|
HR. Ahmad & Al Hakim : "Kemuliaan orang adalah agamanya, harga dirinya (kehormatannya) adalah akalnya, sedangkan ketinggian kedudukannya adalah akhlaknya.
"
|
|
|
http://rifarida.multiply.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
|
rifatulfarida@ymail.com |
|
rifatulfarida@ymail.com |





Kamis, 29 Maret 2012 pukul 11:15 WIB
Penulis : Rifatul Farida
Bersama lembayung senja, ketika kurebahkan jiwa. Berhenti. Menatap jejak-jejak terserak, dari langkah-langkah gontai. Benarkah adaku sekarang? Tak di ilusi yang membingkai banyak keringanan berpikir, kemudian tinggalkan semua kepelikan dengan senyum abai. Dan kini, malam serasa lebih pekat.
Kudesahkan nafas begitu saja, tanpa makna apapun, mungkin. Karena semua kelewat biasa, dari akumulasi pengulangan sebelumnya dan sebelumnya.
Cinta, mengapa begitu susah menguraimu, dari sudut pandang manusia bumi, yang awam, yang biasa. Apakah memang harus di ma'rifat itu? Sementara di sana menjadi seperti aneh dan terasing. Seolah di dimensi lain yang tak terjangkau sekitar. Dan kenapa harus begitu? Sebab ini menjadi sulit untuk dijelaskan pada mereka, yang kusayangi, yang kuingini kebaikannya menyembul dari pusat-pusat keimanan.
Bisakah seluruh ruhku di sini? Ketika ragaku menyungging senyum, menguntaikan kata dan menjelmakan hikmah dari kebaikanNya. Kemudian, kuangkasakan semua kefitrahan manusia, mengabarkan ke semua penjuru langit, tentang cerita khalifah fil ard yang pernah tertanyakan oleh malaikat.
Aku tak sendiri. Aku tak ingin sendiri. Mengikut laku sang Nabi SAW yang tetap kembali mengajak selepas Isra' Mi'raj. Padahal decakkan kekaguman kala itu mengalahkan semua rasa nikmat, nikmat dalam keberma'rifatan kepadaNya. Ya, beliau SAW kembali untuk mengajak, membersamai, dan menunggu. Meski tahu tak mudah, meski di kemudiannya banyak menahan letupan sakit ditolak dan dicaci, bahkan dikhianati. Namun tak membuatnya menjadi kebal rasa pada sesama, kemudian memilih menjadi sufi, dan terfokus vertikal cinta itu tanpa ada kecenderungan horisontal.
Aku tak sendiri. Aku tak ingin sendiri. Maka biarkan saja semua peluh. Tak usah pungkiri semua rasa. Kendalikan dan jalani saja. Kakiku menapak di bumi. Menjadi khalifah fil ard atas titahNya seperti beliau SAW. Bukan yang lain. Semoga!
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Rifatul Farida sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.