HR. At-Tirmidzi : "Pena (takdir) telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering, apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan."
Alamat Akun
http://nurvhie.kotasantri.com
Bergabung
9 Februari 2011 pukul 10:49 WIB
Domisili
Cengkareng - Jakarta
Pekerjaan
Harvest
http://nurvhie.wordpress.com/
fitri_senja@yahoo.com
Tulisan Nurfitri Lainnya
Inni Uhibbuki Fillah
8 September 2011 pukul 11:00 WIB
Untuk Para Mujahid
2 September 2011 pukul 16:30 WIB
Apa Artinya Cinta?
15 Agustus 2011 pukul 13:30 WIB
Cukuplah Allah
11 Agustus 2011 pukul 11:30 WIB
Anak adalah Cermin
2 Agustus 2011 pukul 14:14 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 20 September 2011 pukul 14:30 WIB

Tanda Kasih dalam Sebutir Padi

Penulis : Nurfitri Rahmawati

Alkisah, ada dua bersaudara yang sama-sama bekerja di ladang milik keluarga mereka. Yang seorang telah menikah dan memiliki sebuah keluarga besar. Sedangkan yang seorang lagi, masih melajang. Suatu hari, ketika panen telah tiba, kedua bersaudara itu membagi sama rata hasil yang mereka peroleh.

Setelah masing-masing menerima bagiannya, yang sama besar, keduanya berpikir.

Yang masih lajang itu berpikir, "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku masih lajang dan kebutuhanku hanya sedikit." Karena itu, setiap malam ia mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di lumbung milik saudaranya.

Sementara itu, saudara yang telah menikah itu juga berpikir, "Tidak adil jika kami membagi rata semua hasil yang kami peroleh. Aku
punya istri dan anak-anak yang akan merawatku di masa tua nanti,
sedangkan saudaraku tidak memiliki pendamping ataupun anak-anak yang akan menemani masa tuanya." Karena itu, setiap malam ia
pun mengambil sekarung padi dari lumbung miliknya dan menaruhnya di
lumbung milik saudara satu-satunya itu.

Selama bertahun-tahun kedua bersaudara itu saling menyimpan rahasia. Dan tanpa sepengetahuan mereka, sesungguhnya padi dalam lumbung mereka tidak pernah berkurang. Hingga suatu malam keduanya bertemu, dan barulah saat itu mereka tahu apa yang telah terjadi. Mereka pun berpelukan.

Jangan biarkan persaudaraan rusak karena harta, justru pereratlah
persaudaraan tanpa memusingkan harta. Kedua orang saudara tadi belajar memahami kebutuhan satu sama lain. Yang masih lajang dapat melihat, tentulah lebih banyak kebutuhan saudaranya yang sudah berkeluarga daripada kebutuhannya sendiri. Sementara yang sudah berkeluarga mampu memahami saudaranya yang masih lajang itu tidak memiliki siapa-siapa, dia lebih membutuhkan kekayaan daripada dirinya.

Kemampuan untuk memahami itu bisa menjadi kenyataan dalam perbuatan kalau mereka tidak lagi menjadikan kekayaan sebagai satu-satunya sumber kehidupan. Mereka lebih menomorsatukan bagaimana orang lain bisa hidup layak di dunia ini.

http://nurvhie.wordpress.com/

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfitri Rahmawati sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Moh. Iwan Ihyak Ulumuddin | Pelajar
Ingin sekali gabung, sharing ilmu, and so on.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0616 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels