|
HR. At-Tirmidzi : "Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambil warisan tersebut, ia telah mengambil bagian yang banyak."
|
|
|
http://ilarizky.blogspot.com |
|
http://facebook.com/ila.rizky |





Kamis, 22 Juli 2010 pukul 17:25 WIB
Penulis : Ila Rizky Nidiana
“Tapi kamu tahu apa hukumnya melajang…”
Aku terdiam, masih terdiam. Kuusap pelan kedua belah pipiku yang basah oleh air mata sejak setengah jam tadi. "Aku tak tahu, Bunda," isakku menangis dalam dekapannya. Aku tak tahu. Lebih tepatnya tak ingin tahu. Aku jelas tahu hukumnya, menikah kata rasul adalah sunnah. Tak mengikuti sunnah, berarti mengingkari hukumNya. Menolak fitrah! Aku jelas tahu, amat sangat tahu. Tapi trauma yang membelenggu jiwaku masih belum bisa kuhapus. Air mata ini tak seberapa. Aku sering menangis diam-diam. Tak ada seorang pun yang tahu. Hanya dalam hati.
Lalu, kenapa hati ini masih saja belum rela. Masih saja belum luluh.
"Allah, aku tak ingin menikah!" rutukku dalam hati.
Sekali pun tidak!
Lelaki yang kutemui dua bulan lalu itu justru membawaku ke dalam kehidupan mahapedih yang membuat jiwaku pilu. Andai saja kita tak pernah bertemu. Andai saja waktu bisa berbalik lagi. Andai saja ...
“Sekar, masih banyak mereka yang menjadikan Rasulullah sebagai Uswah. Masih ada yang berharap diri mereka selayak Abu Bakar. Selalu ada Utsman, sosok lembut yang patut ditiru. Percayalah, putriku sayang, masih ada yang berharap diri mereka menjadi pria baik. Baik secara vertikal, juga horisontal. Allah Mahalembut, semoga Allah melembutkan hatimu, nak.”
Sesaat aku mengangguk tanda setuju. Ya, aku masih berusaha, Bunda. Masih berusaha percaya. Semoga kepercayaanku padaNya tak pernah sia-sia.
Dipersilahkan untuk menyebarkan tulisan ini dalam bentuk apa pun, asalkan tetap menjaga kode etik dengan mencantumkan Ila Rizky Nidiana sebagai penulisnya dan KotaSantri.com sebagai sumbernya.
jejak-jejak yang terserak
adalah buku pertama saya yang berisi refleksi sederhana atas apa yang dilihat mata, didengar telinga, diucapkan lisan, dirasakan hati dalam pernak-pernik kehidupan.
dituangkan dengan bahasa yang sederhana, mengalir dan mudah dimengerti.