Pelangi » Jurnal | Sabtu, 7 Maret 2009 pukul 18:22 WIB

Laki-laki Lebih Cepat Meninggal Dunia?

Penulis : Ida Ernawati

Demikianlah yang diutarakan dosen saya di kuliah Demography Environment, sungguh sesuatu yang menghentakkan daya imajinasi teman-teman satu kelas. Banyak yang kemudian berpikir, apa yang harus dilakukannya dengan sisa hidupnya? Perbincangan kami sangat hangat dan serius. Berawal dari pertanyaan bu Annie, dosen kami.

"Siapa di antara kalian yang kakek dan neneknya sudah meninggal?" Beberapa dari kami mengacungkan jari.

"Siapa yang neneknya masih hidup dan kakeknya sudah meninggal?" Banyak yang mengacungkan jari.

"Siapa yang neneknya meninggal dunia, kemudian dalam waktu tidak terlalu lama kakek menyusul?" Beberapa mengacungkan jari.

Dan giliran pertanyaan ini, "Siapa yang kakeknya masih hidup dan nenek sudah meninggal?" Tidak ada satu pun yang mengacungkan jari.

Kemudian bu Annie menjelaskan dengan panjang lebar mengenai hasil penelitan Pusat Studi Kebijakan Kependudukan UGM. Bahwa rata-rata perempuan ketika dia meninggal dunia, tidak lama lagi suaminya akan menyusul meninggal dunia atau menikah lagi. Laki-laki tidak tahan hidup sendiri. Mereka sangat bergantung kepada perempuan. Dan kebanyakan orangtua yang masih hidup adalah makhluk perempuan, lebih banyak "oma-oma" yang hidup daripada "opa-opa" yang masih hidup. Sedangkan laki-laki yang meninggal terlebih dahulu, isterinya tetap hidup sampai jangka waktu yang cukup lama sebelum dia meninggal dunia. Fenomena apa yang terjadi ini? Apakah semangat bertahan hidup lebih kuat dimiliki perempuan dari pada laki-laki?

Hasil penelitian juga menyebutkan bahwa anggapan "perempuan lebih banyak dari laki-laki" tidak selamanya benar. Bukti penelitian dengan angka yang menunjukkan pendapat itu, untuk Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 1971 sampai dengan tahun 2000 berturut-turut adalah bahwa setiap jumlah 100 orang laki-laki, maka jumlah perempuan yang ada disaat itu pada tahun 1971 sebanyak 94,28 orang, tahun 1980 sebanyak 96,25 orang, tahun 1990 sebanyak 96,71 orang, tahun 1995 sebanyak 96,34 orang, dan tahun 2000 adalah sebanyak 98,3 orang. Masih banyak laki-laki daripada perempuan. (Pusat Studi Kebijakan Kependudukan UGM).

Sungguh sesuatu yang tidak kita bayangkan sebelumnya, bahwa kebanyakan perempuan yang dianggap lemah, tidak berdaya, dan bergantung pada laki-laki, ternyata mempunyai daya juang hidup lebih tinggi dibanding laki laki. Mau bukti? Coba lihat orang-orang tua yang masih hidup sampai sekarang, ketika suaminya sudah pensiun atau berhenti dari pekerjaannya karena alasan usia, justru pada saat itulah para perempuan mulai bergerak, kebanyakan yang mencari nafkah tambahan adalah para isteri. Sehingga hasil penelitian itu memperlihatkan bahwa karena masih banyak perempuan yang bertahan hidup dan laki-laki yang cepat meninggal, tren kenaikan jumlah perempuan dibanding laki-laki secara keseluruhan menjadi lebih banyak perempuan, tetapi selisih jumlah itu hanya pada jumlah perempuan yang sudah lansia.

Estimasi pertumbuhan penduduk secara nasional berdasarkan struktur umur (age structure) juga menunjukkan bahwa untuk anak-anak, jumlah perempuan 34.749.582 anak dan laki-laki 35.995.919 anak, untuk usia 15 tahun sampai dengan 64 tahun masing-masing 80.796.794 orang laki-laki dan 80.754.238 orang perempuan. Ternyata masih banyak laki-laki. Sedangkan untuk lansia masing-masing 7.418.733 orang perempuan dan 5.737.473 orang laki-laki. Bayangkan, jumlah penduduk Indonesia pada usia lansia untuk jenis makhluk perempuan dibandingkan laki-laki adalah lebih banyak 1,7 jutaan orang. (Pusat Studi Kebijakan Kependudukan UGM).

Dengan penelitian-penelitian yang saya analisis di atas, mari kita renungkan apakah pandangan kita selama ini salah tanpa terlepas bahwa semua yang terjadi di dunia ini adalah takdir Allah semata.

Wallahu a'lam.

KotaSantri.com 2002-2023