Ali Bin Abi Thalib : "Hati orang bodoh terdapat pada lidahnya, sedangkan lidah orang berakal terdapat pada hatinya."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Etika Berkendara
14 Desember 2013 pukul 22:00 WIB
Kesaksian Tujuh Batu
5 November 2013 pukul 20:00 WIB
JIL : Konotasi Konsepsi Kaum Islamophobia
2 November 2013 pukul 22:22 WIB
Menulis : Terapi Penyembuhan dan Penyelaman Diri
1 November 2013 pukul 23:00 WIB
Kematian Seorang Ahli Ibadah yang Baru Taubat
24 September 2013 pukul 22:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 17 Desember 2013 pukul 21:00 WIB

Dua Orang Penyembah Api

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

“Di masa Malik bin Dinar, hidup dua orang majusi, penyembah api. Yang satu berusia 73 tahun dan yang satunya lagi 35 tahun.

“Hai, kemari!” panggil yang tua kepada yang muda. Lalu dia berkata lagi, “Apakah api ini akan menolong kita atau membakar kita sebagaimana dia membakar orang yang tidak menyembahnya. Jika tidak membakar kita, ayo kita teruskan menyembahnya. Tetapi jika membakar kita, maka buat apa kita menyembahnya?”

“Betul juga,” jawab yang muda.

Lalu merekapun menyalakan api.

“Aku ataukah kamu yang menaruhkan tangan?” tanya yang muda.

“Kamu saja,” jawab yang tua.

Kemudian ditaruhnya salah satu tangannya di atas api tersebut. Jarinya terbakar dan sontak dia menjerit.

“Au,” cepat-cepat ditariknya jari tangannya.

“Sudah tiga puluh lima tahun aku menyembahmu, masih juga kau menyakitiku,” gerutunya. “Ayo kita cari saja Tuhan yang Maha Esa, yang jika kita berdosa dan meninggalkan perintahnya selama 500 tahun, misalnya, Dia mau mengampuni dan memaafkan hanya dengan taat satu jam dan hanya dengan satu kali mintaa maaf,” ajak yang muda.

“Baiklah! Kita cari orang yang bisa membimbing kita ke jalan yang lurus, yang mengajarkan kepada kita agama yang menyelamatkan.”

Lalu merekapun sepakat untuk menemui Malik bin Dinar di Basrah. Sesampainya di Basrah, mereka berdua menemukan Malik tengah berdakwah di depan masyarakat. Tiba-tiba yang tua berkata, “Aku tidak jadi masuk Islam. Aku sudah kelewat tua. Umurku habis untuk menyembah api. Sekiranya aku masuk Islam, tentulah keluarga dan tetanggaku akan mencaciku. Neraka lebih aku suka daripada caci maki mereka.”

“Jangan lakukan itu!” cegah yang muda, “Cacian bisa berhenti, tapi nereka itu abadi,” nasehat yang muda.

Yang tua tetap saja tidak mempedulikan nasehat tersebut, “Kamu adalah kamu. Biarkan aku memilih pilihanku. Celakahlah kau, hai gelandang dunia dan akhirat,” makinya. Lalu iapun pulang dan tidak jadi masuk Islam.

Sedangkan yang muda malah mengajak anak dan isterinya mengikuti pengajian tersebut hingga Malik selesai mengajar. Kemudian dia berdiri dan menceritakan masalahnya dan niatnya memeluk agama Islam bersama keluarganya. Lalu merekapun masuk Islam. Dan Orang-orang yang mendengar kisah dan keinginannya masuk Islam menjadi suka cita.

Ketika ia dan keluarganya ingin pulang, Malik bin Dinar menahannya, “Tunggu sebentar. Jangan dulu pulang. Duduk dulu di sini hingga kawan-kawanku mengempulkan sedikit hartanya untuk kalian.”

“Tidak. Aku tidak ingin menjual agamaku dengan dunia,” tolaknya.

Kemudian ia pamit dan tetap melanjutkan keinginannya untuk pulang. Iapun menelusuri jalan-jalan setapak demi setapak hingga di ujungnya terdapat rumah tua. Di sanalah ia dan keluarganya tinggal.

Keesokan harinya, isterinya berkata, “Pergilah ke pasar. Carilah pekerjaan. Belilah makanan secukupnya untuk makan kita hari ini.”

Sesampainya di pasar, tak seorangpun mau memberinya pekerjaan yang menghasilkan.

“Lebih baik aku berkerja untuk Allah saja,” katanya kepada dirinya sendiri.

Ia memasuki masjid yang sepi dari manusia. Ia shalat hingga malam tiba. Lalu pulang dengan tangan hampa.

“Apakah abang tidak mendapatkan sesuatu?” tanya isterinya.

“Hari ini aku bekerja untuk Raja. Hari ini Dia belum memberinya. Semoga saja besok diberi.”

Merekapun melewati malam dengan rasa lapar.

Keesokan harinya ia kembali ke pasar. Masih juga tak mendapatkan pekerjaan. Ia pergi ke masjid lagi. Shalat sampai malam. Lalu pulang dengan tangan hampa.

“Masihkah abang belum mendapatkan sesuatu?” tanya isterinya kembali.

“Aku masih bekerja untuk Raja yang kemarin. Besok hari Jum'at. Aku berharap Dia akan memberiku.”

Mereka kembali melewati malam dengan menahan lapar.

Esoknya, yaitu hari Jum'at, kembali ia pergi ke pasar. Tapi tak juga dapat pekerjaan. Ia pergi ke masjid. Shalat dua rakaat. Dengan mengangkat tangan ia mengadu, “Ya Tuhanku yang memiliki diriku! Telah Kau muliakan diriku dan keluargaku dengan Islam. Telah Kau berikan kepadaku keagungan Islam. Telah Kau berikan aku petunjuk dengan petunjuk terbaik. Atas nama kemuliaan agama yang telah Kau berikan kepadaku dan dengan kemuliaan hari Jum'at yang penuh berkah. Hari yang telah Kau tetapkan sebagai hari agung, aku mohon tenangkanlah hatiku karena sulitnya mencari nafkah untuk keluargaku. Berikanlah aku rezeki yang tak terhingga. Demi Allah! Aku malu kepada keluargaku. Aku takut mereka berubah pikiran tentang Islam.”

Kemudian ia berdiri dan menyibukkan dirinya kembali dengan shalat.

Ketika tengah hari, saat laki-laki itu shalat Jum'at, saat anak dan isterinya kelaparan, seseorang mengetuk pintu rumah mereka. Ketika dibuka oleh isterinya, seorang laki-laki sedang memegang nampan emas yang ditutupi dengan sapu tangan yang bersulam emas.

“Ambillah nampan ini. Katakan kepada suamimu. Ini upah kerjanya selama dua hari. Akan aku tambah bila ia rajin bekerja. Apalagi pada hari Jum'at seperti ini. Amal yang sedikit pada hari ini di sisi Raja yang Mahaperkasa nilainya besar sekali.”

Nampan itupun diterimanya. Tak disangka, ternyata isinya 1000 dinar (uang emas). Ia pungut satu dinar untuk ditukarkan di tempat penukaran uang (money changer). Pemiliknya seorang Nasrani. Ia menimbang dinar tersebut. Ternyata beratnya dua kali lipat dari dinar biasa. Setelah diteliti ukirannya, barulah tahu bahwa itu ukiran akhirat.

“Dari mana kau dapatkan ini?” tanya pemilik money changer tersebut.

Wanita itupun menceritakan apa yang terjadi. Pemilik money changer tersebut langsung masuk Islam begitu mendengar ceritanya. Ia memberi wanita itu 100 dirham. “Pakai saja. Kalau habis, bilang saja padaku, aku akan memberimu lagi.”

Sang suami yang masih tetap di masjid melakukan shalat lalu pulang dengan tangan hampa. Diam-diam ia buka sapu tangannya dan mengisinya dengan pasir. “Jika nanti ditanya isteriku, akan kujawab ini tepung,” gumamnya.

Ketika memasuki rumah, ia mencium bau makanan. Ia letakkan bungkusan pasirnya di samping pintu agar isterinya tidak tahu. Kemudian menanyakan apa yang terjadi di rumahnya.

Sang isteri menceritakan seluruhnya. Laki-laki itupun langsung sujud syukur kepada Allah.

“Apa yang abang bawa itu?” tanya isterinya.

“Lupakan saja bawaanku.”

Isterinya yang penasaran beranjak untuk mengambil bungkusan yang dibawa suaminya dan membukanya. Atas izin Allah, pasir yang ditaruhnya di sapu tangan berubah menjadi tepung. Untuk kedua kalinya laki-laki itu sujud syukur.

Iapun terus meningkatkan ibadahnya dari hari ke hari hingga akhir hayatnya.”

***

Apa yang layak dipetik dari kisah di atas? Ada tiga hal, menurut saya. Pertama, Allah hanya memberi hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. (QS. Al-Qashash [28] : 56). Meski sudah hampir mendapatnya, namun bila Allah belum izin, maka tak seorangpun akan mendapatkan hidayah-Nya. Kedua, Yakin kepada Allah. Ketiga, kemuliaan hari Jum'at. Disebutkan bahwa hari Jum'at adalah hari yang berkah. Karena itu, kita juga tak boleh menyia-nyiakan hari Jum'at.

Sumber : Syeikh Muhammad bin Abu Bakar dalam Kitab al-Mawaa’idz Al-‘Ushfuuriyyah.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Saeful Arif | Dagang
Saya senang membaca di KotaSantri.com.
KotaSantri.com © 2002 - 2017
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0752 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels