QS. Al-Hujuraat : 13 : "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Alamat Akun
http://at-than.kotasantri.com
Bergabung
12 November 2009 pukul 18:07 WIB
Domisili
Makassar - Sulawesi Selatan
Pekerjaan
Mahasiswa
Tulisan Rahmatan Lainnya
Cemara
25 Oktober 2013 pukul 22:00 WIB
September Ketujuh
14 Oktober 2013 pukul 22:00 WIB
Runtuhlah Bangsaku
11 Oktober 2013 pukul 22:00 WIB
Tanya Hatimu
27 September 2013 pukul 21:21 WIB
Pesan dari Surga
23 September 2013 pukul 21:21 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Senin, 4 November 2013 pukul 22:00 WIB

Segumpal Maaf Untuk Luna

Penulis : Rahmatan Idul

Kicau murai membuatku terjaga di awal pagi ini. Lalu kudapati diriku terpaku di depan sebuah cermin tua. Anehnya, tak kutemukan wajahku di sana. Kecuali sesosok makhluk mengerikan yang sedang tersenyum sambil menyembunyikan kedua taringnya yang berlumuran darah. Makhluk itu memang mengerikan, aku bahkan tak ingin berlama-lama menatapnya. Oh iya, mengapa tak kupecahkan saja cerminnya? Tapi apakah makhluk itu juga kan ikut pecah? Rasanya tidak, mungkin cerminnya kan menyerpih, namun makhluk jahat itu kan tetap di sana, jauh di sudut jiwaku.

Ya, tiba-tiba saja aku merasa menjadi orang terjahat di dunia. Seperti katamu, Luna, juga Cahaya, bahkan sisi lainku pun mengatakan hal yang sama bahwa aku lebih mengerikan dari yang kau dan semua orang bayangkan. Meskipun aku sama sekali tak pernah bermaksud melakukannya.

“Ibu, sejahat itukah aku?” tanyaku pada ibu yang akhirnya mengetahui semua kegalauanku. Maaf, Luna, aku terpaksa mencurahkan semua kesahku pada Ibu. “Kamu tak sejahat itu. Kamu cuma sedang khilaf. Tapi kekhilafan kecilmu ini bisa berakibat fatal. Mungkin saat ini kamu hanya menyakiti segelintir orang. Namun cepat atau lambat, kesakitan itu kan kembali kepadamu. Hingga saat itu tiba, ibu harap kamu telah siap menahan perihnya.”

Air mataku akhirnya tumpah. Ya, Luna, aku tak lagi malu menjadi seorang lelaki yang menangis. Ibu benar, naluri seorang Ibu memang selalu benar. Aku tahu Ibu sedang berbicara tentang karma yang sedang mengincar lemahku. Namun, sesakit apapun itu, aku telah siap menahan perihnya. Karena aku memilih jalan ini dengan semua lekukan tajam yang mungkin kan menghancurkan mimpi dan asaku.

Kini, semua sesalku hanya menyisakan segumpal maaf yang tak sempat terucapkan dengan kata. Aku hanya meminta satu hal kepadamu, Luna, hapuslah semua kisah, bayang, dan rasa tentangku dari hatimu. Karena kau pantas mendapatkan yang lebih baik.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rahmatan Idul sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Hamzah | Wiraswasta
KotaSantri.com, sejukkan hati!!! Peace ah. SaLam ukhuwwah wat hamba Allah se-alam dunia.
KotaSantri.com © 2002 - 2019
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0673 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels