HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
Alamat Akun
http://laut.kotasantri.com
Bergabung
25 Agustus 2009 pukul 18:36 WIB
Domisili
Pontianak - Kalimantan Barat
Pekerjaan
Swasta
Tulisan Yanti Lainnya
Kalian...
1 November 2012 pukul 10:45 WIB
Darah Kita dan Hidup Mereka
16 September 2012 pukul 17:00 WIB
Aku Hanya Ingin Shalat
24 Oktober 2010 pukul 18:50 WIB
Lowongan Kerja
12 September 2010 pukul 18:45 WIB
Sekeping Hati untuk Bunda
25 Juli 2010 pukul 18:55 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Kamis, 5 September 2013 pukul 21:00 WIB

Surat untuk Dia yang Tertidur Selamanya

Penulis : Yanti

Selamat malam, sobat.

Malam ini aku teringat padamu, entahlah kenapa.

Mungkin karena angin yang berhembus semilir dan dingin yang membuatku rindu akan kehangatan persahabatan kita. Apa kabarmu malam ini? Aku hanya berharap dinginnya bumi tempatmu terbaring saat ini dapat membuatmu tenang, hingga kau dapat melihat dengan jelas apa-apa yang terjadi pada negeri kita hari ini.

Seperti katamu teman, negeri ini adalah surganya para pejuang. Karena itu, kita harus mempersiapkan segalanya untuk menjadi bagian dari perubahan besar itu. Kau bilang padaku bahwa negeri kita adalah negeri yang merdeka, karena perjuangan dan pengorbanan para pemudanya. Oleh sebab itu, kita tak boleh berdiam diri apalagi menyerah dan hidup dengan menerima apa yang telah ada. Lalu dengan tersenyum dan mengusap pipiku, kau berkata, "Kita harus memberontak, kita harus melawan setiap ketidakadilan yang kita terima. Tidak seorang manusiapun yang tercipta untuk dianiaya dan menderita.”

Kau mengajarkanku untuk membuat perubahan yang lebih baik, sekecil apapun itu. "Pemikiran kita bisa mengubah dunia, dan tak akan ada yang mampu menghalangi kita untuk berpikir, tidak rasa lapar, tidak pula pucuk-pucuk senapan yang dingin. Ketakutan tidak akan pernah tercipta di jiwa-jiwa yang merdeka,“ katamu.

Oh ya. Satu lagi, aku ingat saat itu kau menawariku segelas susu hangat, padahal kau tahu benar, aku tak menyukai minuman berwarna putih itu. Namun lagi-lagi kau berkata, "Aku tahu kau tak menyukainya, tapi cobalah untuk merasakan kenikmatan dalam tiap tegukannya. Cobalah untuk meneguknya dengan membayangkan wajah-wajah kuli peternakan yang letih. Mereka yang terus saja memerah meskipun senja telah menggantung di ufuk barat. Mereka yang terus melakukannya demi memperjuangkan kelanjutan hidup buah hati dan kekasih tercinta, maka kau akan tahu betapa kenikmatan itu menyatu dengan ketulusan perjuangan dalam segelas susu hangat ini, meski tak jarang juga bercampur dengan keserakahan para tengkulak dan tuan tanah. Tapi sekali lagi cobalah. Lagi pula susu adalah minuman para Nabi, bukankah kau sangat mengagumi mereka?" ujarmu seraya memainkan ujung pensil yang merupakan kebiasaanmu.

Hmm... Sobat, sampai saat ini aku masih minum susu, bahkan setiap hari. Aku sendiri tak tahu, apakah itu karena aku mulai menyukai rasanya atau hanya seperti katamu, aku mencoba mencari kenikmatan dalam regukannya. Tapi yang jelas, jika dulu aku minum susu sambil membayangkan wajah-wajah kuli peternakan yang lelah, saat ini dan mungkin sampai seterusnya, aku meneguk minuman putih itu dengan mengingat wajahmu yang tersenyum padaku untuk terakhir kali, sebelum kau tertidur untuk selama-lamanya.

Saat ini aku baru mengerti maksud perkataanmu waktu itu, "Sore ini biarkan aku menggenggam tanganmu sejenak, karena esok mesti kau minta, aku takkan pernah menyentuhmu lagi. Bukan karena aku tak menyayangimu, tapi bumi tak akan mau berbagi denganmu. Dia hanya ingin aku tidur dalam pelukannya, tanpamu dan tanpa siapapun. Maaf ya, sayang."

Selamat malam, makhluk terindah, semoga kau senantiasa tersenyum di pelukan bumi. Dan terima kasih telah membuatku minum susu. Tanpamu mungkin sampai saat ini aku takkan pernah menyentuh segelas susu hangat. Sekali lagi, terima kasih.

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Yanti sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Lia Juliana | Staf Purchasing
My fav situs nih.
KotaSantri.com © 2002 - 2022
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0485 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels