Pelangi » Cermin | Selasa, 31 Agustus 2010 pukul 20:55 WIB

Yusuf dan Saudara-saudaranya

Penulis : Junaedogawa

Di masa paceklik, kesepuluh saudara Yusuf pergi jauh ke Mesir. Dengan wajah berselubung cadar, Yusuf menerima mereka, dan mereka membeberkan kesusahan mereka serta minta pertolongan menghadapi bahaya paceklik yang menakutkan.

Di muka Yusuf ada sebuah piala. Diketuknya piala itu dengan tangannya, dan benda itu memperdengarkan suara yang penuh kepedihan. Saudara-saudaranya itu pun terkejut; mereka tak dapat menahan bicara, maka kata mereka padanya, “O Aziz. Adakah tuanku, atau adakah seseorang tahu akan arti suara itu?”

“Aku tahu betul,” kata Yusuf.

“Tetapi kalian tidak akan tahan mendengar penuturannya; sebab piala ini mengatakan bahwa kalian mempunyai seorang saudara laki-laki yang istimewa karena kebagusan rupanya dan namanya Yusuf.”

Kemudian Yusuf mengetuk piala itu untuk yang kedua kali, lalu katanya, “Piala ini mengatakan padaku bahwa kalian melemparkan saudara kalian itu ke dalam sumur dan bahwa kalian membunuh serigala yang tak berdosa dan melimuri baju Yusuf dengan darah binatang itu.”

Yusuf mengetuk piala itu buat yang ketiga kali, dan sekali lagi piala itu memperdengarkan suara yang penuh kesedihan. Yusuf menambahkan, “Piala ini mengatakan bahwa saudara-saudara Yusuf membuat ayah mereka tercebur ke lubuk kesedihan dan bahwa mereka itu menjual Yusuf. Nah, apakah yang telah diperbuat oleh orang-orang yang tak beriman ini terhadap saudara mereka? Setidak-tidaknya, takutlah hendaknya pada Tuhan, wahai kalian yang berdiri di hadapanku.”

Ini membuat mereka berada dalam keadaan sedemikian rupa, sehingga mereka berkeringat karena takut – mereka yang datang hendak meminta roti itu. Waktu menjual Yusuf, sebenarnya mereka telah menjual diri mereka sendiri; ketika mereka memasukkan dia ke dalam sumur, sebenarnya mereka sendiri terlontar ke dalam sumur penderitaan.

Barangsiapa membaca kisah ini tanpa mendapat manfaat, dia itu buta. Janganlah mendengarkan dengan masa bodoh, sebab ini tak lain dari kisahmu sendiri. Kau terus juga banyak melakukan dosa dan kesalahan, karena kau tak diterangi dengan cahaya kesadaran. Jika seseorang mengetuk piala hidupmu, maka tersingkaplah padamu sendiri perbuatan-perbuatan dosamu. Bila piala hidupmu diketuk dan kau terjaga dari tidur; bila kesalahan-kesalahan dan dosa-dosamu dperlihatkan satu demi satu, aku sangsi apakah kau akan tetap berpegang pada ketenagan atau pikiranmu. Kau seperti semut yang lumpuh dalam sebuah cambung. Betapa sering kau memalingkan kepalamu dari piala langit? Kembangkan sayapmu dan terbanglah membumbung, kau, yang mempunyai pengetahuan tentang kebenaran. Jika tidak, kau akan senantiasa malu bila kau mendengar suara piala itu.

Dari Buku Fariduddin Attar

KotaSantri.com 2002-2019