahun.

Mana yang lebih utama? Pesta ulang tahun untuk Nabi SAW di setiap masjid di seluruh Indonesia? Atau kumpulkan uang “Maulid” dan menggunakannya untuk santuni anak yatim dan fakir miskin ATAS NAMA NABI?

Sampai saat ini, saya belum lihat dan belum pernah hadiri sebuah acara Maulid Nabi yang sekaligus memberikan LEBIH BANYAK UANG kepada anak yatim di saat yang sama. Maksud saya, bila anggaran untuk Maulid adalah 50 juta, kenapa tidak memberikan lebih dari 50 juta kepada anak yatim pada saat yang sama?

Pengeluaran untuk Maulid bisa cukup besar, karena ada macam-macam tambahan biaya, seperti undangan, spanduk, tenda, sound system sewaan, konsumsi, konsumsi untuk panita saat rapat, dan tentu saja bayaran untuk pembicara yang bisa mencapai puluhan juta rupiah bila sekaligus mengundang beberapa “ustadz terkenal”.

Apakah Nabi SAW akan senyum atau menangis ketika dia menyaksikan kita dan “pesta ulang tahun” yang kita buat untuk dirinya?

Saya bukan orang anti-Maulid. Saya bukan orang “garis keras” yang menolak maulid. Saya sebatas merasa sedih karena di dalam satu negara, kita bisa menghabiskan banyak sekali uang (ratusan milyar di seluruh nusantara?) untuk merayakan hari kelahiran Nabi SAW, sedangkan ada manfaat yang lebih utama dari uang itu. Bukannya dengan menyantuni anak yatim, kita juga “ingat kepada Nabi SAW”? Bukannya dengan memberikan makanan kepada orang miskin, kita juga “ingat kepada Nabi SAW”? Kenapa kita utamakan suatu bentuk perayaan dengan niat “ingat kepada Nabi SAW” pada saat banyak sekali orang (yang juga sayangi Nabi SAW) menderita dan tidak bisa makan? Bukannya mereka lebih utama dari “pesta” kita?

Kalau suatu saat negara ini makmur, dan tidak ada lagi anak yatim yang mati kelaparan, bunuh diri karena sering kelaparan sehingga putus asa, putus sekolah dan terpaksa kerja, kena penyakit terus-terusan karena tidak ada biaya pengobatan, maka saya siap menghadiri acara Maulid dengan senang hati dan rasa tenang, karena saya akan merasa puas bahwa usaha kita untuk menyantuni anak yatim ATAS NAMA NABI telah berhasil.

Menurut saya, alangkah baiknya bila kita sebagi ummat Muhammad SAW belajar untuk utamakan yang utama. Kita bisa kumpulkan uang “Maulid”, lalu kita kirim kepada anak yatim dan orang miskin yang membutuhkannya, ATAS NAMA NABI. Dan dalam setiap kecamatan atau kabupaten, hanya 1 masjid besar yang perlu mengadakan acara Maulid (atas kesepakatan semua). Bila masjid lain ingin mengadakan, boleh, tetapi dengan sesederhana mungkin, tanpa mengeluarkan biaya sama sekali. Cukup kita datang dan mendengarkan kisah-kisah tentang Nabi SAW dan baca shalawat baginya. Habis itu, kita bisa pulang tanpa harus diberikan apa-apa oleh pihak masjid.

Kasihan anak yatim yang lapar, ketika mereka menyaksikan ribuan orang berkumpul di masjid dan habiskan puluhan sampai ratusan juta rupiah untuk memuliakan satu anak yatim yang sudah wafat 1.400 tahun yang lalu. Anak yatim itu bernama Muhammad SAW dan dia sendiri menyuruh kita melindungi anak yatim di sekitar dia. Dia tidak hanya menyuruh, dia mencontohkan sendiri.

Kenapa kita mau ingat kepada satu anak yatim bernama Muhammad SAW, tetapi lupa untuk mengamalkan salah satu teladan yang beliau SAW contohkan untuk melindungi anak yatim yang lain?

http://indra.web.id

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Indra Widjaja sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Mumtahah Annisa | Ibu Rumah Tangga
Di sini tempatnya kalau ingin berdiskusi sama teman-teman yang asyik banget.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0506 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels