|
HR. Ibnu Majah dan Abi Ad-Dunya : "Secerdik-cerdik manusia ialah orang yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling gigih membuat persiapan dalam menghadapi kematian itu."
|





Kamis, 2 September 2010 pukul 18:05 WIB
Penulis : Pretty Kurnia
Baru menyadari, kalau kekonyolan itu bisa saja terjadi. Bukankah suatu kekonyolan namanya, apabila salah dalam menafsirkan maksud, salah dalam menangkap maksud, ataukah memang benar-benar tidak mengerti apa yang dimaksudkan? Padahal apa yang dimaksud ternyata sama, tujuan yang ingin diraih pun sebenarnya sama. Hanya karena perbedaan paradigma, yang kemudian menjadi perdebatan tak berujung.
Kesalahan yang semestinya tak perlu terjadi bila ada mediator. Tapi inikah hidup? Yang senantiasa bergerak dari hikmah ke hikmah. Belajar dari kesalahan, untuk kemudian bangkit, belajar memperbaiki kesalahan itu, dan menerimanya dengan lapang dada. Mengambilnya sebagai pelajaran berharga dan berharap tidak mengulangi kesalahan yang sama untuk kedua kalinya, atau bahkan untuk selamanya. Karena keledai pun tak ingin jatuh pada lubang yang sama.
Meski pintu itu masih terbuka, mungkinkah ada kesempatan kedua untuk memperbaikinya, manakala sang waktu telah menjelma menjadi pedang tajam yang siap menebas siapa saja yang masih berdiri di sana, menunggu tanpa kepastian. Maka biarkanlah "The invisible Hand" yang akan mengaturnya.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Pretty Kurnia sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.