|
QS. Luqman:17 : "Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). "
|


Selasa, 19 Januari 2010 pukul 13:45 WIB
Penulis : Amelia
Syahdan, ada seorang syaikh yang hidup sederhana dan sebagai nelayan untuk bertahan hidup. Pagi-pagi ia pergi memancing ikan. Setelah mendapatkan ikan banyak, dia membelah ikan-ikannya menjadi dua. Batang tubuh ikan-ikan tersebut ia bagikan kepada para tetangganya, sedangkan kepala ikan-ikan itu ia kumpulkan untuk dimasak sendiri, karena itu ia dipanggil Syaikh Kepala Ikan.
Salah seorang muridnya hendak pergi ke Mursia, daerah Spanyol dan kebetulan Syaikh Kepala Ikan ini mempunyai seorang guru sufi di sana (Syaikh Al-Akbar). “Tolong kau mampir ke rumah guruku di Mursia dan mintakan nasehat untukku,” pesan Syaikh kepada muridnya.
Si murid pun pergi untuk berdagang. Setibanya di Mursia, si murid mencari-cari rumah Syaikh Al-Akbar itu. Dia membayangkan bertemu dengan seorang tua, sederhana, dan miskin, tetapi yang ia dapati seorang sufi besar tinggal di sebuah bangunan yang mewah dan mentereng, penuh dengan pelayan-pelayan dan sajian buah-buahan yang lezat. Dia terheran-heran, ”Guruku hidup dengan begitu sederhana, sedangkan orang ini hidup dengan sangat mewahnya. Bukankah ia gurunya guru saya?” Dia pun masuk dan menyatakan maksud kedatangannya, menyampaikan salam gurunya dan meminta nasehat untuknya. Syaikh Al-Akbar pun berkata, “Bilang sama dia, jangan terlalu memikirkan dunia.” Si murid bertambah heran, dan sedikit marah, ”Syaikh ini hidup sedemikian kaya, dimintai nasehat oleh orang miskin malah menyuruh jangan memikirkan dunia." Akhirnya dia pun pulang.
Saat gurunya mendengar nasehat yang diperoleh melalui muridnya, dia hanya tersenyum dan sedikit sedih. Si murid pun heran dan tidak paham, “Apa maksud nasihat itu?” Syaikh Kepala Ikan pun mejawab, “Syaikh Akbar itu benar. Menjalani hidup tasawuf itu bukan berarti harus hidup miskin. Yang penting hati tidak terikat oleh harta kekayaan yang kita miliki dan tetap terpaut dengan Allah SWT. Bisa jadi orang miskin harta, tapi hatinya tetap memikirkan dunia. Saya sendiri saat makan kepala ikan, masih sering membayangkan bagaimana enaknya makan daging ikan yang sebenarnya."
Kisah di atas menunjukan dua hal, menjadi orang kaya itu tidak mesti jauh dari kehidupan sufi dan menjadi orang miskin tidak otomatis mendekatkan orang pada kehidupan sufistik.
Syaikh Al-Akbar yang disebut di atas adalah Muhyiddin Ibn Arabi, salah satu sufi besar dan cemerlang dalam perkembangan sejarah tasawuf.
Imam Al-Ghazali bertanya, ”Apakah uang membuatmu gelisah? Orang yang hatinya terganggu oleh uang belumlah menjadi sufi." Jadi persoalannya bukan kita tidak boleh mempunyai uang, tapi bagaimanakah caranya kita mempunyai uang cukup, tapi pada saat yang sama hati kita tidak terganggu dengan harta yang kita memiliki.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Amelia sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.


