QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://dayat_nst.kotasantri.com
Bergabung
8 Maret 2009 pukul 21:55 WIB
Domisili
Deli Serdang - Sumatera Utara
Pekerjaan
Guru
Aku adalah orang yang sedang belajar membaca dan menulis, bekerja sebagai Staf Pengajar di Islamic International School Darul Ilmi Murni (IIS DIM) Medan dan MTs Muallimin UNIVA Medan.
Tulisan Rahmat Lainnya
Kepal Tangan, Potensi, dan Menembus Batas
28 April 2012 pukul 13:15 WIB
Jangan Sepelekan Surat Al-Fatihah
11 April 2012 pukul 15:00 WIB
Ibrahim bin Adham dan Bekas Budaknya
27 Maret 2012 pukul 17:00 WIB
Dua Cara Allah Mengabulkan Do'a
21 Maret 2012 pukul 12:00 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 22 Mei 2012 pukul 20:00 WIB

Tangisan Gadis Kecil dan Hasan Al-Bashri

Penulis : Rahmat Hidayat Nasution

Alkisah, saat tengah hari Hasan al-Bashri duduk diteras rumahnya, lewat jenazah dengan iring-iringan orang di belakangnya. Di bawah kerenda jenazah tersebut, berjalan seorang gadis kecil dengan rambut kusut. Ia menangis. Perilaku anak tersebut menarik perhatian Hasan al-Bashri. Ia pun berdiri dan mengikuti gadis kecil tersebut bersama iring-iringan pengantar jenazah.

Ia mendengar gadis kecil tersebut berkata, “Baru kali ini aku mengalami seperti ini, Ayah.”

Pernyataan gadis kecil tersebut membuat Hasan al-Bashri tertarik untuk menyahutinya, “Ayahmu juga tidak pernah mengalami seperti ini sebelumnya.”

Setelah dilakukan shalat janazah dan penguburannya, semua pengiring jenazah pun pulang. Termasuk anak kecil tersebut.

Esoknya, usai shalat subuh dan matahari pun telah terbit, seperti biasanya Hasan al-Bashri duduk di teras rumahnya. Tiba-tiba pandangannya menangkap gadis kecil kemarin yang sedang nangis. Ia berjalan menujuk kuburan ayahnya.

“Gadis kecil yang bijak,” gumamnya dalam hati. “Aku akan mengikutinya. Semoga kata-katanya berguna bagiku.”

Ketika gadis itu sampai di pemakaman ayahnya, Hasan Bashri bersembunyi agar tidak diketauhi kehadirannya. Ia lihat gadis kecil tersebut jongkok dan menempelkan pipinya ke tanah.

“Ayah,” kata gadis kecil itu. “Bagaimana rasanya tinggal sendirian di dalam kubur yang gelap tanpa cahaya dan lampu? Ayah, kemarin malam masih kunyalakan lampu untuk Ayah, tadi malam siapa yang menyalakannya, Yah? Kemarin, aku masih membentangkan tikar, sekarang siapa yang melakukannya, Yah? Kemarin malam aku masih memijit tangan dan kaki Ayah, siapa yang memijit Ayah tadi malam? Kemarin aku masih memberi Ayah minum, sekarang siapa yang melakukannya, Yah? Kemarin malam aku yang membaringkan badan Ayah dari satu sisi ke sisi lain agar lebih enak, siapa tadi malam yang melakukannya, Yah?

Kemarin malam, kuselimuti Ayah. Lalu tadi malam siapa yang menyelimuti Ayah? Kemarin malam kuperhatikan wajah Ayah, siapa yang memperhatikan Ayah tadi malam? Kemarin malam Ayah memanggilku dan aku segera menjawab panggilan Ayah. Tadi malam kalau Ayah memanggil siapa yang jawab, Yah? Kemarin malam kalau makan Ayah kusiapi, tadi malam siapa yang menyuapin Ayah? Kemarin malam kumasakkan makanan kesukaan Ayah, tadi malam siapa yang memasakkan makanan untuk Ayah?

Hasan Al-Bashri tak tahan, ia lalu menangis. Ia segera menunjukkan diri. “Hai gadis kecil, jangan berkata seperti itu. Tapi katakanlah:

Kami hadapkan Ayah ke arah kiblat, apakah Ayah masih begitu ataukah sudah berubah arah sekarang? Kami kafani ayah dengan dengan kain kafan terbaik, apakah masih utuh atau sudah terkoyak-koyak, Yah? Kami letakkan Ayah dalam keadaan badan yang utuh, lalu apakah masih demikian atau cacing tanah telah menyantap Ayah?

Ulama bilang, setiap orang yang mati pasti ditanya tentang imannya. Ada yang menjawab dan ada yang tidak. Bagaimana dengan Ayah? Apakah Ayah bisa mempertanggungjawabkan keimanan Ayah atau tidak?

Ulama bilang, mereka yang mati kain kafannya diganti dengan yang dari surga atau kain kafan dari neraka. Ayah dapat kain kafan yang mana?

Ulama bilang, kubur sebagai taman surga atau jurang menuju neraka. Ulama juga bilang, kubur kadang membelai orang mati seperti kasih sayang seorang ibu, atau terkadang menghimpitnya sehingga tulang belulang berantakan. Apakah Ayah dibelai atau dimarahi, Yah?

Ayah, ulama bilang, orang yang dikebumikan menyesal mengapa tidak memperbanyak amal baik. Orang yang ingkar menyesal dengan tumpukan maksiatnya. Apakah Ayah menyesal karena perbuatan zhalim yang pernah Ayah lakukan atau karena amal baik Ayah yang sedikit?

Dulu jika aku memanggil Ayah selalu menyahut. Sekarang aku memanggil Ayah di atas gundukan tanah ini, apakah Ayah bisa mendengar panggilanku?

Ayah kini telah tiada. Aku tak bisa menemui Ayah lagi hingga kiamat nanti. Ya Allah jangan Kau halangi pertemuanku dengan Ayahku di akhirat nanti.”

Gadis kecil itu pun berkata, “Paman, betapa baik ratapan paman terhadap Ayahku. Betapa bermanfaatnya bimbingan yang paman ajarkan. Paman ingatkan aku dari ratapan yang tidak bermanfaat menuju ratapan yang bermanfaat.”

Lalu Hasan al-Bashri dan gadis kecil pun pulang dengan air mata yang masih menetes membasahi pipi mereka.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmat Hidayat Nasution sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lia Juliana | Staf Purchasing
My fav situs nih.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0673 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels