Ali Bin Abi Thalib : "Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu itu penghukum (hakim) dan harta terhukum. Harta itu kurang apabila dibelanjakan, tapi ilmu bertambah apabila dibelanjakan."
Alamat Akun
http://junaedogawa.kotasantri.com
Bergabung
8 Februari 2009 pukul 13:00 WIB
Domisili
Surabaya, Madiun, Mamuju - Jawa Timur
Pekerjaan
pembantu
http://junaedogawa.blogspot.com
meklis@yahoo.com
yustio004@yahoo.com
yustio004@yahoo.com
Tulisan Junaedogawa Lainnya
"Tidak Tahu" yang Menunjukkan "Tahu"
15 Januari 2013 pukul 16:00 WIB
Kecelakaan
26 Februari 2011 pukul 12:00 WIB
Iman dan Takwa dikalikan dengan Allah
14 Desember 2010 pukul 18:22 WIB
Yusuf dan Saudara-saudaranya
31 Agustus 2010 pukul 20:55 WIB
Cincin Permata dan Cincin Timah
22 September 2009 pukul 20:10 WIB
Pelangi
Pelangi » Cermin

Kamis, 19 Februari 2009 pukul 05:22 WIB

Permainan

Penulis : Junaedogawa

Suatu saat, ada seorang Ibu menyuruh anaknya untuk mengantarkan makanan kepada Ayahnya yang sedang bekerja di sawah. Ibu tersebut kemudian berpesan kepada anaknya agar ia langsung menyusul ayahnya dengan membawa bekal makanan tersebut. Lalu, setelah semua siap, anak itu pun berangkat ke sawah dengan bungkusan makanan di tangannya.

Dalam perjalanan, ia melewati kawan-kawannya di sebuah tanah lapang yang sedang asyik bermain dan bercanda gurau. Dia kemudian berhenti sejenak untuk melihat kawan-kawannya yang sedang asyik bermain. "Seandainya aku tidak ditugasi untuk membawa makanan kepada ayahku di sawah, pasti aku ikut bermain bersama mereka," bisik anak itu kepada dirinya.

Tiba-tiba ia terhenyak dari lamunannya. Salah seorang kawannya menghampirinya dan mengajaknya untuk ikut bermain.

"Ayo, ikutlah bermain bersama kami!" bujuk kawannya.

"Maaf, saya sedang ditugasi ibu untuk mengantar makanan ke sawah. Jadi tidak bisa bermain bersama kalian saat ini."

"Alaah... Tidak apa-apa. Mainnya cuma sebentar saja. Setelah itu, kamu bisa mengantarkan bekal makanan tersebut kepada ayahmu di sawah," bujuk kawannya lagi.

"Ya, kalau perlu, kami akan mengantarmu ke sawah dan membantumu membawa makanan tersebut," kawan yang lain ikut membujuk.

Sejenak anak itu berfikir. "Betul juga. Kalau aku bermain hanya sebentar, kan tidak apa-apa. Toh, bekal ini untuk makan siang bapakku. Lagi pula, matahari belum terlalu tinggi," kata anak itu sambil melirik ke langit memastikan matahari benar-benar belum tinggi.

Akhirnya anak itu pun terbujuk rayuan kawan-kawannya untuk bermain. Kemudian, ia bergegas meletakkan makanan tersebut ke tempat yang aman dan segera bergabung dengan kawan-kawannya yang telah menuggu. Ia pun ikut bercanda dan tertawa dengan riangnya. Jika mereka telah puas dengan satu permainan, mereka pun segera berganti ke permainan yang lain yang lebih seru. Dan kembali mereka akan tertawa dengan riang gembira.

Adapun si anak tadi, ia menanggalkan bajunya karena basah oleh keringat, lalu ia kembali melanjutkan bermain bersama kawan-kawannya. Sehingga, karena begitu asyiknya mereka bermain, lupalah anak itu kepada tugas. Makanan yang seharusnya ia antarkan ke sawah sebagai makan siang ayahnya, ternyata tanpa sadar telah habis ia santap bersama kawan-kawannya.

Hari sudah semakin sore. Satu persatu kawan-kawannya pulang ke rumah masing-masing. Hingga tinggallah ia seorang diri. Tiba-tiba ia berlonjak sambil berseru, "Hah... Makan untuk ayahku."

Ia segera menuju ke tempat di mana ia meletakkan makanan tadi. Namun setibanya ia di tempat tersebut, ia tersadar kalau ternyata makanan yang ia bawa tadi telah habis ia santap bersama kawan-kawannya. Dia pun tertunduk lemas. Muncullah perasaan takut dan cemas akan mendapat marah dari kedua orangtuanya. Ingin ia ke sawah menyusul ayahnya, tentulah tidak mungkin, karena sudah pasti ayahnya telah pulang ke rumah. Lalu dengan rasa takut dan cemas, ia pun terpaksa pulang ke rumah.

Setibanya di rumah, dengan segala kepasrahan dan sambil menundukkan kepala, ia melangkah ke dalam rumah. Tak ayal, bencana yang ia takutkan akhirnya terjadi juga. Belum langkah pertamanya sempurna berpijak ke dalam rumah, ia sudah dikejutkan oleh bentakan dari ibunya. Kemudian berbagai macam pertanyaan menghujani telingannya. Ayahnya juga tidak tinggal diam. Dia pun turut memarahi anak tersebut.

Menghadapi serangan yang bertubi-tubi tersebut, sang anak hanya terdiam dan membisu. Dan saat mendapat satu hadiah jeweran dari ibunya pun, ia hanya tetap diam. Ia sadar bahwa hadiah itu pantas ia terima. Dan ia telah siap menerimanya sebagai penebus kesalahannya.

***

Cerita di atas merupakan tamsil kehidupan manusia yang disampaikan oleh penyair tersohor, Syeikh Jalaludin Ar-Rumi. Beliau mengatakan bahwa apa yang dialami anak tersebut tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia pada umumnya. Manusia lahir dengan titipan amanah dan bekal dari Allah SWT. Kemudian dengan berbagai macam petunjuk dari Al-Qur'an dan Al-Hadits, manusia dipercayakan untuk menjalankan amanah tersebut dengan sebaik-baiknya salah satunya adalah sebagai pemiimpin.

Akan tetapi, ketika seorang pemimpin lupa pada amanah yang diembannya, oleh karena terpengaruh asyiknya permainan dan senda gurau kursi kepemimpinan, maka ia pun mempermainkan kekuasaannya untuk meraup keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya. Memuaskan dirinya dengan berbagai kesenangan tanpa mempedulikan nasib rakyatnya. Sehingga, tatkala ia puas meraup keuntungan dari sebuah permainan, ia bergegas pada permaian yang lain. Tak peduli siapa yang menjadi korban permainannya. Entah itu saudara, sahabat, bahkan rakyat sekalipun. Semua hanya untuk memuaskan dirinya. Ia tanggalkan pakaian kepemimpinannya, sehingga ia lupa untuk menjaga, mengatur, serta mengayomi rakyatnya.

Pemimpin seperti inilah yang sangat tidak kita harapkan muncul pada pemilihan nanti. Bahkan, kehadirannnya sebagai CALON sudah seharusnya tidak kita hiraukan lagi keberadaannya. Karena hanya akan menjadi bumerang bagi rakyat. Untuk itu, jauh hari kita harus segera menetapkan calon pemimpin yang tepat. Yang tidak mudah terpengaruh kepada senda gurau permainan kepemimpinan. Sebab kita tentu turut prihatin jika akhir/setelah masa jabatannnya, pemimpin kita dirundung penyesalan dan diselimuti oleh kekhawatiran serta kecemasan akan pertanggungjawaban kelak, karena terlena oleh permainan dunia yang mengakibatkan lupa melaksanakan amanah yang telah diembankan kepadanya.

Wallahu a'lam bishshawab.

http://junaedogawa.blogspot.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Junaedogawa sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Indra | Full Time Jobseeker
Alhamdulillah KSC bagus banget, jadi pengen nyoba KSC Mobile-nya.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0500 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels