Pelangi » Bingkai | Kamis, 1 November 2012 pukul 10:45 WIB

Kalian...

Penulis : Yanti

Menatap negeri nan asing ini, aku selalu mengingat wajah kalian. Wajah-wajah yang selalu menemaniku menghabiskan hariku. Di sini aku belajar banyak hal, terutama tentang betapa berartinya kalian untukku. Aku tak tahu artinya sepi, sebab aku selalu memiliki kalian di setiap perjalanan waktuku. Di sini, saat senyum kalian tak dapat kulihat, akupun masih dapat menikmati segudang perhatian dan cinta kalian yang lekat di setiap inchi tubuhku. Aku bahkan bisa mendengar dering kerinduan kalian yang terwujud dalam pesan-pesan singkat dan panggilan tak terjawab di handphone-ku. Betapa aku memiliki begitu banyak cinta dan perhatian dari orang-orang yang begitu baik, yang mengelilingiku dan ada di sampingku dalam menjalani hari-hari.

Di sini, di negeri nan asing ini, ketika aku menikmati kelembutan cinta kalian, aku justru sedang belajar mengeja makna kesepian dari seseorang yang lain. Seorang manusia yang benar-benar sendirian, sunyi dan menyepi. Lewat desah nafasnya, aku mencoba memahami makna sendiri yang selalu kalian hapus dalam kehidupanku. Aku mendapati betapa kesendirian itu mengiris perih. Waktu-waktu yang berjalan seperti pedang tumpul menyayat eksistensi manusia ssebagai makhluk social. Kesendirian itu menghimpit, memaksa seseorang untuk mengecil dan mengerut dalam dunia yang semakin melebar. Sendiri, seperti kegelapan yang tak memberi celah pada sinar untuk menjadi penunjuk jalan keluar.

Aku mendapati diriku ngeri dengan kenyataan itu. Kesendirian yang tak pernah kueja, tak pernah kukenal, kini menampakkan dirinya dalam sosok ringkih yang bersinar. Cahayanya mungkin menyilaukan untuk yang lain, tapi kesendirian telah membuat sosok ringkih itu tak mengenali sinarnya sendiri. Dia tetap hidup menyepi dalam kilauan cahaya yang tak dia kenali. Cahaya itu tak membuatnya keluar dari kegelapan sunyi, juga tak membuatnya hangat dalam kehidupannya yang kian membeku. Sosok itu tetap sendiri. Membangun benteng-benteng tebal dan sombong untuk memagari hati yang terlalu kebal karena begitu sering tersayat sunyi. Benteng-benteng itu tak juga melindunginya, hanya membuatnya kian menyepi dan terpuruk dalam dunia yang tak dapat dipahami. Dia sakit dan terluka, tapi tak mau keluar dari dunianya. Insting mempertahankan diri untuk tidak terluka lagi membuatnya kian menyepi, dan terus menyepi, hingga dia terjebak dalam benteng-benteng yang dibuatnya sendiri.

Aku mendapati diriku yang terpaku, tercengang dengan lantunan cerita yang menggema dalam sosok ringkih itu. Aku takut mengejanya semakin dalam, dan mendapati luka-luka yang semakin membesar dan berdarah dalam sosok itu. Aku benar-benar takut, jika kemudian hari aku mendapati diriku hanya bisa melihat kepedihannya, sementara aku berdiri di dunia yang berseberangan tanpa dapat mengulurkan tangan untuk membantunya berdiri tegak, hingga aku kemudian membelakanginya dan berlalu.

Tapi aku juga tak bisa berhenti, aku semakin tertarik untuk mengejanya semakin dalam, dan terus semakin jauh. Aku melihat lukanya yang menganga, melihat darah sunyi yang mengalir deras. Aku melihatnya dan semakin lama semakin banyak kesakitannya yang kusaksikan. Aku takut, takut sekali. Kupejamkan mataku, dan di saat itulah senyum kalian kembali tergambar jelas di antara banyak kenangan yang tersimpan di mataku. Wajah kalian lagi-lagi membuat hatiku basah oleh kerinduan, dan memaksa kesendirian untuk pergi meninggalkan jiwaku yang tak tersentuh sunyi.

Aku bersyukur pada Tuhan yang mengirim kalian dalam kehidupanku. Berterimakasih pada kalian yang menjadi kehangatan nafas dalam kebahagiaan dan hari-hariku. Aku bersyukur, karena memiliki kalian yang tak membiarkanku diracuni kesunyian, ditampar kesendirian dan terkurung dalam kesepian. Ah, betapa aku bersyukur memiliki kalian. Malam ini, aku menutup mataku untuk bermimpi tentang kita, menikmati setiap cinta yang kalian kirimkan hingga esok aku akan membuka mataku untuk menyambut pagi dengan indah. Beberapa hari lagi, aku tahu bahwa di suatu pagi yang cerah, seperti biasa aku akan mendapati wajah-wajah kalian begitu aku bangun dari tidurku. Mendapati kalian yang tersenyum usil ketika aku membuka mata dan kembali bercanda dalam ikatan kita yang indah. Ah, aku merindukan kalian.

KotaSantri.com 2002-2023