Pelangi » Cermin | Selasa, 10 Desember 2013 pukul 21:00 WIB

Pengrajin Emas dan Pengrajin Kuningan

Penulis : Muhammad Nahar

Pada zaman dahulu kala, hiduplah dua orang sahabat yang berprofesi sebagai pembuat barang-barang kerajinan dari kuningan dan emas. Mereka berdua biasa menjual barang-barang hasil kerajinan mereka pada Hari Pasar, yang berlangsung pada saat-saat tertentu di negeri mereka. Bahkan, acara Hari Pasar kali ini adalah acara yang sangat istimewa, karena para tamu agung dari negeri tetangga juga akan datang berkunjung dan membeli barang-barang.

Pada suatu hari, saat semua orang sedang sibuk mempersiapkan barang-barang yang akan dijual pada Hari Pasar, pengrajin kuningan bertemu dengan pengrajin emas. Dia melihat barang-barang hasil karya si pengrajin emas begitu kasar dan tidak rapih. Ukirannya kasar dan warnanya kusam. Pengrajin kuningan bertanya kepada pengrajin emas, “Mengapa engkau tidak membuatnya dengan lebih teliti dan lebih baik agar bentuknya lebih indah dan menawan hati?”

Pengrajin emas menjawab dengan membanggakan diri, “Aku tidak khawatir daganganku tidak laku, walaupun kusam dan kurang bagus pembuatannya, semua orang tahu bahwa barang-barang ini terbuat dari emas. Nilai emas lebih tinggi daripada kuningan.”

Hari Pasar yang ditunggupun akhirnya tiba. Semua orang mengerumuni barang dagangan sang pengrajin kuningan. Mereka terpesona oleh indahnya barang-barang sang pengrajin kuningan, ukirannya yang halus, warnanya yang cemerlang, dan keunggulan-keunggulan lainnya. Tidak ada orang yang melirik dagangan sang pengrajin emas, sebab baru melihat selintas saja para calon pembeli itu sudah kehilangan minat. Warna yang kusam dan ukiran yang kasar menyebabkan barang barang sang pengrajin emas tidak laku walaupun bagang-barang itu terbuat dari emas yang berkualitas tinggi.

Inti dari cerita di atas adalah seringkali orang berpikir bahwa keadaan yang sudah nyaman dan enak sudah tidak lagi memerlukan perubahan dan perjuangan. Padahal hidup itu sendiri adalah perjuangan dan perubahan. Semua makhluk yang hidup harus berjuang dan berubah seiring waktu.

Narasumber : Mbak Niek – Institut Kemandirian

KotaSantri.com 2002-2019