Sirah Umar, Ibnu Abdil Hakam : "Aku akan duduk di sebuah tempat yang tak kuberikan sedikit pun tempat untuk syaitan."
Alamat Akun
http://nafiadina.kotasantri.com
Bergabung
30 September 2010 pukul 03:38 WIB
Domisili
Jakarta Pusat - DKI Jakarta
Pekerjaan
Sahaya Alloh
Seorang muslimah yang mencintai Allah Azza wa Jalla sebagai Tuhannya,Rasulullah sebagai suri tauladannya,ayah-bunda sebagai permata jiwanya,saudara-saudari sebagai mutiara hatinya,sahabat-sahabat sebagai pelangi kehidupannya,dan saudara/saudari di jalan ALLOH sebagai kekuatan dakwah dijalanNYA..
http://nafiadina.multiply.com
fitrianinaa@yahoo.co.id
http://facebook.com/nafiadina
Tulisan Nina Lainnya
Katakanlah : Cukup Bagiku Allah
26 Oktober 2010 pukul 18:55 WIB
Bahagiaku di Wajah Peri-Peri Kecil
17 Oktober 2010 pukul 15:45 WIB
Mercusuar Ukhuwah, Tinggi Menggapai Syurga
12 Oktober 2010 pukul 18:00 WIB
Sebingkis Cinta untuk Sahabat di Jalan Allah
6 Oktober 2010 pukul 20:45 WIB
Pelangi
Pelangi » Bingkai

Kamis, 28 Oktober 2010 pukul 18:40 WIB

Syukur dan Malu Jiwaku

Penulis : nina fitria

Subhanallah... Mahasuci Allah atas segala penciptaan Makhluq-NYA, penciptaan samudera langit sebagai atap kehidupan dunia, keindahan penciptaan hamparan bumi dengan segala keagungan-MU, serta untuk setiap karunia-MU yang tak terhitung bilangan jemari, yang tersyukuri ataupun yang tak mampu jiwa ini syukuri karena fakirnya ilmu dan amal hamba. Astaghfirullahal adzim.

Yang akan kukisahkan, merupakan sketsa indah di suatu malamku, sketsa yang menghias catatan penghujung hari dengan sangat luarbiasa membuatku "MALU".

Selaksa syukur jiwa membahana ruang kehidupanku, atas anugerah Rabbul Izzati atas hadirnya titipan Ilahi melalui adik kecil laki-lakiku.
Adik yang menjadi tumpuan hatiku, asa yang meninggi jiwaku, paras yang menggantung selalu di munajatku, sebuah harap Allah menjaganya, dan menjadikannya laskar Allah, satu dari barisan pejuang Allah, yang jiwanya PENUH CINTA pada Allah semata, cinta karena Allah. Allahumma amin.

Adikku layaknya anak laki-laki seumurannya, penuh canda tawa, kenakalan khas kanak-kanak. Semua tentangnya, menjadikan warna-warni kehidupanku. Bahkan, jika jauh sejeda saja dari pangeran hatiku ini, sulitku untuk bisa terlepas dari belenggu rindu. Dindaku, dia adalah bagian "ruh jiwaku".

Seperti biasa, malam itu, aku menemani adikku di istirahat malamnya. Si kecil (yang beranjak besar), senang sekali jika istirahat malamnya ditemani dengan cerita-cerita penghantar tidur, aku dan kakakku bergantian berbagi kisah atau hikmah di hampir setiap malamnya.
Kami suka menemaninya dengan kisah-kisah perjuangan Rasulullah, dengan segala kebesaran cinta-NYA kepada Allah (yang Allah pun mencintainya), dan kisah-kisah para sahabat, para salifush shalih, atau kisah sederhana yang sarat hikmah.

Adikku, adalah anak kecil yang sangat "kritis", banyak sekali lontaran pertanyaan, dan rasa penasaran membanjiri, kala bercerita dengannya. Tetapi tidak untuk malam itu, wajah tampannya, terpaku dalam sunyi. Malam itu aku mengingatkannya untuk berdo'a dan menutup hari dengan barisan kata, "Kita, dapat meninggal kapan saja, dek, dan keadaan yang terbaik seorang hamba adalah ketika meninggalnya dalam keadaan banyak mengingat Allah."

Selepas aku berkata demikian, suasana hening. Kufikir adikku sudah terlelap, tiba-tiba saja dia terduduk, dan meminta lampu ruangan yang kuredupkan untuk kunyalakan.

"Unina, tolong nyalain lampunya sebentar ya." Aku pun sontak bingung, aku bergegas menyalakan lampu, kupandang wajahnya, rona parasnya mulai memerah, bolamata terhias bulir-bulir kaca. "Ada apa dengan adikku?" seribu tanya menyergap hati.

Kubelai rambutnya lembut, dan kutanyakan ada apa padanya.
Suaranya serak, parau, pelan menggulir kata yang menghanyutkanku dalam haru.

"Unina, Naufal mau minta maaf sama Unina. Naufal banyak salah sama Unina. Uni mau maafin Naufal kan?" suaranya terbata, seiring airmatanya yang menderas.

"Salah apa, dek?"

Sesegukkan wajah nya terlihat kini, "Naufal sering membuat Unina marah. Suka membantah."

"Adek kenapa tiba-tiba meminta maaf, dek?" wajahku menahan keharuan yang semakin bertambah.

"Naufal takut Unina, kalau tiba-tiba besok hari kiamat, tapi dosa Naufal banyak banget Unina."

Busss!!! Hatiku berdebam kencang mendengar ucapan adikku. Kutatap lamat-lamat wajahnya yang mulai sembab dengan airmata.

"Maafin dosa-dosa Naufal ya, Unina. Naufal menyesal. Naufal juga banyak salah sama Unineni, Uni Adek, ayah, dan juga mama. Naufal takut kalau dosa naufal tidak diikhlasin, kan kata Unina dosa seberat zarrah pun akan dibalas Allah," gemetar tubuhnya tertangkap bolamataku.

Sungai membendung di kelopak mataku, kutahan demi tidak membuatnya bertambah bersedih. Kuraih kepala adikku dan kubenamkan di dekapanku, "Insya Allah dimaafkan, dek, insya Allah." Aku pun nyaris kehilangan kata-kata. Dahsyat membaur buncah rasa di jiwa, syukur itu, haru biru itu, MALU itu.

Ya Allah, ya Allah, ya Allah, jadikan dinda yang sangat kusayang karena-MU ini, satu dari para pecinta sejati-MU kelak. Jagakanlah hatinya selalu penuh harap dan takut pada-MU.

Aku menatap jiwaku, ia tertunduk, tergugu. Ia malu, jiwa seorang kanak-kanak dalam keputihan jiwa yang belumlah menanggung dosa-dosanya, mampu merasakan ketakutan yang sangat akan dosa yang termiliki, namun seberapa seringkah jiwai ini, ya Allah, yang telah menginjak puluh kedua dalam hidupku, menangisi dosa-dosaku? Rabbi Faghfirli.

"Unina, bantu Naufal untuk berubah, do'ain Naufal ya." Aku mengangguk dalam, hatiku berselimutkan embun bahagia, dan aku menangis karena rasa syukurku, rasa maluku, rasa maluku.

Adikku, malam itu, dirimu memberi sebuah "sentilan" dahsyat untuk jiwa Unindamu ini. Unina bersyukur atas pertalian darah dan cinta yang Allah sambungkan dengan-MU, mutiara jiwaku.

Allah, di saat hamba nyaris terkulai dalam pengharapan, bergemetar dalam kelu kehidupan, mulai terlunglai dalam tahan ujian kesabaran, Engkau jadikan dinda tumpuan hatiku, pengobat hatiku, penyemangat jiwaku untuk TEGUHKAN iman di dalam jiwa ini, sebagai wasilah cinta-MU. Subhanallah.

Mata air kebahagiaan mengaliri sketsa hidupku, bersama wajah-wajah cinta yang tanamkan selaksa cinta, di taman jiwa, bersemi cintaku karena-MU untuk wajah-wajah cinta.

Kukecup kening adikku malam itu, kudo'akan keberkahan untuknya, dan adikku pun mulai pejamkan mata sesaat setelah mengutarakan hujaman kalimat keajaiban bagiku.

Aku perlahan beranjak dari pembaringan, aku bersandar di sisi tempat tidur, tepat terduduk di atas kepala adikku yang terlelap, airmata deras menemani MALUku.

Allah, ampuni hamba, ampuni hamba, ampuni hamba. Bukakan pintu taubat-MU, ya Allah, bukakan nuraniku jika ia tertulikan dunia, sucikan jika ia bermandikan nista, jangan jadikan sebentar singgah di dunia, merugikanku selamanya, menjauhkanku dari pelukkan rahmat-MU. Ridhai hamba dan keluarga hamba, ya Allah. Perkenankan kuretas mimpi tertinggi jiwa ini, ya Rabbi, perkenankan hamba dan keluarga hamba, bersua Engkau kelak di Syurga-MU. Jangan sibukkan kami dengan dunia, ya Allah, hingga akhirat hanya menjadi pintu kesiksaan abadi. Na'udzubillahi min dzalik. Jangan palingkan hati kami dari-MU, Al-Hadii, pintu hidayah-MU. Bukakan untuk kami selalu, ya Allah.

Duhai Rabbi, sumber kuat tenteram jiwaku, hamba malu, hamba malu, hamba amat malu pada-MU. Dan Hamba inginkan mengobati malu ini, dengan jiwa kembali sesak akan cinta-MU, cinta karena-MU. Perkenankan, ya Rabbi. istajib du’ana ya Al- Mujiib.

http://nafiadina.multiply.com

Suka

Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan nina fitria sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.

Fariz Aziz | Mahasiswa
Alhamdulillah KotaSantri.com masih ada. Udah 2 tahun nich gak browsing web ini.
KotaSantri.com © 2002 - 2021
Iklan  •  Jejaring  •  Kontak  •  Kru  •  Penulis  •  Profil  •  Sangkalan  •  Santri Peduli  •  Testimoni

Pemuatan Halaman dalam 0.0558 Detik

Tampilan Terbaik dengan Menggunakan Mozilla Firefox Versi 3.0.5 dan Resolusi 1024 x 768 Pixels