QS. Muhammad : 7 : "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. "
Alamat Akun
http://ila.kotasantri.com
Bergabung
16 Maret 2009 pukul 18:56 WIB
Domisili
Semarang - Jawa Tengah
Pekerjaan
traveller
http://ilarizky.blogspot.com
http://facebook.com/ila.rizky
Tulisan Ila Lainnya
Embun Pagi
14 Desember 2009 pukul 18:22 WIB
Bilakah Rindu Itu Tlah Sirna
11 Desember 2009 pukul 20:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Selasa, 22 Desember 2009 pukul 20:55 WIB

Mujahidah Sejati

Penulis : Ila Rizky Nidiana

Pada jaman pertumbuhan Islam, Persia merupakan negara adikuasa setelah Romawi. Penaklukan beberapa wilayah Romawi telah dimulai pada akhir kepemimpinan Rasulullah SAW, kemudian diteruskan oleh khalifah pertama, Abu Bakar RA. Persia yang juga menolak seruan Al-Islam, terpaksa ditaklukkan oleh khalifah kedua, Umar Al-Faruq. Beliau juga masih meneruskan penaklukkan terhadap wilayah Romawi. Umar RA meminta pendapat para sahabat, termasuk Ali RA, untuk ke luar memerangi Persia dan Romawi.

Ali berpendapat, "Sesungguhnya masalah ini (peluang) menang dan kalahnya tidak banyak dan juga tidak sedikit. Ia adalah agama Allah yang dimenangkanNya dan tentara yang dipersiapkanNya dan disebarkanNya hingga ke tempat yang telah dicapainya. Posisi penguasa bagaikan posisi benang dalam mata rantai biji tasbih. Jika benang itu putus, maka biji-biji tasbih itu akan berantakan dan hilang. Jadilah poros! Putarlah roda dengan bangsa Arab bersamanya."

Setelah pada tahun 14 Hijriah, umat Islam berhasil menaklukkan Damaskus, Hamsh, Ba'albak, Bashrah, dan Abalah. Tahun berikutnya, berhasil menaklukkan seluruh Yordania. Pada tahun ini pula terjadi peperangan di Yarmuk dan Qasidiyah. Genderang perang telah bertalu, terbukalah kesempatan umat untuk berjihad, memenuhi panggilan menuju medan juang. Itulah jalan suci yang selalu mereka nantikan. Bagi mereka, inilah kesempatan untuk mewujudkan perniagaan mereka dengan Allah. Rabb dan Ilah mereka.

Medan di Qadisiyah telah memerah. Tampak berlaga mujahidin muda bersaudara. Mereka maju melawan semangat dan dukungan sang ibu. Khantsa, mujahidah sejati. Masih terngiang di telinga mereka, tutur pembekalan ibunya sebelum berangkat ke medan laga.

"Anak-anakku, kalian adalah orang-orang yang masuk Islam dengan taat, kalian semua telah ikut berhijrah sebagai salah satu pilihan yang tepat. Wahai anakku, camkanlah bahwa kamu semua putra dari seorang lelaki dan seorang wanita yang tidak pernah mengkhianati suaminya (ayahmu). Pamanmu tidak mencampuradukkan margamu, hai anak-anakku, ibumu adalah seorang wanita yang tidak mencoreng sedikit pun nashab keturunanmu. Kami mengetahui bahwa Allah telah menyediakan bagi orang Islam pahala yang besar dalam memerangi orang kafir.

Ketahuilah bahwa rumah abadi lebih baik dari rumah yang fana. Ingatkanlah akan firman Allah, "Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung." (QS. Ali Imran : 201).

Karena itu, wahai puteraku, bila nanti hari telah memasuki pagi, dengan asma Allah, berangkatlah memerangi musuhmu dengan penuh kesadaran. Mohonlah kepada Allah kemenangan terhadap musuh-musuhmu. Bila kalian berempat telah melihat perang berkecamuk, apinya telah berkobar, majulah ke tengah-tengahnya, bergulatlah mencapai puncaknya, hingga kamu memperoleh kemenangan. Sekali lagi, jangan kau lupakan bahwa rumah abadi adalah tempat yang amat mulia."

Kata-kata Khantsa tegas bagai pidato seorang pemimpin yang membakar semangat juang laskarnya. Pertempuran antara kaum muslimin dengan daulah Persia dalam peperangan Qasidiyah benar-benar berkobar dengan dahsyat, menelan beberapa tubuh para syuhada, termasuk keempat anak laki-laki Khantsa. Mereka bagai mengabaikan maut yang menyeringai di setiap sudut siap merobek-robek dadanya. Satu persatu putra Khantsa berguguran di medan Qasidiyah. Tinggalah ia sendirian. "Ya Allah, kini semua anakku telah tiada. Apalagi yang dapat kupersembahkan padaMu?"

Kesedihan atas kematian orang-orang yang dicintainya itu kadang melintas. Namun, sirnalah seketika kala ia ingat betapa mulia jika mati menegakkan kalimat Allah di bumiNya. Maka ia pun berucap, "Alhamdulillah, puji syukur kupanjatkan kepadaMu yang telah memuliakan diriku karena kesyahidan mereka."

Matahari menyelimuti keempat tubuh laki-laki belia, anak-anaknya. Ia pun tidak terhinggapi rasa bimbang atas duka cita ini. Sebab mengetahui benar bahwa sinar matahari yang lain akan terbit di ufuk surga Firdaus yang memancarkan segala keagungan.

Demikianlah, kilatan sinar indah diperlihatkan oleh seorang mar'ah shalihah bernama Khantsa. Dialah wanita yang dapat mewujudkan dirinya sebagai sosok ibu yang sejati. Peranannya sebagai ibu, pelahir pahlawan-pahlawan Islam telah tercatat dalam sejarah ummat.

Kisah teladan ini cukup menyindir gejala yang menyimpang di zaman ini. Banyak wanita yang enggan menerima tugas utamanya; sebagai ibu, pendidik anak-anaknya. Ada pula yang menerima tugas ini, namun mereka sering tidak becus memerankan profesi ini. Mungkin karena kurang mempersiapkan diri, atau mungkin, kurang motivasi dalam menseriusinya. Mungkin juga ada profesi lain yang lebih menjanjikan materi.

Khantsa adalah sosok ibu idaman yang patut diteladani. Ia tidak ingin perkasa seperti lelaki. Ia tidak menerjunkan diri sebagai lelaki, karena itu mengingkari fitrah dan tidak banyak bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakatnya. Ia lebih memilih peran sebagai ibu muslimah, pencetak mujahid-mujahid tangguh dan mumpuni di bidang jihadnya. Itulah yang sudah dilakukan Khantsa dengan cemerlang. Mengapa kita tidak berusaha mengikuti jejaknya?

Referensi : Majalah Ash-Shalihah No. 20/II, Desember 1993, Halaman 16-17.

http://ilarizky.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ila Rizky Nidiana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Ida Jubaidah | Guru
Terima kasih sudah diundang untuk memasuki KotaSantri.com. Blom apa-apa juga, perasaan mah udah betah.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0532 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels