|
HR. At-Tirmidzi : "Ya Allah, sesungguhnya aku mohon perlindungan kepada Engkau dari hati yang tidak pernah tunduk, dari do'a yang tidak didengar, dari jiwa (nafsu) yang tidak pernah merasa puas, dan dari ilmu yang tidak bermanfaat."
|
|
|
http://ridhakemuning.blogspot.com |
|
|
ridhakemuning |





Senin, 12 September 2011 pukul 12:00 WIB
Penulis : Nurfaridah
Apa sih arti sebenarnya dari gejolak ini, aku sendiri kurang mampu menerjemahkan layaknya seorang penulis terkenal. Yang aku tahu, gejolak itu awal sebuah masalah yang membuat hidup sedikit berombak dan sulit untuk dilewati, atau mungkin aku terlalu berlebihan?
"Hidup adalah rangkaian masalah," begitulah kata bapak dosenku kala itu. "Setiap masalah harus dihadapi." Gejolak ada di setiap masa, baik masa kanak-kanak, remaja, dalam sebuah pernikahan bahkan sampai usia senjapun gejolak akan tetap ada. Dan gejolak itu ada saat ini.
Kadang aku iri dengan ucapan ustadz Mansyur yang ahli sedekah itu. Pernah beliau tuturkan saat pengajiannya yang membahas tentang sebuah keluarga yang tajir dan sakinah, beliau ceritakan bahwa keluarganya dalam sembilan tahun menapaki hari, belum pernah ada gejolak.
Berbeda pendapat adalah warna dunia. Semakin banyak perbedaan pendapat, maka dunia pun menjadi berwarna-warni. Indah bukan? Bahkan nabi Muhammad SAW mengatakan dalam haditsnya, ”Perbedaan pendapat dari Ummatku adalah Rahmat.“ Sayangnya hadits ini dalah hadits yang dha'if/lemah, sehingga tidak dapat dijadikan pegangan yang kuat.
Dan biasanya gejolak-gejolak itu akan hadir dengan didahului oleh perbedaan pendapat. Sedangkan pendapat-pendapat itu sesuai dengan ilmu dan pengalaman hidup setiap orang. Tak usahlah dalam lingkup yang besar. Dalam sebuah keluarga saja yang hanya terdiri dari beberapa orang, sang gejolak juga akan singgah-menyapa dan menyalami mereka satu persatu, malah kadang ia meminta seorang darinya menemaninya sejenak minum teh di teras rumah. Ini pertanda yang tak baik! Tapi itulah, kadang baik menurut kita, namun menjadi petaka bagi orang lain. "Hidup adalah pilihan," begitu kata suamiku. Lantas apakah gejolak juga menjadi pilihan? Kurasa tidak! Tapi jika aku dipaksa untuk memilih, aku akan memilih, karena hidup adalah pilihan.
Gejolak, aku telah menerimamu sebagai tamuku belakangan ini. Aku tak ingin menyambut dan menyalamimu, apalagi minum teh hangat bersamamu! Karena itu membuat hatiku sakit. Tapi aku tak punya pilihan, engkau lebih dulu datang sebelum aku menutup pintu rumahku.
"Baiklah, aku temanimu minum teh, tapi kuharap engkau segera meninggalkan aku, keluargaku, dan rumahku. Tapi jangan sekali-kali kau memintaku menemanimu menuju pasar masalah. Cukup bagiku kau datang dan menyeruput teh bersamaku. Pergilah! Pergilah, wahai gejolak! Biarkan tamu damai menyambangi aku, menginap di rumahku, dan memberikan lampu senter kebahagiaan yang ia miliki untuk aku dan keluargaku, hingga malam yang gulita menjadi terang laksana siang."
Hidup adalah masalah dan pilihan dari serpihan setiap masalah.
http://ridhakemuning.blogspot.com
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Nurfaridah sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.